Birgaldo Sinaga-KENA KUTUKAN AHOK, TIGA AKTOR UTAMA 212 ITU AKHIRNYA MASUK PENJARA

 


KENA KUTUKAN AHOK, TIGA AKTOR UTAMA 212 ITU AKHIRNYA MASUK PENJARA


Kemarin MRS dijebloskan ke dalam penjara. Ia ditahan selama 20 hari.  Ikut juga Ketum FPI Sobri Lubis dan 4 orang pentolan FPi jadi tersangka.  Mereka tinggal menunggu waktu untuk diadili. Seperti Ahok dulu tanggal 13 Desember 2016, 13 Desember 2020 juga jadi hari kelabu bagi MRS.


Saya ingat, MRS begitu ganas menyerang Ahok. Ahok diejek Si Kutil Babi. Ahok didesak masuk penjara. Semua berawal dari editan video Buni Yani. Lalu disembur Jonru di medsos. Dan digempur MRS dilapangan.


Bagaimana nasib trio penyerang Ahok ini sekarang?


Saya punya catatannya.


"Kebenaran bisa disalahkan!!  Tapi kebenaran tidak bisa dikalahkan!! ", teriak Jonru kencang memecah ruang sidang pengadilan dirinya kemarin, 2 Maret 2018. 


Jonru histeris.  Usai hakim mengetuk palu putusan bersalah,  Jonru langsung berdiri.  Tangannya mengepal ke udara.  Pekik takbir tiga kali bergema kencang di dalam ruang sidang.  Ia berbalik badan.  Memunggungi para hakim yang berdiri.  


Pemandangan ini sangat kontras dengan sikap hormat Ahok yang memberi hormat dengan membungkukkan badan kepada para hakim yang memutus bersalah Ahok 2 tahun penjara.  


Meski divonis 2 tahun,  Ahok lapang dada menerima keputusan pahit itu.  Ia menyalami  hakim dan penasihat hukumnya.  Tanpa sepatah kata Ahok menerima hukuman itu sebagai tanda Ahok tunduk dan taat pada negara hukum. 


Ahok,  Buni Yani, Jonru dan MRS adalah orang yang secara bersamaan berada pada nasib yang sama. Sama2 tersangka.  MRS sudah dijebloskan ke dalam penjara. MRS menunggu waktu saja diadili.


Pada 2016, Ahok adalah Gubernur dan petahana yang sedang berkompetisi melawan Anies.  


Sedangkan Buni Yani, Jonru dan MRS adalah orang yang memaksa Ahok masuk penjara. Mereka juga pendukung garis keras Anies Sandi.  


Ke empat orang ini berujung punya nasib sama. Jadi tersangka dan diadili. Meskipun punya alasan latar belakang kasus yang berbeda.


Pembeda yang paling mencolok adalah Ahok saat diputus bersalah ada jutaan orang meratapinya.  Ada jutaan orang menangisinya.  Puluhan ribu orang bertahan di lapas Cipinang hingga tengah malam.  Bertahan hingga matahari terbit untuk menemani Ahok di penjara. 


Jutaan orang di seluruh dunia menyalakan lilin sebagai simbol solidaritas atas ketidakadilan yang diterima Ahok.  Di Australia,  Paris,  Inggris,  Amerika,  tumpah ruah WNI menyalakan lilin.  


Belum lagi hampir semua kota di tanah air seperti Surabaya, Medan,  Pekanbaru,  Jakarta,  Bandung,  Makasar, Semarang,  Batam,  Jayapura,  Manokwari,  Bali,  Pontianak,  Pematang Siantar,  Tarutung,  Ambon,  Palembang, Balikpapan,  Menado, Palangkaraya dan kota lainnya,  langit malam penuh terang cahaya lilin.  Semua menangisi Ahok. Menangisi Indonesia kita. 


Bagaimana dengan Buni Yani si pemelintir video Ahok?  Tidak ada seorangpun peduli dengan dirinya.  Buni Yani hanya mengepalkan tangan ke udara sambil teriak takbir saat vonis hakim memutusnya bersalah.  Tidak seorangpun menangisinya. Tidak seorangpun membelanya. 


Demikian juga Jonru yang punya follower 1.5 juta akun.  Jonru hanya bisa teriak kesetanan tanpa seorangpun peduli padanya. Ia bak prajurit  bodoh yang kalah perang, dilupakan followernya. Lucunya ia merasa masih seperti pahlawan perang.   Padahal ia hanya pecundang bersuara cempreng.


Cerita haru biru saat Ahok divonis 2 tahun penjara tidak mungkin bisa dilupakan.


Ada jutaan orang menangis.  Meraung histeria.  Meratap.  Memukul dada tanda marah dan sedih,   hingga banyak relawan jatuh pingsan saat mendengar vonis Ahok.  Itu saya lihat sendiri saat ribuan orang tumpah dijalanan secara spontan di depan Lapas Cipinang. 


