Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

ANALISA

 


ANALISA ATAU ANALISIS

 
If a little knowledge is dangerous, where is the man who has so much as to be out of danger?—Thomas Henry Huxley
 
    Ketika masih muda, awal kuliah saya membaca pepatah atau kata mutiara dari seorang ahli filsafat yang mengatakan, belajar itu sama dengan mengingat, "learning is remembering". Meski tidak paham betul maknanya tetapi saya ikuti dalam hati.
 
 Maka setiap pengetahuan yang didapat, entah itu dari dosen, baca buku, hasil diskusi dengan teman selalu diupayakan untuk diingat. Untuk membantu daya ingat, saya buat catatan kecil di blok notes atau buku agenda (diary).
 
 Meski tidak terpikir kegunaan dari pengetahuan tersebut baik pada saat itu ataupun di kemudian hari tetapi karena asumsi atau persepsi saya ketika itu, siapa yang banyak tahu dialah yang disebut orang yang menguasai ilmu pengetahuan, biasanya disebut sebagai orang pintar.
 
Berdasarkan pengalaman berdiskusi dengan teman kuliah, baik yang seangkatan maupun angkatan di atas alias senior di kampus, orang yang memiliki banyak pengetahuan tidak menonjol. Justru yang ilmunya tidak banyak alias setengah-setengah yang paling suka ngotot dan bersuara paling lantang. Sebaliknya dengan yang berilmu cenderung 'calm', tenang dan memilih berpendapat di tengah atau diakhir perdebatan yang lagi seru-serunya.
 
Ketika mendalami pengembangan berpikir tingkat tinggi atau high order thinking saya melihat peran kemampuan menganalisa atau melakukan analisa (to analyze) sangat urgen. Tanpa kemampuan analisis yang baik tentu sulit mengkritisi, menyintesis, membuat keputusan, kesimpulan dan mengevaluasi. Tidak mudah menyusun argumen yang rasional dan menerapkan berpikir kreatif tanpa ditopang kemampuan menganalisis yang mumpuni.
 
  Bagaimana cara mengembangkan kemampuan menganalisis?
Ketika ada perkara hukum yang ditayangkan di televisi, saya suka mengamati bagaimana seorang lawyer (penasehat hukum atau pembela) dalam beragumentasi.
 
  Selain argumen yang dikemukakan disusun secara tertulis juga semua bantahan atau argumen didasarkan pada undang-undang, hukum atau peraturan dan prosedur. Tidak pernah membuat argumentasi tanpa acuan. Ada lagi yang saya lihat, lawyer menguasai secara detail, sampai hal yang terkecil, yang mungkin bagi orang lain hal itu sepele atau remeh tetapi tidak bagi seorang lawyer yang profesional. Mengapa lawyer bisa melakukan itu tentu karena mereka mempunyai kemampuan menganalisis yang mumpuni.
 
Kemampuan berargumentasi yang mumpuni didukung kemampuan menganalisis dengan baik seperti yang dilakukan oleh lawyer profesional (bukan hanya membela orang yang mempunyai duit banyak) dibutuhkan persiapan yang memadai.
 
 Perlu latihan, misalnya sebelum melihat masalah secara detail sebaiknya melihat terlebih dahulu masalah tersebut secara umum, secara global dengan melihat keterkaitan dengan aspek-aspek yang relevan. Oleh sebab itu untuk dapat menganalisa situasi politik di negeri ini saat ini tirulah cara kerja dari seorang lawyer yang profesional.
 Dan jangan lupa menjadikan Undang-undang, hukum, peraturan, norma dan etika sebagai acuan. Daripada asal ngomong tidak jelas lebih baik diam.
Parpining
Parpining Sanggam Situmorang

Post a Comment for "ANALISA"