Pantun atau Umpasa Orang Batak dan artinya

 Pantun adalah salah satu ciri khas daerah-daerah di Indonesia termasuk juga suku Batak, dibawah ini adalah beberapa contoh umpasa batak beserta artinya tentang kehidupan, umpasa untuk pesta nikah, umpasa lucu, dll

(Pemandangan daerah Samosir) 

Pantun hangoluan, tois hamagoan!

Artinya : Sikap hormat dan ramah mendatangkan kebaikan, ceroboh / sombong (tidak tahu adat) mendatangkan malapetaka / kematian.


Hansit do na halion jambar juhut,
alai hansitan dope na so dapotan jambar hata.

Artinya : Menyakitkan kalau tidak mendapat bagian dalam pembagian daging, tetapi lebih menyakitkan kalau tidak mendapat kesempatan berbicara dalam sebuah acara / upacara. Ungkapan ini menunjukkan betapa penting dan tingginya nilai berbicara dalam budaya Batak.


Nunga bosur soala ni mangan,
Mahap soala ni minum.
Bosur ala ni sitaonon,
Mahap ala ni sidangolon.

Artinya : Sudah kenyang bukan karena makan, puas bukan karena minum. Kenyang karena penderitaan, puas karena kesedihan. Pantun ini mengungkapkan penderitaan yang dialami seseorang. Penderitaan sering dianggap sebagai takdir. Takdir ditentukan oleh Debata Mula Jadi Na Bolon (Allah Sang Pencipta) harus diterima dengan pasrah saja. Ada orang yang menyerah saja pada penderitaan dan menjadi apatis. Namun untuk sebagian orang takdir dilihat sebagai ajaran / didikan, yakni mendidik untuk tabah menghadapi segala cobaan hidup, menyingkirkan sifat sombong dan sekaligus menanamkan rasa patuh kepada orang tua, raja, hula-hula (kerabat keluarga), nenek moyang dan Debata Mulajadi Na Bolon.


Silaklak ni dandorung,
Tu dangka ni sila-sila.
Ndang iba jumonokjonok,
Tu na so oroan niba.

Artinya : Kulit kayu dandorung, ke dahan kayu silasila. Dilarang mendekati, perempuan / wanita, jika tidak istri sendiri. Umpasa ini menasehatkan supaya seorang pria tidak melakukan pendekatan kepada perempuan yang bukan istrinya apalagi sampai melakukan perzinahan.


Baca juga: Humor atau lawak batak si Baluhap


Pat ni satua,
Tu pat ni lote.
Mago ma panguba,
Mamora na niose.

Artinya : Kaki tikus, Ke kaki burung puyuh. Lenyap/hilanglah si pengingkar janji, Dan kayalah yang diingkari. Seorang yang mengingkari janji, apalagi sering-sering mengingkari akan hilang lenyap (mati) karena tindakannya dan orang yang diingkari akan menjadi kaya. Orang yang mengingkari janji dikutuk dan ditolak oleh masyarakat umum, sedangkan orang yag diingkari mendapat penghiburan dan pengharapan yang baik dari sang pemberi rahmat. Dia akan menjadi kaya dalam hidupnya. Padan adalah janji atau perjanjian, ikrar yang disepakati oleh orang yang berjanji. Akibat dari pelanggaran padan lebih daripada hukum badan, karena ganjaran atas pelanggaran padan (janji) tidak hanya ditanggung oleh sipelanggar janji (padan), tetapi juga sampai pada generasi-keturunan berikutnya. Ada unsur kepercayaan kutukan di dalamnya. Padan bersifat pribadi dan rahasia, diucapkan tanpa saksi atau dengan saksi. Jika padan diucapkan pada waktu malam maka saksinya ialah bulan maka disebut padan marbulan. Dan jika diucapkan pada siang hari saksinya ialah hari dan matahari disebut padan marwari. Nilai menepati janji cukup kuat pada orang Toba. Ini mungkin ada kaitannya dengan budaya padan yang menyatakan perbuatan ingkar janji merupakan yang terkutuk.


Ansimun sada holbung,
Pege sangkarimpang.
Manimbuk rap tu toru,
Mangangkat rap tu ginjang.

Artinya : Mentimun satu kumpulan, Jahe satu rumpun batang. Serentak melompat ke bawah, Serentak melompat ke atas. Umpama ini digunakan untuk kerabat sedarah dan dari satu keluarga (Batak: dongan sabutuha). Pepatah ini mengisyaratkan kebersamaan untuk menanggung duka dan derita, suka dan kegembiraan. Sejajar dengan ungkapan:”ringan sama dijingjing, berat sama dipikul”. Dari ungkapan ini terbersit arti mendalam dari kekerabatan yang dianut oleh orang Batak Toba. Kekerabatan mencakup hubungan primordial suku, kasih sayang dipupuk atas dasar hubungan darah.Kerukunan diusahakan atas dasar unsur-unsur Dalihan Na Tolu. Hubungan antar manusia dalam kehidupan orang BatakToba diatur dalam sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu. Hubungan ini telah disosialisasikan kepada generasi dari generasi ke generasi berikutnya. Hubungan ini telah ditanamkan kepada anak sejak dia mulai mengenal lingkungannya yang paling dekat, misalnya dengan orang tua, sanak saudara dan kepada famili dekat. Pengertian marga dijelaskan dengan baik sesuai dengan kode etik Dalihan Na Tolu. Tata cara kehidupan, cara bicara, adat-istiadat diatur sesuai dengan kekerabatan atas dasar Dalihan Na Tolu itu.


Purpar pande dorpi laho padimposhon,
sip parmihimihim laho manegai!

Sehebat apapun perdebatan dalam adat Batak, pada akhirnya untuk kebaikan. Diam tidak menyelesaikan masalah.


Aek godang tu aek laut,Dos ni roha sibahen na saut.

Pantun ini mengungkapkan bahwa kesepakatan hatilah yang akan terjadi / terlaksana.


Ale Tuhan talu ma ahu maralohon dongan,jala sai pamonang ma ahu maralohon musu!

Sisi positif dari orang Batak adalah tegas dalam bersikap, pantang menyerah dan berbudi luhur. Ungkapan diatas merupakan doa supaya kalah melawan kawan tetapi harus menang melawan musuh.


Napuran tano-tano
Rangging masi ranggongan
Badanta padao-dao
Tondintai masigonggoman

Arti : Sirih yang masih menjalar di tanah, Menjalar saling tindih-menindih. Tubuh kita saling berjauhan, Roh kita saling berdekapan. Umpasa ini mempunyai nilai religi tradisional yang membandingkan sifat daunan sirih dengan pemahaman religi terhadap manusia yang terdiri dari dua unsur, yaitu tubuh dan roh. Kebiasaan dari daunan sirih apabila masih menjalar di tanah (belum menjalar di pohon atau di tembok) akan saling tindih-menindih satu dengan lainnya. Demikian jugalah halnya kebiasaan daunan sirih itu dibandingkan dengan manusia, walaupun tubuhnya saling berjauhan tetapi rohnya akan saling tindih-menindih dan berdekapan satu dengan yang lain.


Eme sitamba tua
Parlinggoman ni si borok
Tuhanta na martua
Sudena hita diparorot

Arti Harfiah : Padi yang merunduk, Tempat perlindungan berudu. Tuhan kita yang Esa, Semua kita dilindungi. Umpasa di atas, membandingkan kebiasaan binatang dengan kepercayaan terhadap ke-Esaan Tuhan. Antara sampiran dan isi mempunyai hubungan yang sangat dekat sekali dengan “sifat memberikan perlindungan”. Pada sampiran, diuraikan sifat batang padi yang bernas akan selalu merunduk sehingga keadaan permukaan air di bawah pohon padi terlindung. Keadaan tersebut dimanfaatkan berudu untuk berlindung dari panas matahari atau intaian dari semua pemangsa. Selanjutnya, pada isi dijelaskan ke-Esaan Tuhan pancipta langit dan bumi yang telah melindungi semua umat manusia. Oleh karena itu, Tuhanlah tempat perlindungan manusia.


Balintang ma pagabe
Tumundalhon sitadoan
Ari muna do gabe
Molo masipaolo-oloan

Arti : Balintang adalah pagabe, Membelakangi sitadoan. Kehidupan akan sejahtera, Apabila seia-sekata. Umpasa di atas, membandingkan cara kerja sistem peralatan bertenun dengan kehidupan manusia yang saling tolong menolong. Pada sampiran dijelaskan sistem kerja alat bertenun saling membantu satu dengan yang lain, sehingga dapat menghasilkan ulos yang kaya akan “nilai” budaya. Pada isi, diharapkan kepada keluarga yang mempunyai hajatan agar selalu seia-sekata atau bermusyawarah/ mufakat dalam segala hal. Dengan demikian, kehidupan akan damai sejahtera karena saling tolong-menong atau salingtopangmenopang.


Sise mulani hata, topot mulani uhum

Artinya : Sapa merupakan dari awal pembicaraan, mengunjungi awal dari suatu hukum. Perumpamaan ini, masih melekat pada masyarakat Batak Toba pada saat ini. Setiap pelaksanaan upacara adat akan mengaplikasikannya dalam bentuk pembicaraan,dimana akan terjadi sapaan dan jawaban yang berkenaan dengan konteks adat yang berlangsung.
Tentu saja pembicaraan yang digunakan bukanlah menggunakan bahasa sehari-hari tetapi menggunakan umpama/umpasa yang puitis dan tertutup dengan keterusterangan sehingga kesannya berbelit-belit apabila dipandang sebelah mata.
Penggunaan umpasa ketika upacara adat perkawinan Batak Toba mempunyai makna simbolik sebagai bahasa komunikasi diantara pihak-pihak yang berkompoten untuk membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan upacara. Setiap pembicara dari suatu utusan, pada awalnya selalu menutupi keinginannya bersembunyi dalam umpasa yang memiliki simbol. Keinginan-keinginan akhirnya, akan terjawab karena pembicara-pembicara dari utusan sudah dapat menangkap keinginankeinginan tersebut karena mereka sudah biasa melakukannya.
Selain sebagai bahasa komunikasi diantara pembicara dari setiap utusan, umpasa dapat juga berperan sebagai sarana bermohon kepada Tuhan Yang Mahaesa. Permohonanpermohonan tersebut selalu dikaitkan dengan keinginan dan kepentingan serta harapan-harapan yang diinginkan atau dicita-citakan oleh setiap orang/keluarga.
Secara umum penggunaan umpasa ketika upacara adat perkawinan, jumlahnya selalu ganjil dapat terdiri dari 3, 5, dan 7 untai umpasa,tergantung kepada orang yang menggunakannya karena angka-angka tersebut pada masyarakat Batak mempunyai pengertian yang baik, seperti yang terdapat di bawah ini:


Baca Juga: Humor and lawak batak, kocak abizz


Andor halumpang ma,
Bahen togu-togu ni lombu,
Saur matua ma hamu,
Ro dinapairing-iring pahompu.

Arti : Tumbuhan merambat halumpang, Digunakan pengikat hidung lembu. Semoga panjang umur kalian, Sampai membimbing cucu.


Sai tubu ma tambisu,
Di toru ni pinasa,
Sai tubu ma dihamu anak na bisuk,
Dohot boru na uli basa.

Arti : Tumbuhlah pohon tembisu, Di bawah pohon nangka. Lahirlah putra yang bijaksana, Dan putri yang cantik dan baik budi.

 

Tubu ma dingin- dingin,
Di tonga-tonga ni huta,
Saur ma hita madingin,
Tumangkas hita mamora.