Nalar dan nurani jutaan orang itu tidak bisa kita atur.  Cinta itu lahir dan bertumbuh karena Ahok lebih dulu mencintai kita.  Kita tahu dedikasi dan keberpihakan Ahok pada warganya. Pada orang survivor kanker. Pada orang miskin dan susah. 


Jadi wajar jika jutaan orang di seluruh dunia menangisi Ahok.  Meratapi nasib Ahok.  Dan jutaan lilin dan papan bunga menjadi catatan besar dalam panggung politik nasional,  bahwa cinta tulus dari jutaan rakyat Indonesia tidak akan bisa dikalahkan dengan vonis hakim yang juga manusia biasa.


Buni Yani dan Jonru diputus bersalah karena jiwa dan hatinya diselimuti kebencian. Kebencian tanpa nalar akal dan nalar iman.  Kebencian itu dijadikan alat merusak keadaban demokrasi. Rasa kebencian  itu meracuni sel-sel otak rakyat Indonesia yang tidak mengerti apa-apa.


MRS bakal menjalani proses pengadilan itu. Proses penetapannya sebagai tersangka dibayar sangat mahal ongkosnya. 6 orang pengawal MRS  tewas ditembak polisi. MRS jatuh ke titik nadir. Ia ternyata bukanlah orang besar yang layak dihormati. 


Hidup ini memang misteri. Siapa sangka  kutukan Ahok sesaat hakim menjatuhkan vonis bahwa orang2 yang menzoliminya akan dipermalukan akhirnya terwujud? 


Ahok dipenjara karena nafsu syahwat ambisi kekuasaan   yang menghalalkan segala cara.  Manusia culas yang haus kekuasaan itu lalu memelintir ayat-ayat suci sesuka mereka.  MRS menjadi pusat kekuatan untuk memenjarakan Ahok.


Kebencian dan kekejian mereka bahkan melewati akal sehat dan iman.  Nafsu buas dari manusia yang rakus dan tamak. Rakus dan tamak pada jabatan, pangkat dan harta. 


Saat hakim mengetuk palu vonis bersalah, Ahok tutup mata pertanda berdoa. Lalu Ia bangkit berdiri. Ia membungkuk setengah badan penuh hikmat pada hakim yang mulia.  Ahok menerima vonis hakim itu tanpa sepatah kata menyalahkan hakim dan teriak kesetanan seperti Buni Yani dan Jonru itu. 


Ahok tetap dicintai dan dibela oleh banyak orang. Kita percaya dan tahu Ahok tidak mungkin berbuat hina dengan menodai agama Islam yang dihormatinya.  Agama ayah angkatnya yang sangat dihormatinya. Agama yang banyak membentuknya menjadi pelayan rakyat Indonesia sejati.


Hari ini 13 Desember 2020, Ahok mungkin saja sedang  ibadah gereja bersama keluarganya. Atau sedang berlibur di resort hotel.


Sementara di tempat lain,  MRS sedang dicekal tidak bisa ke luar negeri. MRS,  Ketum  FPI Sobri Lubis dan Panglima Laskar dijadikan tersangka oleh polisi. MRS  hari ini merasakan dinginnya lantai penjara. Ia menjadi tahanan polisi.


Hari ini, cerita Ahok pada Desember 2016 saat  dijadikan tersangka penistaan agama berbalik ke mereka. Desember  ini menjadi Desember kelabu bagi MRS dan pentolan FPI.


Kita sebentar lagi akan melihat MRS dan pentolan FPI duduk di kursi pesakitan.  Menunggu  vonis hakim.


Karma ini benar2 nyata. Apa yang dialami Ahok pada Desember 2016 kini berbalik dirasakan oleh pelaku utama MRS yang menjerumuskan Ahok ke penjara. Sebelumnya Buni Yani dan Jonru sudah menikmati dinginnya lantai penjara.


Kutukan Ahok itu benar2 nyata. Dan tidak seorangpun aktor utama menzolimi Ahok luput dari kutukan itu. 


“Percayalah, sebagai penutup, kalau anda menzalimi saya, yang anda lawan adalah Tuhan Yang Mahakuasa, Maha Esa. Saya akan buktikan, satu per satu dipermalukan. Terima kasih.” 


- Basuki Tjahaja Purnama


Pada akhirnya kita tahu, kebenaran akan mencari jalannya sendiri. 


Salam perjuangan penuh cinta


Birgaldo Sinaga

1 Response to "Birgaldo Sinaga-KENA KUTUKAN AHOK, TIGA AKTOR UTAMA 212 ITU AKHIRNYA MASUK PENJARA"

  1. Que disfrutes de unos intensos días acompañado de tus seres queridos.
    ¡Feliz Navidad amigo!

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel