Tradisi Mangai Binu atau perburuan kepala dalam suku Nias

Dahulu pernah ada tradisi mangai binu alias perburuan kepala di Nias.

Mangai berarti mengambil sedangkan binu berarti kepala manusia hasil buruan. Sebutan emali yang berarti 'berteriak dalam ketakutan' dilekatkan pada pelaku tradisi ini, menggambarkan teror yang disebabkan olehnya.

Catatan awal mengenai Nias menyertakan berita tentang tradisi ini. Dalam naskah tahun 851, Sulaiman at-Tajir mencatat bahwa seorang pria dapat menikahi wanita sebanyak kepala yang dia peroleh saat berburu. Menurutnya, orang Nias memilki banyak musuh sehingga tradisi ini muncul sebagai bentuk pertahanan. 


Tradisi ini juga menimbulkan anggapan keliru pada beberapa penulis selanjutnya bahwa suku Nias adalah kanibal. Bahkan, pelayar Arab yang sempat mendarat di pulau segera pergi setelah mengetahui kebiasaan tersebut meski faktanya, tidak pernah terjadi kanibalisme akibat tradisi mangai binu.

Para emali berburu kepala di banua yang jauh dari rumahnya pada suatu periode yang disebut bawa nemali. Dalam menjalankan aksinya, mereka menggunakan pedang magis tolögu. Jika perburuan dilakukan semata-mata untuk memperoleh binu, kepala korban dipenggal hingga terpisah dari badannnya. Namun, jika didasarkan balas dendam, emali memenggal tubuh korban dari pangkal leher sebelah kiri lalu secara diagonal mengarah ke ketiak kanan. Penggalan ini menyisakan kepala dan tangan kanan yang masih menyatu. Mereka akan pulang dengan menenteng potongan kepala di bahu dan mendekapkan tangan kanan korban ke dadanya. Selama masa damai, para emali bersembunyi di jalanan yang sepi dan menyergap orang yang lewat.

Pedang tolögu; dipotret di Museum Pusaka Nias

Harga untuk satu kepala manusia yaitu sejumlah babi atau bisa diganti dengan uang sebesar seratus hingga dua ratus Gulden (Hindia Belanda). Harganya akan naik jika korban dipesan hidup-hidup untuk kemudian dipenggal di atas batu awina. Satu kepala tawanan biasanya dihargai enam ekor babi berukuran lima alisi (ukuran tradisional babi). Jika jumlah binu hasil buruan kurang dari yang dibutuhkan, maka para budak akan dikorbankan. Seandainya tengkorak hasil buruan belum digunakan, maka akan dibungkus daun untuk disimpan terlebih dahulu di bawah tanah atau di atas pohon.

Adu mbinu, bentuk penghormatan terhadap arwah korban; dipotret di Museum Pusaka Nias

Tradisi mangai binu awalnya terlaksana atas beberapa alasan, yaitu alasan magis dan pendirian fondasi bangunan dan megalit. Alasan magis yaitu binu dipercaya memiliki jiwa dan orang yang memiliki binu adalah tuan atas jiwa pemilik kepala tersebut. Lama-kelamaan kepemilikan binu berkembang menjadi penanda status sosial karena memiliki binu berarti memiliki kemampuan tempur yang baik, atau jika hasil membeli berarti seseorang memiliki sarana finansial yang memadai karena binu adalah komoditas yang mahal. Binu diikutkan pada pembangunan fondasi agar bangunan tersebut 'tidak jatuh'.

Para emali berhenti berburu sejak awal tahun 1900-an karena takut berbuat horö (dosa) dan hukuman dari pihak kolonial Belanda. Kasus mangai binu terakhir dicatat pada tahun 1998. Namun, pemenggalan kepala dengan motif harga diri masih terjadi hingga kini. Beberapa tengkorak dari Nias dikumpulkan oleh para penjelajah Eropa dan disimpan atau dipajang di banyak museum.

Gambar dari Wikipedia

Ketakutan akan emali menyisakan kebiasaan pada beberapa penduduk hingga sekarang. Beberapa keluarga melarang anak-anak kecil bermain di luar rumah dan beberapa pemuda selalu membawa senjata tajam ketika keluar rumah pada malam hari sebagai bentuk kewaspadaan.

Wow, menyeramkan!!

Post a Comment

Previous Post Next Post