Arti : Tumbuhlah pohon penyejuk, Di tengah-tengah perkampungan. Semogalah kita berbahagia, Serta memiliki harta kekayaan.


Eme sitamba tua,Parlinggoman ni siborok,Luhut ma hita martua,Debata ma na marorot.

Arti : Padi si tamba tua, Tempat perlindungan berudu,  Semua kita panjang umur, Dilindungi Tuhan Yang Maha Esa.


Sahat-sahat ni solu,Sai sahat ma tu bontean,Leleng hita mangolu,Sai sahat ma tu panggabean.

Arti :  Sampailah biduk,  Sampai ke tepian,  Semoga panjang umur, Tercapailah cita-cita dan tujuan.
Umpasa ini selalu digunakan oleh pihak hula-hula ketika melaksanakan upacara adat perkawinan pada masyarakat Batak Toba. Umpasa mempunyai makna simbolik agar keluarga yang dibentuk mendapat berkat berupa hagabeon (memiliki putra dan putri), hamoraon (memiliki kekayaan harta benda), hasangapon (memiliki Wibawa dan terpandang), dan saur matua (panjang umur dan dapat mencapai cita-cita). Apabila umpasa ini selesai dikatakan oleh seseorang maka seluruh hadirin menjawab dengan kata Ima tutu (demikianlah adanya).
Pada akhir acara adat perkawinan, setelah semua pihak Hula-hula selesai memberikan ulos,petuah, dan kata-kata berkat/harapan kepada pengantin dan kepada semua pihak paranak, maka pihak paranak akan menjawab segala kebaikan atau kemurahan hati Hula-hula yang telah memberikan berkat sebagai inti dan kata akhir dari upacara adat perkawinan. Salah seorang dari paranak menjawab diiringi dengan penggunaan umpasa, agar segala pemberian petuah, berkat, dan harapan untuk hidup sejahtera dapat terwujud,terutama kepada keluarga pengantin.


Turtu ma ninna anduhur
Tio ninna lote
Sude hata nauli
Sai unang muba, unang mose


Naung sampulu pitu, Jumadi sampulu ualu, Hata na uli dohot pasu-pasu Boanon nami mai tu tonga ni jabu


Andor has ma andor his, Tu andor ni purba tua, Sai horas hula-hula nami jala torkis, Sai gabe jala saur matua


Bintang ma narumiris, ombun na sumorop Anak pe antong riris, boru pe antong torop


Pirma toras ni pongki, Bahul-bahul pansalongan Pirma tondi muna, Tutambana pangomoan


Habang pidong sibigo, paihut-ihut bulan, Saluhut angka na tapangido, sai tibu ma dipasaut Tuhan.


Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora, Tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora.


Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhut Molo burju do hita marTuhan, dipadao mara marsundut-sundut


Binanga siporing, binongkak ni tarabunga Muli tu sanggar ma amporik, Muli tu ruang ma satua Sinur manapinahan, tugabena ma naniula


Eme sitamba tua ma, Parlinggoman ni siborok Debata do na martua, Horas ma hamu di parorot
Tingko ma inggir-inggir, Bulung nai rata-rata Hata pasu-pasu i, Pasauthon ma namartua Debata

Tektek do mula ni godang, serser do mula tortor Sungkun mula ni uhun, sise mula ni hata.


Manuk ni Pealangge, hotek-hotek laho marpira Sirang namaraleale, lobian namatean ina


Tampunak sibaganding, di dolok pangiringan Horas do hita sudena, asal marsipairing-iringan


Habang binsakbinsak, tu pandegean ni horbo Unang hamu manginsak,ai idope na huboto


Bulung hariara, Marpitor-pitor ho naarian Boru ni datulang, sian dia ho narian
Ndada sian dia, sian pansur paridian Paias-ias bohi mandapothon si pariban

Nunga limut-limuton, Pansur so pinaridian Nunga lungun-lungunan, Si boru so pinangkulingan



Itulah beberapa contoh umpasa batak toba dan artinya

9 Comments

Previous Post Next Post