Prinsip kerja editing atau penyuntingan di dunia jurnalistik, kepenulisan dan penerbitan

(menyunting tulisan,sumber:pexels)
 

MELIHAT TENGKUK...

Kita tidak bisa melihat tengkuk sendiri. Kita butuh orang lain. Karena itu pula, di tukang potong rambut biasa ditempatkan dua cermin, depan dan belakang. Cermin di belakang akan memantulkan bagian belakang kepala ke cermin di depan, sehingga yang sedang dipotong rambutnya bisa melihat bagian belakang kepalanya.

Seperti itulah prinsip kerja editing atau penyuntingan di dunia jurnalistik, dunia kepenulisan dan penerbitan umumnya. Naskah membutuhkan redaktur, editor, penyunting untuk melihat “tengkuk” naskah. Ya, ada penyuntingan konten (isi), ada penyuntingan bahasa. Lumrah saja, kalau tulisan Mas Goenawan Mohamad pun melalui pemeriksaan penyunting bahasa di Majalah TEMPO, meski ia pendiri dan bos majalah itu.

Prinsip kerja editing (penyuntingan) memperbaiki yang salah dan membuat naskah lebih baik, lebih enak dibaca dan mudah dipahami. Lebih baik seberapa, tergantung kemampuan dan kesungguhan editor/penyunting. Tapi jelas harus lebih baik.

Karena itu, aneh kalau seorang wartawan, atau penulis keberatan tulisannya diedit, atau dibuang bagian tertentu. Tapi banyak juga yang begitu. Masa saya jadi Koordinator Reporter dan Pemred, saya akan bilang dengan cuek, “Di ruang redaksi ini hanya dua yang tidak boleh diedit, yaitu Alquran dan Alkitab.”  Biasanya, yang protes langsung terbisu.

Tapi ada juga etika-etika jadi editor atau penyuntingan. Tidak perlu mengejek atau mengecilkan tulisan atau penulis. Tulisanmu tidak bagus. Penulis jelek kau. Sebagai editor harus respek kepada tulisan dan penulis. Kasih tahu saja kekurangan atau kelemahan-kelemahannya, sehingga ia bisa memperbaiki.

Dalam konteks “melihat tengkuk” seperti itu pula, terasa aneh dan konyol kalau ada orang yang sengit ketika seseorang menulis, entah itu artikel, kolom, atau esei, yang mengkritisi suatu keadaan atau kejadian. Persoalan politik atau kebijakan pemerintah di suatu daerah misalnya. Padahal, tulisan itu dengan reason, dengan alasan/argumentasi, serta tujuan baik. Bukan mengejek. Beda tuh.

“Sok tau kau! Sudah bikin apa rupanya kau untuk daerah ini…?”

“Marah-marah dia itu, karena tidak kebagian proyek!”

Orang yang punya wawasan sebenarnya sudah tahu, manusia yang suka berdebat tanpa alasan yang benar, ad hominem, seperti ini orang yang tidak punya intelektual dan tak perlu dilayani. Dia tidak mengerti orang butuh orang lain, atau dua cermin, untuk melihat  tengkuknya. Dia tidak mengerti istilah istilah bahwa “manusia tidak hanya hidup dari roti”. Kita melakukan sesuatu bukan melulu soal materi. Cetek bener.

Orang-orang yang biasa menulis artikel, kolom, atau esei, umumnya orang yang memiliki gagasan kerena memiliki ilmu pengetahuan, wawasan dan persepsi yang baik (benar) mengenai hal tertentu. So, kalau pemikiran itu diungkapkan dengan baik, dan untuk tujuan yang baik, apa salahnya?

Yang berbahaya dan menyedihkan, justru ketika orang menanggapi pemikiran kritis beralasan dengan cara dan langkah yang tidak intelektual. Membayar atau mengerahkan orang untuk melawan orang yang kritis, atau mematikan pemikiran kritis.

Kalau itu yang terjadi, kebenaran, atau paling tidak sebagian kebenaran tak akan terlihat lagi. Orang-orang tidak akan tahu lagi bahwa tengkuknya sudah berdaki, bahkan ada ulat bulu….Selamat malam, para ad hominem...!

 

By:  Nestor Rico Tambun

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url