Betulkah Orang Batak Suka Profesi Pengacara?

 

(ilustrasi patung keadilan,sumber:pixabay.com)

Boleh jadi karena pengaruh kultur dan tradisi orang Batak yang sejak kecil telah biasa menyaksikan dan bahkan dilibatkan dalam pembicaraan bersama termasuk dalam rapat adat (tonggo raja, rapot marga, mandok hata saat pergantian tahun dan acara keluarga, juga dalam acara-acara adat perkawinan, kematian, dsb).

Tiap orang diminta atau diwajibkan bicara, khususnya orang dewasa, sesuai posisi seseorang (sebagai anak, cucu, menantu, paman, atau sebagai hulahula, dongan tubu, boru-bere, dongan sahuta-aleale).

Tanpa disadari, tradisi tsb membuat orang Batak yang masih melakoni acara adat atau meneruskan kebiasaan (karena banyak juga yang tidak mau) belajar menyampaikan pendapat.

Menyampaikan pendapat atau tanggapan, tentu butuh keberanian bicara dan menyusun argumen yang beralasan dan berbasiskan aturan adat. Silang pendapat pun hal biasa dan bahkan sering alot sebelum tercapai kesepakatan.

Tradisi atau kebiasaan tsb tanpa disadari mengajari orang Batak memperkuat kemampuan verbal, juga bersilang pendapat.

Mekanisme demokrasi dalam kebiasaan masyarakat Batak, dimungkinkan karena setiap individu memiliki hak bicara--yang terbangun sejak di lingkungan 'nuclear family' atau keluarga inti. Adat dan budaya Batak mengakui tiap eksistensi, hanya dalam acara adat besar kalangan lajang tidak dilibatkan karena dianggap masih tanggungan orangtua mereka. (Sisarihonon).

Terlepas dari rapat atau hajatan adat yang kerap bertele-tele dan dianggap membosankan, tradisi menyampaikan pendapat dan menyampaikan sikap maupun pandangan, membuat orang Batak jadi manusia yang suka bicara, vokal, dan itu bagian dari hak. (Disebut "jambar hata", yakni pemberian kesempatan bicara pada seseorang).

Bicara, menyampaikan pendapat, dengan kata lain, hal yang dianggap penting bagi orang Batak yang masih melakoni tradisi dan adat. Juru bicara atau yang mewakili suatu marga atau kelompok (horong) dalam hajatan adat pun disebut "raja parhata" (atau parsinabul).

Suatu kebanggaan bila termasuk bagian dari raja parhata atau parsinabul; mereka harus paham pula aturan adat (ruhutruhutni paradaton), pepatah petitih dan filosofi Batak.

Dahulu, dikenal julukan "parpollung nautuson", yang disematkan pada seseorang yang dianggap pandai dan lihai beretorika.

Unik dan sekaligus demokratis sebenarnya masyarakat batak karena siapa pun bisa jadi bagian dari raja parhata atau parsinabul bagi marga atau klannya. Tak dilihat apakah ia kaya, memiliki jabatan di pemerintahan, atau turunan raja huta zaman dahulu.

Egaliterisme sebenarnya cukup kuat dalam masyarakat adat Batak, meski dilihat pula integritas atau akhlak seseorang.

Tetapi, walau orang Batak disebut suku yang suka blakblakan, sesungguhnya tetap dituntut kesopan-santunan (pantun marpangalaho jala maradophon dongan jolma). Bahkan, hapantunon merupakan syarat utama untuk menokohkan seseorang di tengah komunitas marga atau lingkungan.

 

 Baca Juga: Berpikir Kritis 

 

Tradisi verbalisme atau beretorika memang amat kuat dalam masyarakat adat Batak--meski dalam perkembangan zaman, kemudian banyak yang menyindir hingga ada anekdot: "Jangan dikasih mic ke orang Batak, bisa lupa durasi bicara."

Di suatu rapat atau acara, sering dikatakan seseorang yang diminta bicara (mandok hata), "Dohononku do saotik hata" (saya akan sampaikan sedikit kata-kata atau tanggapan), walau bisa panjang atau lama bicara.

Itu sindiran yang jamak di kalangan orang Batak kini, "Sibondut mik" (harafiah: tukang telan mic; suka menguasai alat pengeras suara atau doyan ngomong dan nyanyi, meski suara fals).

Kebiasaan beretorika, menyampaikan pendapat, pun berbantah, menjadi modal bagi orang Batak dan "pede" tampil. Kendati tak menguasai suatu bidang pun, umumnya orang Batak mengaku bisa melakukan. Urusan belakangan.

Batak disebut pula oleh para pengamat sosial budaya dan antropolog, suku yang terbiasa dengan konflik. Ada semacam genetika dalam diri orang Batak bersikap resist atau bersikap kritis (yang tipis bedanya dengan sinis) menyangkut apa pun.

Barangkali karena itulah leluhur orang Batak (sijolojolo tubu) melahirkan petuah: "Aek godang aek laut, dosni roha do sibahen nasaut." (Harafiah: air yang banyak itu airnya laut, kesepakatan bersamalah yang dijadikan pegangan atau keputusan bersama). Juga, "Tingkos do mandok hata natigor, alai dumengganan do hata namambahen dame." (Terjemahan bebas: sungguh baik menyampaikan kebenaran, namun lebih baik membuat suasana damai).

Artinya, potensi atau bakat berbeda pendapat yang bisa mengarah konflik, seakan telah disadari para leluhur orang Batak maka disiapkan petuah dan dibuat mekanisme pencegah dan penyelesaian konflik.

Karakter orang Batak sering pula dikatakan keras, kritis, suka berterusterang--yang bagi etnis lain mungkin kurang pas atau tak elok.

Yang saya perhatikan, orang Batak memang suka berwacana, senang ngomong, juga berdebat--dan lapo kopi atau kedai tuak menjadi semacam wadah untuk menyalurkan. Apa pun bisa dibicarakan di lapo, mulai persoalan pribadi hingga politik kelas Senayan. (Meski argumen dan referensi minim).

Dunia pengacara atau advokat, sebagaimana diketahui, sungguh dekat dengan perdebatan, adu argumen, sikap resistensi atau perlawanan.

Baik verbal atau literal, pekerjaan advokat membutuhkan ketangkasan bertutur dan bersilang pendapat, menyampaikan argumen maupun dalil-dalil hukum.

Pekerjaan advokat adalah pula menyangkut konflik (antara para pihak yang bersengketa dalam kasus perdata; antara negara yang diwakili jaksa versus terdakwa dalam kasus pidana).

Itu pekerjaan yang cocok bagi umumnya orang Batak. Perdebatan, pembelaan, seolah makanan yang lezat, menantang kejelian, kecerdasan, keberanian, selain menjanjikan imbalan uang dan popularitas.

Hampir semua orang Batak ingin pula memiliki banyak uang dan dikenal luas atau populer, maka menjadi advokat, merupakan pilihan yang pas. Tetapi, tidak bisa pula dipukulrata karena tak sedikit orang Batak tak suka berkonflik dan enggan menekuni pekerjaan yang berkaitan dengan sengketa atau konflik.

Baca Juga: Tips Psikologi Keren

3 Responses to "Betulkah Orang Batak Suka Profesi Pengacara?"

  1. Apakah dirimu sebagai orang dari tanah Batak juga profesinya seorang pengacara , masbro ?.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih memantau masa depan ini om Bro, masih muda..

      Delete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel