Menjadi pembaca aktif

 

"When we read too fast or too slowly, we understand nothing." (Pascal)

 

 

[Ilustrasi gadis membaca, sumber:pixabay]


         Ketika kuliah dulu, saya suka membuat asumsi tentang karakter dosen. Ada dosen yang memberi tugas membuat chapter report kepada mahasiswa. Kelompok mahasiswa disesuaikan dengan jumlah bab buku. Dan, buku yang dimaksud harus terlebih dahulu dikopi, biasanya, dosen sudah baca. Karena sudah dibaca, bagian tertentu dari buku ada yang ditandai dengan stabilo, berwarna kontras, ada juga yang diberi cacatan dengan tulisan tangan. 

 

Pernah seorang dosen meminta saya mengkopi buku yang masih mulus, tidak ada yang distabilo atau diberi catatan. Buku tersebut berbahasa Inggris, kelihatannya dibeli oleh sang dosen ketika belajar di luar negeri. Meski buku tersebut sudah terbitan lama, paling tidak sudah lebih dari sepuluh tahun tetapi masih terlihat baik, seperti buku yang baru dibeli. 

Ketika saya hendak pamit untuk mengantar buku tersebut ke tukang fotokopi, sang dosen berkata dengan pelan seolah seperti orang berbisik; "tolong dikopi satu buat bapak." Karena disampaikan dengan setengah berbisik maka saya maknai, jangan sampai mahasiswa yang lain tahu. Artinya, pake duit sendiri. Pendek cerita, saya kopi satu lebih dengan hard coper. Selain saya sebagai ketua kelompok yang membagi hasil kopian kepada mahasiswa lain juga chapter yang menjadi tugas kelompok kami, saya sendiri yang mengerjakan.

 Anggota kelompok ada yang menawarkan jasa mengkopi dan menjilid hasilnya, ada yang menyiapkan kertas dll. Saya sendiri dapat nilai A sementara anggota dapat B. Saya tidak habis pikir. Apakah nilai A yang saya dapat karena mengkopi dan menjilid buku buat sang dosen atau karena saya sendiri yang kerja, saya tidak tahu. Mungkin dosen tidak tahu juga bahwa yang mengerjakan tugas kelompok itu hanya saya sendiri. Ah, lupakanlah itu.

Asumsi saya, mengapa dosen minta kopi buku yang telah dimiliki. Karena sang dosen hendak mencoret-coret atau memberi tanda pada bagian yang menurut beliau penting. Beliau rupanya, tidak rela buku yang dibeli mahal ketika beliau belajar di luar negeri 'rusak' dicoret-coret. Kalau buku tersebut dikopi ulang oleh mahasiswa angkatan beikut tentu tidak enak dilihat karena sudah dicoret-coret. Asumsi itu yang trbesit dalam benak ketika itu.
 
Salah satu indikator seorang pembaca aktif adalah berbuat sesuatu dengan yang dibaca. Berbuat sesuatu bisa saja dalam benak atau pikiran tetapi bisa juga dalam bentuk memberi tanda pada bagian-bagian dinilai penting atau bermanfaat untuk diingat di hari kemudian. Kadang, ada yang menterjemahkan atau membuat catatan di luar buku yang dibaca.
 
Mengapa disebut membaca aktif?
Padahal yang namanya membaca, sudah pasti aktif. Tak ada orang membaca betul-betul pasif. Tidak mungkin seorang membaca tanpa matanya bergerak. Mengapa orang membaca? Sedikitnya ada dua hal yang menjadi tujuan orang membaca (buku).
 Membaca untuk memperoleh informasi dan memahami sesuatu. Boleh dibilang, tidak ada tujuan lain dari membaca di luar yang dua itu. Misalnya, kita punya sebuah buku yang ditulis dalam bahasa asing, Bahasa Inggris. Tujuan kita membaca buku tersebut adalah untuk paham apa yang ditulis oleh penulis dalam buku tersebut. Banyak orang tidak paham yang ditulis dalam buku karena kesulitan bahasa dan lebih banyak lagi tidak paham karena substansi, misalnya yang berkaitan dengan teori gravitasi bumi, dll.
 
Apa buktinya bahwa informasi atau substansi yang ditulis oleh penulis buku kita pahami sesuai dengan yang dimaksud penulis? Salah satu bukti seorang paham tetang yang dibaca dapat dilihat dari kemampuan mengomunikasikan yang dibaca kepada orang lain. Bagaimana cara mengomunikasikan, antara lain melalui seminar di mana yang bersangkutan menjadi nara sumber atau pemateri tetang yang dibaca, bisa juga dilihat dari tulisan yang bersangkutan.
 Dan, yang terakhir ini yang paling umum. Tidak mungkin seorang menulis buku tentang yang dia tidak tahu atau tidak dikuasai. Bagaimana mungkin jurnalis menulis berita yang tidak diketahuinya. 
 
Mengapa menulis skripsi, thesis dan disertasi dilakukan di bagian akhir? Mengapa mahasiswa tidak dibebaskan saja, terserah kapan maunya mahasiswa menulis? Selain disebut tugas akhir, artinya tugas untuk mengakhiri salah satu strata pendidikan juga karena tidak mungkin mahasiswa menulis skripsi, thesis atau disertasi sebelum materi atau bidang ilmu dipelajari. Menulis itu adalah kemampuan tertinggi dari tingkat pemahaman terhadap ilmu pengetahuan yang dipelajari.
 
 Guru besar yang meneliti tentang sesuatu selama bertahun-tahun tidak akan diketahui oleh orang lain, seperti guru besar yang lain, mahasiswa atau pihak universitas kalau tidak ditulis dan dipublikasikan. Untuk layak dipublikasikan maka harus ditulis dengan bahasa yang dimengerti oleh ilmuwan lain.
Banyak mahasiswa abadi (jaman dulu) karena kesulitan dalam tugas akhir, skripsi, thesis atau disertasi. 
 
Ketika kuliah tidak ada banyak kendala. Asalkan rajin hadir, termasuk rajin menitip kartu absen kalau terpaksa tidak bisa hadir, ikut ujian tengah dan akhir semester dan tugas dikerjakan sudah pasti lulus. Beda dengan ketika mahasiswa hendak menulis tugas akhir, harus merumuskan masalah sendiri, mencari buku referensi sendiri, menulis proposal penelitian sendiri, dll. Karena semua harus dikerjakan sendiri, termasuk harus datang menghadap atau konsultasi dengan dosen pembimbing sednri, tak mungkin diwakilkan. Dan, menulis artikel jurnal hasil penelitian sendiri maka dibutuhkan waktu yang lama.
Bukti lain sebagai pembaca aktif adalah rajin menulis. Terserah mau menulis apa, menulis dalam bentuk Blog, silahkan. Menulis di media sosial, seperti facebook, silahkan. Biasanya, hanya yang rajin membaca aktif yang rajin menulis. Termasuk menulis buku

Post a Comment

Previous Post Next Post