Membaca dan Menulis untuk Melawan Kebodohan.

 

Ini salah satu "concern" saya selama ini: Menyangkut minat baca. Bagaimana menumbuhkan agar membaca menjadi kebiasaan, kegemaran, membudayakan literasi, sejak dini dan tak kenal batas usia. 

Kebangkitan RRC di bidang ekonomi hingga jadi pemain ekonomi dunia yg amat diperhitungkan, tak terlepas dari program pemerintahnya memperkuat perbukuan, mengembangkan riset dan pendidikan.

Pemerintah RRC rela mengeluarkan uang banyak utk membeli lisensi penerbit-penerbit buku internasional (Barat) agar bisa mencetak berpuluh juta buku, hasil riset, dan disebarkan di sekolah-sekolah dan kampus. Penugasan-penugasan utk siswa-mahasiswa, kurikulum pendidikan, metode pengajaran, terus-menerus dikembangkan dng dukungan dana besar utk penelitian dan penerbitan. (Menurut laporan koran China Daily thn lalu).

India pun begitu. Telah lama industri buku dan pendidikan setara mutu kampus-kampus Barat diprioritaskan, dng cara membeli lisensi, menerbitkan dng harga murah (segala bidang ilmu dan pengetahuan termasuk sastra dan novel populer), menekankan budaya literasi--membuat penulis-penulis India berkembang, bisa hidup makmur bahkan kaya raya, dan penerbitan amat maju (saya pernah memborong buku saat ke sana krn relatif murah, semua berbahasa Inggris).

Budaya atau kegemaran membaca pulalah jalan menuju kemajuan, membuka wawasan seluasnya, mengembangkan intelektualitas, mendorong kreativitas dan penemuan, menyumbang peradaban, menyadarkan betapa penting penghargaan atas kehidupan dan kemanusiaan.

Penghormatan atas manusia, alam, ekosistem, keberadaban, seni-kebudayaan, menjadi lebih kuat dng banyak membaca. Pun, akan ikut menentang segala bentuk kekejaman dan pelanggaran HAM. Maka percuma melakukan upaya menindak para bigot, orang-orang intoleran, bila hanya lewat tindakan atau pencegahan, krn itu hanya sesaat, menyangkut aksi-reaksi.

Tradisi literasi dan pengembangan intelektualitas yg menekankan akal sehat, logika, nalar, dan humaniora yg mempengaruhi jiwa dan "rasa"-lah yg mampu menghambat atau mereduksi. Semakin banyak seseorang membaca, semakin sering berpikir. Semakin senang berpikir, akan semakin menyadari berbagai hal yg sebelumnya tak disadari--termasuk heterogenitas masyarakat, keunikan tiap entitas, dan betapa kayanya dunia ini dng perbedaan.

Dari situlah muncul akar toleransi, legitimasi pada yg tak sama, penghormatan atas keragaman, kesadaran pada realitas.

Dng membaca dan menulislah manusia melahirkan kreasi, menggali ide, menyebarkan pada yg lain, mempengaruhi pembentukan mind set, cara pandang, menekankan pemahaman (understanding), dsb, kemudian: membenihkan pengakuan atau penghormatan pada yg lain, yg tak sama. Literasi, buku, sungguh memang jendela-jendela yg memperlihatkan betapa dunia amat luas, penuh warna , keyakinan, dan kompleks, selain unik.

Kesadaran dan kebutuhan mementingkan pengisian pikiran yg mengedepankankan rasio, akal sehat, logika, nalar, yg membangun sikap dan pikiran kritis serta mengisi kekosongan ruang spiritualitas--antara lain melalui seni, sastra, budaya, atau humaniora--yg mampu mengadabkan individu dan suatu bangsa. Saya percaya itu. Dan dampak kelengahan itulah saya kira yg kini menjadi problema kita.

Oya, leluhur orang Batak telah mengingatkannya sejak zaman baheula melalui satu petuah: "Nabisuk do nampuna hata, naoto tu panggadisan" (Hanya orang cerdaslah yg berjaya, sementara orang bodoh akan jadi korban. Dikorbankan orang-orang yg lebih cerdik atau lebih kuat).

Horas Indonesia, mari kita membaca dan menulis agar tak jadi korban manipulasi orang kuat atau orang bodoh yg nekat..

 

by:Suhunan Situmorang

0 Response to "Membaca dan Menulis untuk Melawan Kebodohan."

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel