-->

Tragedi Sriwijaya Air SJ 182, Antara Takdir dan Upaya Pencegahan Rasional

Penyebab kecelakaan pesawat terbang memang tidak tunggal. Tetapi bila semua telah dilakukan maksimal, barulah kita bicara takdir.

 

(ilustrasi pesawat,pixabay.com)

Kecelakaan Pesawat Terbang dan Upaya Pencegahan Rasional, oleh Suhunan Situmorang

Dalam karir saya sebagai praktisi hukum, ada dua perusahaan airlines yang pernah saya tangani. Satu sudah tewas, yang satu lagi malah jadi nomor satu di negara ini.

Meski tidak menangani urusan teknis dan finansial, saya tahu betapa riskan usaha penerbangan komersil reguler. Biaya amat tinggi dan rentan merugi.

Sekitar April 2020 saat wabah Corona mulai menyerang hampir semua negara, saya prediksikan (di status) tidak akan cepat berakhir.

Dampaknya pun akan berat ke sektor perekonomian. Dunia usaha akan melesu, banyak perusahaan tutup, pemutusan hubungan kerja akan terus terjadi.

Saya tak suka prediksi tsb, tetapi jadi kenyataan.

Akibat Covid-19 (nama virus resmi) telah memaksa pengelola usaha airlines dan yang terkait (seperti usaha forwarding-cargo) di berbagai negara memutuskan hubungan kerja (atau merumahkan sementara) dengan karyawan demi efisiensi karena jumlah penerbangan sepi, penghasilan pun merosot drastis.

Di Indonesia, bahkan sebagian pilot-copilot, ada yang jadi sopir taksi online, dagang kecil-kecilan, selain masih menganggur. Bisa dibayangkan awak kabin lain dan karyawan non kabin (pekerja di bandara).

Bila Covid-19 ternyata memang tak bisa dihentikan penyebarannya dalam hitungan tahun (jangan pernah menganggap virus ini bisa hilang dari muka bumi ini kendati vaksin sudah ditemukan dan digunakan) dan syarat naik pesawat, penumpang harus melakukan tes sejenis Swab dengan biaya yang tak kecil, pula pembatasan mobilitas manusia dilakukan tempo-tempo (PSBB, lockdown partial, dll), maka bisalah dibayangkan dampaknya ke dunia airlines.

Perlu pula diketahui sebagai penambah pertimbangan, hampir semua perusahaan airlines (domestik) berutang ke lembaga-lembaga keuangan (internasional maupun dalam negeri), bank atau leasing, yang harus membayar kewajiban--selain asuransi.

Para praktisi keuangan tak sulit menghitung dan membaca jeroan rata-rata perusahaan airlines sekarang. Krisis. Bahkan kewajiban membayar hak karyawan yang di-PHK pun kesulitan.

Perawatan pesawat (maintenance) merupakan kewajiban sekaligus yang membebani keuangan perusahaan penerbangan. Sementara, bila diirit, berisiko tinggi bagi keselamatan awak pesawat dan penumpang.

Pendeknya, saat ini dan sampai keadaan dunia mendekati normal (yang entah sampai kapan), akibat Covid-19 membuat keuangan sektor angkutan udara dan turunannya berdarah-darah.

Sebagai warganegara, saya berharap Presiden Jokowi bersama menteri-menteri terkait memberi ekstra perhatian, terutama agar keselamatan tetap jadi prioritas.

Kecelakaan alat transportasi yang mengakibatkan kematian bagi jiwa-jiwa yang amat dicintai orang-orang dekat mereka, sungguh konyol bila selalu ditanggapi "takdir," "kehendak Tuhan," dan sejenis.

Upaya rasional yang maksimal seharusnya bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko. Pemerintahlah yang paling bertanggung jawab karena memiliki otoritas atau wewenang. Jalankanlah kekuasaan untuk melindungi masyarakat, antara lain, dengan ketegasan mengawasi pesawat yang masih layak dioperasikan. Jangan hanya setelah terjadi kecelakaan.

Penyebab kecelakaan pesawat terbang memang tidak tunggal. Tetapi bila semua telah dilakukan maksimal, barulah kita bicara takdir.

 Baca Juga: Tekhnik Analisa

You may like these posts