-->

Sepenggal kisah KM Tampomas

Catatan perantauan orang Batak (dan masyarakat Sumut) ke Pulau Jawa, khususnya Jakarta, tak bisa dipisahkan dari KM Tampomas (1). Kapal pengganti KM K

 KM Tampomas dan  Kisah Para Perantau

Catatan perantauan orang Batak (dan masyarakat Sumut) ke Pulau Jawa, khususnya Jakarta, tak bisa dipisahkan dari KM Tampomas (1). Kapal pengganti KM Koanmaru (sila koreksi penulisan nama bila salah) ini melayari Belawan-Tanjung Priok PP akhir dasawarsa 60-an sampai awal 80-an. 


Kapal tua yang tak mudah ditemukan keterangan mengenai asal mulanya, dahulu sangat berjasa bagi orang Batak perantau. Selain KM Koanmaru, KM Tampomas (1) merupakan andalan utama orang Sumut wahana menuju Pulau Jawa. 


Untuk ukuran sekarang, kapal reot ini sebenarnya tak layak ditumpangi dua ribuan penumpang mengarungi lautan sepanjang Selat Malaka-Teluk Jakarta, selama tiga hari dua malam. Tetapi karena tak ada pilihan, ia menjadi andalan--sebab pesawat terbang hanya untuk yang punya banyak uang. 


Tak banyak orang Batak generasi penerus (khususnya yang lahir di Jabodetabek) tahu jasa kapal ini, andalan orangtua dan bahkan kakek nenek mereka dulu mengawali perantauan. 



Sampai dekade 80-an, arus perantau dari Sumut ke Jakarta tetap mengalir. Terbukanya jalan lintas Sumatra dengan aktifnya pelabuhan fery Merak-Bakaheuni kian memudahkan proses migrasi. Perantauan ke Pulau Jawa (termasuk meneruskan kuliah bagi orang belia tamatan SMA), tak jarang dimodali kenekatan belaka. 


Tanpa modal (uang dan keahlian) selain biaya hidup seadanya untuk beberapa bulan. Tak sedikit pula yang membawa istri dan anak, padahal di Jakarta belum tahu pasti mau tinggal di mana. 


Semangat merantau, pedihnya kemiskinan, kendati modal minim, harus diakui, masa itu dianggap jalan terakhir untuk mengubah nasib (baca: kemiskinan). 



Sampai awal 70-an, orang Batak di Jakarta masih terbilang sedikit. Mereka merupakan "generasi kapal Koanmaru dan Tampomas pemula" yang sudah merintis urbanisasi ke Jawa sejak pertengahan 60-an. Maka, rata-rata mereka berekonomi paspasan kalau tak miskin. Bisa dihitung jari orang makmur walau sejak dekade 50-an telah muncul segelintir orang Batak kaya di Jakarta. 


Baca juga: Kampung Halaman Ditinggalkan Agar Dirindukan


Para perantau itu umumnya menyukai wilayah Tanjung Priok, Cilincing, Pulomas, Cawang-Cililitan, Kampung Melayu, Karet. Di wilayah-wilayah tersebut orang Batak membentuk semacam ghetto (kantong-kantong hunian). 


Awalnya mereka menyewa rumah-rumah sederhana milik orang Betawi, bahkan banyak mirip gubuk, atau membangun hunian darurat di "tanah garapan." Tanah garapan kemudian mereka permanenkan dengan membeli dari orang yang mengaku pemilik atau permainan pegawai kecamatan dan kelurahan. 


Bagi perantau yang memiliki ijazah SMA, banyak yang melamar kantor-kantor pemerintah dan sambil kuliah. Ada pula yang meneruskan kuliah sambil mengasong, jualan di terminal, dan kenek/sopir angkutan umum. Modal ijazah mereka lamar departemen-departemen pemerintah atau BUMN/D yang belum seketat sekarang persaingan. 


Sektor informal merupakan andalan para perantau karena biaya kuliah tidak mudah dipenuhi--apalagi tak sedikit usia mereka telah 40-an  tahun saat memulai perantauan. Berdagang di pasar becek, kenek/sopir, petambal ban, penjual koran-majalah, termasuk yang banyak dikerjakan para perantau--demi sumber penghasilan. 



