RELEVANSI JURNALISME NARASI DALAM ERA “CYBER JOURNALISM”


Oleh Nestor Rico Tambunan


Note:

Saya menutup perkuliahan “Jurnalistik & Sastra” dengan esei ini. Potret pertumbuhan cyber journalism di negeri kita dan pengaruhnya terhadap dunia media dan kehidupan. Barangkali berguna.


DUA dekade pasca-reformasi, jurnalisme di Indonesia mengalami transformasi luar biasa. Hingga menjelang Mei 1998, di Indonesia hanya ada 289 SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers). Setelah Departemen Penerangan dibubarkan dan SIUPP ditiadakan, tahun 1999, penerbitan pers mengalami pertumbuhan luar biasa. Belum setahun SIUPP dicabut, sudah ada 582 penerbitan, atau dua kali lipat. Beberapa tahun kemudian, sudah menjadi ribuan penerbitan.


Tapi kebebasan penerbitan pers itu tidak serta-merta diikuti kualitas media dan profesionalisme para pekerja pers. Siapa saja bisa membuat media dan jadi wartawan, tanpa visi dan kompetensi yang jelas. Banyak suratkabar, tabloid, dan majalah yang yang asal-asalan. Banyak wartawan tanpa kemampuan teknis dan kompetensi jurnalisme yang memadai. Bebas tapi tidak berkualitas. Kita harus jujur, dalam berbagai segi kebebasan itu justru membuat idealisme jurnalisme mengalami kemerosotan.


Tahu-tahu, teknologi internet membawa badai perubahan baru. Perkembangan teknologi internet melahirkan cyber media atau media online.  Kelahiran cyber journalism memaksa dunia jurnalisme harus merumuskan dan mencari kembali model penyajian berita. Cara penyampaian berita dengan cara konvensional tiba-tiba tidak relevan lagi. Media konvensional seperti suratkabar, majalah, dan televisi terpaksa meninjau kembali cara mereka menjual informasi. Mau tidak mau mereka mengadopsi media internet. Konvergensi media menjadi keniscayaan.


Senjakala Jurnalisme Cetak

Suka atau tidak, harus kita akui kehadiran Revolusi Industri 4.0, kemajuan teknologi digital melahirkan berbagai inovasi hebat, namun juga menghadirkan disrupsi, termasuk dalam jurnalisme. Kita harus menerima kenyataan, kehadiran cyber journalism  yang hiperteks dan realtime membuat peran jurnalistik cetak yang tekstual mengalami krisis tajam.


Budaya membaca suratkabar dan majalah memudar cepat, karena masyarakat lebih suka mengakses berita lewat internet.  Bermodal ponsel pintar orang bisa mengakses berita kapan saja, dimana saja. Berita-berita realtime dan update  tersaji setiap saat. Oplag media cetak terus menurun, bahkan kemudian banyak yang tutup. Terasa ironis, media-media cetak terkemuka, yang dulu laris dan dijajakan di persimpangan jalan kini hanya ada dalam bentuk online.


Sunset journalism, senjakala jurnalisme cetak? Kita harus menerima kenyataan itu. Mungkin media cetak tak akan sepenuhnya mati, paling tidak belum, tapi perannya telah merosot drastis. Dan rasanya memang tidak mungkin kembali seperti dulu, karena kertas pun makin langka dan harganya mahal.


Baca Juga

MENDULANG INSPIRASI


Persoalan kita di sini. Kita harus menerima, tepatnya terlanjur euforia dengan Revolusi Industri 4.0.  Padahal masih ada segudang masalah industrial fase 1.0, 2.0, dan 3.0. Orang bereuforia membuat media online, dari Jakarta hingga daerah-daerah pelosok. Peran jurnalisme cetak melemah.  Sementara jurnalisme online tak memberi solusi baru. Masalah jurnalisme jadi makin simpang-siur.


Dimana letak kesimpang-siuran itu? Platform media online membutuhkan viewer. Tak ada nilai berita kalau tak ada yang klik. Media online menjadikan kecepatan dan jumlah klik sebagai paradigma utama dalam pemberitaan. Karena mengejar aktuliatas, media-media online sering mengabaikan akurasi. Kerap menyajikan data yang salah - terkadang bahkan fatal - atau menyajikan berita yang tidak etis dan tidak relevan bagi publik.


Tapi yang tak kalah menyedihkan, demi klik, media-media online pada akhirnya terjebak pada trik umpan klik (clickbait). Menggunakan judul-judul berita yang bombastis dan sensasional, kadang penuh asumsi - yang sebenarnya bertentangan dengan prinsip-prinsip jurnalisme - untuk mengundang klik tayang (click through). Judul berita yang seharusnya singkat, padat, dan menggambarkan isi, malah sengaja diperpanjang, kalau perlu jadi dua kalimat, dengan memasukkan unsur sensasi


“BCL Sangat Menyesal, Inilah yang Terjadi Sebelum Ashraf Meninggal.” Apa isi beritanya? Ya, Bunga Citra Lestari masih shock karena kematian suaminya begitu tiba-tiba. Tidak ada isi berita yang menjelaskan kejadian apa yang terjadi sebelum Ashraf meninggal. Begitulah trik clickbait, mengeksploitasi kesenjangan keingintahuan (curiosity gap) pembaca.


Media sering lupa bahwa kecepatan sebaiknya tidak harus mengalah dari akurasi. Tiada guna berlomba cepat, jika yang disajikan tidak akurat dan menyesatkan khalayak. Jalan menuju akurasi adalah verifikasi. Apa gunanya berita kalau tak memberi informasi dan wawasan yang baik?


Trik lain, berita sering dipecah-pecah, ditetel-tetel, untuk mengikat pembaca berlama-lama. Berita yang dipotong-potong pada akhirnya membuat berita sering kehilangan konteks. Pembaca tak dapat memahami konteks berita secara secara utuh, karena tak memberi pemahaman dan makna berita.


Puncak dari ketergesaan dan nafsu clickbait ini banyak media online yang terjebak dalam berita bohong atau hoax.  Memuat berita yang seolah benar, karena mengandung potongan-potongan fakta, tapi sesungguhnya tidak benar dan mengusung misi-misi tertentu dari pihak tertentu yang tidak baik bagi publik. Jurnalisme yang semestinya menjadi pelita pembawa terang, terbalik jadi sumber kegelapan.


Paradoks Masyarakat Digital

Kita harus jujur, kini manusia menjalani hidup dan budaya yang berbeda. Berbagai aspek kehidupan, termasuk komunikasi dan media mengalami perubahan ekstrim. Dunia informasi simpang-siur karena siapa saja bisa membuat media online. Informasi dari media online yang hiperteks dan realtime saling timpang-tindih dengan media-media sosial dan personal seperti facebook, twitter, Instagram, Whatsapp, blog, dan sebagainya yang saling me-link. Manusia seperti dikepung informasi, karena setiap orang jadi konsumen sekaligus produser (prosumer) informasi.


Baca Juga

Membaca dan Menulis Untuk Melawan Kebodohan


Tetapi, kelimparuahan informasi era digital ini ternyata tidak berbanding lurus dengan kedewasaan masyarakat dalam bertindak dan mengambil keputusan. Kemudahan berkomunikasi tidak membuat masyarakat semakin terbuka nalar kritis, selidik terhadap fakta, dan semakin rasional dalam bersikap. Limpah-ruah informasi itu justru menjerumuskan masyarakat dalam “epidemi irasionalitas”.


Yang terjadi justru gejala akal sehat dan nalar rasional yang melemah, bahkan hilang. Kesadaran pentingnya verifikasi sebelum menyimpulkan pudar. Orang percaya hoaks. Sikap tidak ditentukan oleh fakta dan data, melainkan oleh selera, keyakinan dan kepentingan pragmatis. Orang serba terburu dalam berujar dan bersikap, tanpa memikirkan kebenaran. Sikap apriori dan intoleran kepada orang lain berkembang subur.


Di sini, mestinya pers mestinya berperan sebagai pemberi informasi yang baik. Iinformasi yang baik adalah informasi yang memberi pengetahuan yang baik. Pengetahuan yang baik akan memberi pemahaman yang baik. Dan pemahaman-pemahaman yang baik akan melahirkan wawasan dan persepsi yang baik. Itulah yang dibutuhkan publik dari jurnalisme.


Platform media bisa berbeda atau berganti, tapi fungsi, prinsip-prinsip, nilai-nilai, dan etika jurnalisme mestinya tetap sama dan dijaga, seperti dirumuskan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism.


Bahwa kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran. Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga masyarakat. Inti jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Jurnalis harus tetap independen dari sumber-sumber yang diliput. Jurnalis harus jadi pemantau yang bebas terhadap kekuasaan. Harus menyediakan forum untuk kritik dan komentar publik. Membuat yang penting jadi menarik dan relevan. Menjaga agar berita proporsional dan komprenhensif. Terakhir, jurnalis harus mendengar suara hati atau nurani.


Jurnalisme tidak boleh mati, atau dibiarkan mati dalam ketersesatan, karena manusia membutuhkan. Kita semua, pemerintah maupun masyarakat,  membutuhkan pers yang baik untuk menjaga informasi yang sehat. Berita sebombastis apapun, seviral apapun, pada akhirnya hanya seperti busa-busa sabun, yang menggelembung, kemudian pecah dan lenyap, jika tak memberi makna.


Mencari Posisi dan Menjaga Makna

Sejujurnya, suratkabar memiliki kelebihan dalam penyajian berita dibanding media online. Suratkabar terbiasa dan wajib menyajikan berita dengan nilai berita yang jelas dan unsur-unsur berita yang lengkap. Jenis berita dalam suratkabar pun bervariasi, mulai dari hardnews, berita opini, berita interpretatif, berita mendalam, feature, dan sebagainya. Belum tulisan-tulisan opini yang menjelaskan dan mencerahkan, seperti tajuk rencana, kolom, esei, dan sebabagainya. Sementara pemberitaan di media online cenderung monoton karena didominasi straight news.


Tapi, kita tak bisa menarik mundur arus zaman. Realitasnya pamor suratkabar terus menurun dan melemah. Kita hanya bisa berharap, apapun platform medianya, mestinya tetap ada berita-berita multi­di­men­sio­nal yang mendalam, tulisan-tulisan khas ser­ta analisis berita yang mencerahkan dan mencerdaskan, yang mampu menjadi ru­jukan bagi publik dan para pembuat keputusan.


Itulah yang dilakukan The New York Times. Media terkemuka AS yang berdiri sejak 1851 ini juga mengalami badai kemerosotan oplag sejak hadirnya media online. Lalu satu tim berisi orang-orang cerdas di media itu melakukan evaluasi dan mencoba menciptakan strategi baru untuk bertahan. Konsep mereka: membuat media daring yang tidak mengandalkan pageviews,tapi pelanggan. Caranya, membuat versi daring The New York Times yang menyajikan berita-berita eksklusif, dengan angle yang segar dan berani, yang tidak ada di media daring lain.


Baca Juga

Prinsip kerja editing atau penyuntingan didunia Jurnalistik, Kepenulisan dan Penerbitan


Genre jurnalistik sastrawi atau liputan narasi termasuk jenis liputan seperti itu. Liputan yang bukan sekedar melaporkan seseorang melakukan apa, tapi menukik lebih dalam, bahkan lebih dalam dari indepth reporting atau investigative reporting. Dan dengan pengisahannya yang renyah mirip cerita prosa, membuat cerita liputan menjadi menarik dan penuh dimensi humanisme.


Kita, masyarakat membutuhkan liputan-liputan yang menjelaskan dan menyentuh seperti itu. Platform bisa apa saja, mau media cetak, atau media online, tapi perlu menampilkan berita atau liputan yang mampu menjadi moral compass dalam simpang-siur informasi yang begitu deras dan kadang menyesatkan. Genre jurnalistik sastrawi atau liputan narasi masuk dalam jenis tulisan yang memberi kompas moral itu.


Jurnalistik sastrawi atau liputan narasi perlu hidup dan berkembang, karena memberi pemahaman-pemahaman dan makna. Itulah relevansi jurnalistik sastrawi. Kita membutuhkannya. !!!

1 Comments

Previous Post Next Post