Mindset Pendidikan Eropa antara Jerman, Belanda dan Inggris: antara Industriawan, Enterpreneur dan Investor

 Mari Bicara Mindset Pendidikan Eropa antara Jerman, Belanda dan Inggris: antara Industriawan, Enterpreneur dan Investor

Disclaimer: Bahasan ini jelas jauh dari lengkap selain keterbatasan pengalaman serta keterbatasan komunikasi di medsos. Jadi, target dari tulisan ini cuma memberi view general untuk Capture Awareness bukan untuk memberikan data valid, akurat dan detail. Oleh karena itu, monggo jenengan menambahkannya. 

Ini tentu saja navigasi umum yang jenengan tidak bisa mengadopsinya secara 100%. Jadi, tinjauan ini adalah tinjauan filsofosi umum yaitu mindset dan tradisi sistem pendidikan di Eropa khususnya 3 negara. Tradisi dimana aku bersentuhan dengannya yaitu: kuliah dan kerja di Jerman termasuk berprofesi sebagai Konsultan SAP, ambil berbagai Kursus Eksekutif serta Pendidikan Profesional di UK seperti ACCA, dll, serta sempat membangun bisnis di Belanda di HTCE (High Tech Campus Eindhoven) dan bernafas disana. 


 

Industriawan Jerman:

Tradisi dan Mindset Pendidikan Jerman itu jenengan dididik menjadi industriawan serta profesional ekspert. Pendidikan Jerman dan Industri serta dengan Society itu amat terintegrasi. Riset-riset Universitas di Jerman kadang amat spesifik sebagai solusi atas kebutuhan industri. Kadang mereka terikat NDE (Non Disclosure Agreement) sehingga penelitiannya tidak publish di Jurnal Scorpus. Jadi yang namanya kuliah di Jerman itu segitiga interkoneksi yaitu: belajar dan riset  Kampus, praktikum/magang dan riset di perusahaan, serta riset memahami society dan market di lembaga riset think tank seperti Max Planc, Frauenhofer, Leibnitz, dll.

Tradisi Vokasinya amat kuat dengan lingkage industri sehingga jenengan saat kuliah juga praktikum di industri. Praktikum mirip karyawan menyelsaikan sebuah tugas atau proyek kecil sehingga jenengan "hands on" how to understand "this process works" and how to solve the problem. Hanya karena belajar "how" secara detail maka jenengan tidak sempat belajar dan tahu banyak. Jenengan cuma tahu detail untuk sedikit hal: Mastering in your part!

Agar pengetahuan jenengan bisa bersinerji maka Jerman terbiasa buat tim work yang hebat. Dari mulai TK sampai dengan S3 murid-muridnya selalu diajarin dan "dipaksa" kerja dalam team work. Dikarenakan tidak ada orang yang tahu semua hal, jadi sistem efektif untuk kerjasama dan sinerji team adalah titik kuncinya. Innovasi dan Ide itu akan dijalankan dalam sebuah team work dan sistem sinerji.     

Kunci sukses tradisi Industriawan Jerman adalah buat Produk yang Innovatif berkualitas dan menjadi trend setter dunia dan mendikte trend dunia. Jadi jangan kaget meskipun jauh lebih kecil dari AS, Cina dan juga India tetap saja Jerman seringkali menjadi Exporter World Master no: 1 berkali-kali. Dikarenakan produk "Made in Germany" adalah jaminan kualitas terbaik. Apakah produk kualitas Jerman akan mampu bersaing kelak dengan produk murah Cina? Tampaknya Jerman perlu belajar dari Belanda untuk bisa bersikap fleksibel berbasis filosofis market driven.  

 

         BACA JUGA

 

 

Enterpreneur Belanda

Dikarenakan negara kecil yang tidak punya banyak Natural Resources serta juga jumlah penduduk sedikit maka ini memaksa Belanda harus deal dengan situasi yang sulit. Ditambah lagi negara tetangganya adalah negara2 besar yang hebat di dunia seperti Jerman, Inggris dan Perancis. Jadilah membuat Belanda amat sangat lentur dan fleksibel disatu sisi, tapi amat kokoh mencengkram di sisi lain. Ini mirip filsafat bambu, seberapa pun kerasnya tarikan angin, dia bisa lentur dalam kokohnya tumbuh berkembang.