Orang Batak perantau termasuk cepat mengubah status kemiskinan menjadi berkecukupan, dan bahkan makmur. PNS dan karyawan BUMN/D merupakan idaman mereka umumnya. Banyak pula yang jadi guru, tenaga kesehatan, dan kontraktor. 


Catatan atau histori perantauan orang Batak ke Jakarta (kemudian meluas ke wilayah pinggiran dan Jabar), sesungguhnya menarik ditulis lebih lengkap. Setidaknya, patut dibaca generasi anak dan cucu para perantau itu: supaya tahu proses perantauan orangtua atau kakek-nenek mereka yang berdampak ke kehidupan mereka sekarang dan nanti. 


Mereka pun perlu tahu betapa berat perjuangan para pendahulu mereka, tinggal di bedeng-bedeng atau gubuk darurat beberapa tahun sebelum mampu membangun hunian yang lebih layak atau menyicil rumah Perumnas. 



Dan, jasa KM Tampomas tentulah layak diingat meski pun kondisi kapal tua ini berikut pelayanan bagi penumpang selama belasan tahun di bawah standar kelayakan--bahkan mirip kapal pembawa pengungsi dari Bangladesh. 


Ruang dek bisa dijejali ribuan penumpang, toilet baunya bisa bikin mampus, penumpang berjejalan tidur dengan tikar atau tenda plastik di atas palka kapal. Dapur umum tak lebih layak dari dapur penjara sekarang, lauknya ikan tongkol yang hambar rasa dan sayur rebus yang dimasak massif serta nasi yang amat keras. Itulah dahulu menu andalan bagi perantau era 60-an sampai awal 80-an. 


Bila hujan dan angin bertiup kencang, tampias membasahi para penumpang yang tidur di palka dek bak ikan pindang. Bila siang terik atau malam sumuk udara,  pengap dan gerah, membuat anak-anak kecil kerap rewel dan menangis. 


Bisa jadi anak yang menangis atau remaja yang lapar di tengah laut itu bagian dari diri orang-orang Jakarta sekarang. Juga, bagian dari para orang dewasa yang dahulu berjuang keras dengan melakukan apa saja untuk membawa beras ke rumah darurat, untuk menafkahi istri yang lelah dan anak yang mengharap makanan; yang acap menonton tv hitam putih milik tetangga dengan cara mengintip dari nako jendela.   


Sesekali, perlulah direkonstruksi walau dalam ruang imajinasi: bahwa kemakmuran yang dinikmati sekarang memiliki histori tersendiri, dan KM Tampomas (serta wahana lain) berperan penting kendati sarat cerita derita.

By Suhunan Situmorang


You may like these posts

5 comments

  1. Himawan Sant
    Halo ombro Situmorang.
    Horaaas!!.

    Kapal Tampomas banyak berjasa mengangkut penumpang antar pulau, tapi kenapa tidak diperbaiki fasilitasnya yang mulai menua, ya ?.
    Semestinya diperbaharui untuk keselamatan semua.

    Ingat nama kapal Tampomas, kira2 beberapa tahun yang lalu ada kapal Tampomas yang tenggelam kalau ngga salah.
    Betul ngga ?.
  2. Parpining Media™
    Horas juga Om Himawan..

    Mungkin zaman now sudah lebih enak menggunakan pesawat dan juga mobil dgn adanya jalan tol, sehingga kapal2 tsb tidak lagi difokuskan..

    Salam
  3. Tanza Erlambang - Sawan Fibriosis
    Tenggelamnya Tampomas adalah tragedi... semoga kita bisa dapat pelajaran di sini.

    Ya, perantau yang berperan besar memajukan Jakarta.

    # Terima kasih atas tulisannya. Sangat bermanfaat
  4. Kathy Leonia
    very good written:)
  5. Mulya
    Masih ingat lagunya iwan fals tentang tampomas , liriknya membuat luka lama terbuka