-->

Kampung Halaman: Ditinggalkan Agar Dirindukan [Pulo Samosir]

Tak ada tempat yang lebih indah selain kampung halaman sendiri, demikian satu pengakuan yang pernah terbacaku. Entah siapa yang menuliskan, lupa. Teta

 

(aek natonang, danau diatas danau)


Tak ada tempat yang lebih indah selain kampung halaman sendiri, demikian satu pengakuan yang pernah terbacaku. Entah siapa yang menuliskan, lupa. Tetapi memang, seolah tak terbantah.
Kampung senantiasa indah di memori ingatan dan tersimpan di batin banyak orang, betapapun misalnya, hanya satu wilayah kecil yang tandus, tak berpanorama permai, sunyi, dikerangkeng kesusahan yang disebut kemiskinan.
 
Karena itu pulalah alasan umumnya orang-orang meninggalkan kampung halaman: mencari alternatif yang lebih baik. Kampung terlanjur diidentikkan kubang kesusahan dan keterbelakangan.
Merantau merupakan jalan untuk melepaskan diri dari jeratan "keserbakurangan" yang tak jarang memilukan. Kota menjadi tumpuan harapan, atau wilayah nun jauh yang masih menjanjikan perbaikan. Orang-orang di berbagai belahan bumi berpindah tempat demi "kemajuan."
Kampung, desa, dusun, seolah asosiatif dengan keterbatasan di pelbagai bidang.
 
 
Melanjutkan pendidikan, memburuh, mencari pekerjaan, berniaga, menjadi alasan migrasi dan urbanisasi. Tetapi, kesunyian dan keterbatasan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan atau impianlah yang lebih sering menjadi motif pendorong.
Kampung, dusun, desa, "huta," seperti simbol kekurangan--juga keterbelakangan dan kemiskinan.
 
Maka, banyak orang yang meninggalkan dan tak ingin pulang, meski sekadar melongok pondok hunian semasa bersama ayah ibu dan sanak saudara; enggan membicarakan kehidupan ketika di kampung karena dianggap bisa memerosotkan kebanggaan.
Orang-orang pun lebih senang dijuluki "orang kota" ketimbang "orang kampung." Kampung telah berkonotasi keterbelakangan, seperti antonim kemajuan. Orang kampung dibayangkan atau dipersepsikan: orang yang tertinggal dalam beberapa hal, antara lain: selera, penampilan, cara berbusana, tata krama makan, gaya bicara, dan sebagainya.
Orang Batak menjuluki "parhutahuta," suatu penilaian yang dikaitkan dengan keudikan, ke-norak-an, kegagapan bersikap modern, pendeknya penuh anggapan yang merendahkan seseorang.
Orang kampung, sering pula dianggap belum sepenuh disentuh modernitas, cenderung berpikir dangkal, tak lugu karena sering ngeyel atau "jugul", dan itu mengesalkan. 
 
 
        BACA JUGA: 

Anggapan tersebut kian diyakini akibat perubahan-perubahan sosial dan politik, yang dicurigai ikut menggiring orang di kampung jadi berpikir imbalanisme dan transaksional; apapun dikaitkan dengan upah, imbalan, balas jasa.
Konon, dampak pertarungan rebutan suara saat pilkada, pilcaleg, juga pilkades, salah satu penyebab yang tak bisa dianggap sepele. Mentalitas dan sikap atau pola pikir masyarakat kampung, ditengarai perlahan bergeser, tak lagi menghargai dan memercayai ketulusan atau kepercayaan (trust). Wibawa tak lagi perlu, harga diri pun demikian.
Itu tuduhan orang-orang kini pada umumnya masyarakat di antero kampung-kampung asal manusia Batak. Ketulusan, gotong royong, kian memudar akibat pelbagai hal; materi dan posisi seseoranglah yang jadi ukuran. 
 
Suatu penilaian yang tendensius atau kegegabahan yang memukul rata (generalisasi)? Suatu tuduhan yang merendahkan orang-orang yang setia menghuni huta padahal sebenarnya tak seburuk itu? Bisa jadi.
Tetapi, begitulah pandangan atau penilaian kebanyakan orang rantau--seperti Batak di Jakarta dan sekitar dan wilayah lain. Hampir semua mengungkapkan keluhan manakala bicara huta.

Boleh jadi para perantau itu telah melakukan simplifikasi, menggampangkan penilaian karena hanya sebentar mengamati lantas menyimpulkan. Bisa jadi pula realitas sosial memang tak meleset dari penilaian yang minor itu.
"Di kampungku, orang sinis dan congkak sekarang yang dominan," keluh satu kawan asal Humbang yang meluapkan kejengkelan pada pertemuan kami di satu kedai kopi, di wilayah Jatinegara.
"Mata duitan sekarang orang-orang di kampung kita, apa saja diukur dengan duit," kata satu kawan par Samosir yang kecewa sepulang dari pemakaman orangtuanya di satu desa arah selatan Samosir.
"Tetapi begitupun, kita tetap rindu kampung. Sering mengingat dan ingin segera terbang," kataku sekadar melunakkan kekecewannya.
"Itulah..."

Kampung halaman, huta, memang sering dipandang dan dituntut secara sepihak oleh orang-orang rantau. Banyak perantau menghendaki manusia-manusia yang mendiami kampung berdasarkan imajinasi yang terbentuk di benak mereka.
Dengan kata lain, para perantau cenderung berilusi bahwa masyarakat di kampung atau penghuni huta merupakan orang-orang polos dan bersahaja, yang tak memiliki kebutuhan dan tantangan sebagaimana orang rantau atau kota.
Mereka seperti naif, tak menyadari bahwa kebutuhan orang rantau dan yang tinggal di huta pun tak beda; perubahan yang terjadi di kota atau wilayah rantau pun berdampak atau terjadi pada masyarakat kampung atau desa; budaya, sikap, dan pola pikir orang rantau yang disebut semakin egoistis, materialistis dan oportunistis, pun merembet ke pelosok-pelosok negeri ini.
Artinya, tanpa membantah seluruh tuduhan dan penilaian para perantau dari Tano Batak dan sekitar terhadap masyarakat yang tetap mendiami kampung atau huta, pergeseran sikap dan pandangan masyarakat sebetulnya terjadi pada hampir semua wilayah, tak hanya di Tano Batak.

Apakah penyebab? Banyak. Para sosiolog dan antropolog lebih sah menyodor, mereka bisa menjelaskan dengan bantuan teori-teori dan referensi keilmuan untuk menganalisa fenomena maupun realita.
Hasil amatan dan analisis mereka, setidaknya lebih objektif, dimensional, memenuhi kaidah-kaidah keilmuan, hingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Bukan hanya asumsi atau simpulan dari permukaan belaka, yang bisa bias dan subjektif.
Namun kampung halaman, huta, betapapun kerap dikeluhkan dan banyak pula yang melupakan hingga anak keturunan tak tahu di mana kampung orangtua atau ompung, selalu saja terlihat indah manakala gambar atau fotonya dipandang. 
 
Orang-orang (Batak khususnya) sering terpesona melihat gambar suatu huta, lalu berkomentar: indah, amazing, awesome, dan sebagainya. Sejujurnya memang indah, kendati ada kontradiksi di balik keindahan tersebut: hanya ingin dilihat atau dikunjungi beberapa hari, karena selanjutnya muncul gelisah yang menggerakkan langkah.
Kepada kampung halaman, huta, dengan suara lirih para perantau itu tak jarang berkata: harus ditinggalkan agar dirindukan...

You may like these posts

  1. To insert a code use <i rel="pre">code_here</i>
  2. To insert a quote use <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. To insert a picture use <i rel="image">url_image_here</i>
Berkomentarlah dengan bijak !!!