Jadilah, pendidikan Belanda mengajarkan apa sesungguhnya yang dibutuhkan market untuk diberi solusiya agar Belanda bisa eksis. Belanda bener2 memahami apa arti Market Driven bahkan sampai masyarakatnya secara umum bisa berbahasa Inggris, Jerman dan Perancis selain B. Belanda bahkan juga mereka banyak yang belajar B. Indonesia karena Indonesia selain alasan emosional juga market yang baik buat Belanda. Dengan begini Belanda bisa deal dengan mereka. Filosofis Market Driven ini lah membuat masyarakat Belanda punya tradisi Trader, Businessman dan Enterpreneuer.

Sistem pendidikan di Belanda secara holistik membangun HUB antara Universitas, Talent dan Company sehingga apa yang dihasilkan Belanda bisa dijual di market. Innovasi dalam tradisi Belanda berarti apa yang dimilikinya saat ini, diberi sentuhan yang pas lalu bisa jadi solusi yang datangkan outcomes. Study-Study Kasus di Universitas diajarkan dalam pendidikan bisnisnya untuk tahu bagaimana output perusahaan (perusahaan apapun tidak harus perusahaan Belanda) bisa diterima pasar dan payu dijual!   

Belanda tetap bangun industri hebat berbasis riset seperti riset industri pangan yang amat hebat di Wagenigen, punya perusahaan multinasional hebat seperti Phillips, dll. Hanya Belanda juga amat fokus pada tradisi trader dan enterpreneurnya. Jadi lah Pelabuhan terbesar di Eropa adalah Rotterdam. Hanya Belanda harus bisa bangun jejaringan internasionalnya lebih baik terutama dengan Asia. Harusnya Belanda belajar dari Inggris bagaimana Inggris bisa bersahabat dengan India/Pakistan, Malaysia/Singapura, dll. Belanda sesungguhnya sudah kasih bea siswa ke Student Indonesia, tapi kurang massif tampaknya.

Investor Inggris

Inggris ini punya tradisi akusisi yang hebat. Kasus-kasus di sekolah business Inggris cocok untuk mendidik para didikannya ahli dalam akusisi dan investasi. Jadilah mereka banyak memiliki Fund Manager, Investment Manager, the Bankers. London sebagai pusat keuangan dunia itu mengusai 25% uang dunia, di atas New York yang hanya 19%.

Aliansi jejaringan London dengan Cayman Island-Gilbaltar serta daerah koloni Inggris di beragai dunia plus Hong Kong-Singapura-Dubai yang terkoneksi erat dengan London kuasai 40% lebih perputaran uang dunia. Jadi lah,  London plus Jejaringan (Cayman Island, Singapura-Hong Kong dan Dubai) bersama New York kuasai 60% uang dunia. Ini bukan cuma angka statistik belaka, ini uang yang menjadi alat pendikte kehidupan aktifitas ekonomi dunia.   

Kemajuan yang sangat digdaya Inggris di sektor keuangan ini membuat Inggris terbiasa berpikir service standard global. Jadilah ilmu-ilmu yang terkait dengan industri jasa di Inggris amat sangat hebat termasuk juga Industri kreatif Inggris amat maju. Proses belajar di Inggris pun terbiasa membaca kasus-kasus global: memahami business processnya secara global, lalu pada pilihannya investasi untuk (1) akusisi eksternal parties atau (2) inovasi proses yang ada.

Berbeda dengan tradisi di Jerman dimana mereka yang kuliah menyatu dengan industri dan masyarakat, di Inggris mereka sediakan semuanya di kampus, jadikan Kampus sebagai Center of Excellent. Lalu mahasiswanya bener2 dididik dalam tradisi dan nafas di kampus. Jadi lah proses tranfer of knowledge-nya amat efektif. Baru setelah itu dibahas kasus-kasus industri global untuk mendapatkan pemahaman persoalan industri. Lalu mereka akan pada gaya Inggris: akusisi atau inovasi. Hanya tetap Inggris harus belajar dari Jerman untuk bangun tradisi manufaktur dengan innovasi yang hebat melalui linkage industry.

#dariTepianLembahSungaiRheinRuhr

Ferizal Ramli

1 Comments

Previous Post Next Post