Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Toleransi dari ormas PBB-Pemuda Batak Bersatu

Sebuah kisah nyata yang disadur dari grup fb New KBM.


Yakinlah, Pertolongan Allah Selalu Ada

Tak pernah kusangka kebersamaanku dengan Bang Azzam hanya sampai disini. Suami yang telah membersamaiku selama dua puluh tahun ini telah pergi untuk selamanya.

Bang Azzam terjatuh di kamar mandi sehabis magrib dan langsung tak sadarkan diri, padahal tadi siang dia masih pergi bekerja seperti biasa.


Kondisi ekonomi keluarga kami tergolong pas-pasan, suamiku bekerja serabutan, apapun pekerjaan akan dilakukannya asalkan asap dapur tetap mengepul. Kami dibantu oleh si sulung yang sudah bekerja sebagai satpam di sebuah perkantoran, tetapi gajinya hanya cukup untuk membantu uang belanja tiap bulan. Kami bahkan tidak memiliki tabungan sedikitpun.


Entah bagaimana caranya aku akan melaksanakan penyelamatan jenazah suamiku ini, kami tinggal di perantauan yang hanya mampu mengontrak rumah petak berukuran kecil dengan dua kamar dan ruang tamu berukuran 2x3 meter. Bahkan kami tidak memiliki keluarga di sekitar sini, untuk sekadar menumpang menyelenggarakan penyelamatan jenazah Bang Azzam.


“Kak, saya sudah hubungi Pak RT dan RW, katanya jenazah Bang Azzam tidak bisa dikuburkan di sini, karena Kakak tidak pernah melapor ke RT ketika pindah tinggal di sini.” Andi berbisik padaku setelah tadi aku meminta tolong untuk melaporkan pada RT tentang meninggalnya suamiku ini.


Hatiku makin perih mendengar penuturan Andi, memang salah kami tidak pernah melapor pada perangkat desa perihal kepindahan kami ke sini, tetapi apakah dengan kondisi darurat seperti ini, hal itu masih diperlukan? Pak RT beralasan bahwa TPU di sini hanya untuk masyarakat setempat. Peraturan apakah ini, bahkan aku baru tahu ada peraturan seperti ini? Atau mungkin ini alasan mereka saja, mengingat Bang Azzam yang kelihatan sehat wal afiat, berusia 40 tahun meninggal mendadak. Apa di pikiran mereka, Bang Azzam meninggal karena positif covid?


Ya Allah, aku harus bagaimana? Apakah harus membawa jenazah Bang Azzam ke kampung, tapi aku tidak memiliki uang untuk biaya ambulan. Jarak dari tempat ini ke kampungku lebih kurang delapan jam. Dari mana aku bisa mendapatkan uang secepatnya? Sungguh otakku sekarang merasa buntu, apa yang harus kulakukan?


Para tetangga dan perangkat desa menganjurkan supaya jenazah suami dimakamkan di kampung saja, karena jika dihitung dari segi biaya, pemakaman di sini juga membutuhkan biaya untuk membeli perlengkapan jenazah dan upah penggali kubur, sama besarnya dengan biaya menyewa ambulan. Jadi kuputuskan untuk menguburkan di kampung kami.


Meninggal mendadak dalam masa pandemi, membuat warga sekitar takut mendekati jenazah Bang Azzam. Mereka yang hadir hanya melihat dari jauh. Itu juga yang membuatku mengambil keputusan supaya jenazah dibawa ke kampung, karena ku dengar, tidak ada warga yang berani memandikan dan mengafani jenazah. Mereka takut kalau suamiku meninggal karena covid dan bisa menular pada mereka.


Hari sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, sedangkan suamiku meninggal tadi malam pukul 19.00. Harusnya sebelum Zuhur jenazahnya sudah selesai dikuburkan. Para tetangga masih berusaha untuk mencari ambulan yang akan membawa jenazah suami.


Masalah belum selesai ketika anakku yang berusia 19 tahun mengatakan bahwa perangkat desa di kampungku menolak jenazah suami dimakamkan di sana, mereka bilang takut jika seandainya suamiku positif covid, sementara pemakamannya tidak dilakukan berdasarkan standar covid, jadi mereka tidak mau ambil risiko dan meminimalisir ketakutan warga setempat.


Tangisku tak terbendung lagi mendengarnya, rasanya tubuhku benar-benar lelah. Otakku terasa mau pecah, di mana lagi suamiku akan dimakamkan. Tak ada satupun yang menerima jenazahnya.


Ya Allah, hamba mohon tunjukkan kuasa Engkau, hamba hanya ingin secepatnya melakukan penguburan jenazah suami hamba. Tak berhenti aku memohon pertolongan Allah.


Diantara isak tangis para pelayat dan gundah hatiku yang masih mencari orang yang mau melaksanakan proses penyelamatan jenazah, pukul 09.00 tiba-tiba datang beberapa orang memakai rompi dengan tulisan RELAWAN di belakangnya, aku tak tahu siapa yang menghubungi mereka. Gerak cepat para relawan itu melakukan fardu kifayah untuk jenazah Bang Azzam. Belum sampai disitu, beberapa orang datang lagi dengan baju kaos seragam bertuliskan PEMUDA BATAK BERSATU, yang langsung mendirikan tenda dan membawa beberapa kursi plastik untuk duduk para pelayat.

(logo organisasi PBB:Pemuda Batak Bersatu)


Allahu Akbar...

Mereka menyediakan air gelas mineral beberapa kotak dan ada juga warga yang membawa perlengkapan untuk keperluan pemakaman.


Setahuku, Bos anak sulungku memang orang Batak. Air mata menetes lagi ketika haru datang melihat orang-orang yang berbeda keyakinan denganku itu menolong apa saja yang bisa mereka kerjakan. Mereka berbaur, para relawan dan warga sama-sama gerak cepat supaya suamiku segera dimakamkan.


Tidak sampai satu jam, jenazah Bang Azzam selesai dikafani. Aku harus menerima kenyataan bahwa jenazah hanya disalatkan di rumah kontrakan kami ini. Entah apa alasannya kenapa tidak di mesjid, hanya saja, Andi tetanggaku bilang lagi-lagi ini tentang covid , akupun tak mau tahu lagi, yang penting sekarang jenazah bisa dimakamkan secepatnya.


Alhamdulillah, akhirnya sebelum Zuhur suamiku telah selesai dikuburkan di TPU yang berjarak setengah jam dari tempat tinggalku. Aku tak henti mengucap syukur, disaat beberapa pihak menolak membantu, Allah mengirimkan orang-orang berhati mulia untuk menolongku. Bahkan semua biaya pemakaman ditanggung oleh Bos anak sulungku.

 

HORAS JALA GABE PEMUDA BATAK BERSATU


Parpining
Parpining Sanggam Situmorang

Post a Comment for "Toleransi dari ormas PBB-Pemuda Batak Bersatu "