-->

Apakah ajaran sesat itu ada?

Sebuah Analogi: Apa arti sesat? Tersebutlah ada seorang raja, penguasa sebuah negeri pulau yang sangat maju yang disebut Negeri Fana.

Sebuah Analogi: Apa arti sesat?

Tersebutlah ada seorang raja, penguasa sebuah negeri pulau yang sangat maju yang disebut Negeri Fana. Sang raja ini, sebut saja namanya Crazer, terobsesi dengan cerita top secret dari raja-raja sebelumnya (ayah, kakek, dan moyangnya) tentang sebuah pulau impian yang sangat indah yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa.


Sayangnya, meski cerita tentang pulau impian tersebut sangat rinci baik mengenai alamnya, gambaran jalan menuju pulau, serta berbagai rintangan yang mesti dilewati, tetapi belum satupun leluhurnya yang pernah mencapai pulau tersebut. Pulau impian itu sangatlah jauh, ada ratusan pulau, puluhan gosong karang, serta beberapa selat sempit yang harus dilalui untuk sampai ke pulau tersebut.


Baca Juga: Hidup ini (antara ada dan tiada)


Untuk mewujudkan impiannya itu Crazer lalu meminta pujangga kenamaan kerajaan untuk menuliskan deskripsi pulau impian tersebut lengkap dengan penjelasan mengenai arah dan rintangan perjalanan menuju pulau tersebut sesuai dengan cerita yang dia tuturkan.


Begitu buku yang diberi judul “Pulau Impian” itu selesai Crazer meminta jendral angkatan lautnya yang paling berpengalaman, sebut saja Jendral Mania, untuk memimpin armada pelayaran menuju Pulau Impian menggunakan “buku petunjuk” yang baru saja disusun itu.


Berbekal buku panduan yang mereka sebut ‘divine book’ itu Jendral Mania mulai mengadakan briefing dan pelatihan singkat kepada semua awak kapal yang akan tergabung dalam armada pelayaran agung tersebut, mulai dari kapten, navigator, juru mudi, hingga juru mesin.


Materi pelatihan yang utama adalah bagaimana membaca dan menginterpretasikan symbol dan istilah-istilah dalam the divine nautical chart secara tepat.


Singkat cerita, berangkatlah 10 kapal dalam armada pimpinan Jendral Mania, berlayar menuju pulau impian. Ketika armada sampai di sebuah pulau (pulau pertama dari ratusan pulau lagi) komandan armada mengumpulkan 10 kaptennya untuk membahas rute pelayaran keesokan harinya.


Baca Juga: Memprediksi kehidupan dimasa depan


Diskusi ternyata berjalan alot. Salah satu kapten memiliki pendapat berbeda dengan jendral dan 9 kapten lainnya. Akibat perselisihan itu si-kapten pembangkang memutuskan diri berpisah dari armada dan dia membuat ‘peta pelayaran' (nautical chart) sendiri sesuai dengan pendapatnya itu.


Rombongan yang masih tergabung dalam armada ( 9 kapal) pun mencibir kapten pembangkang dan anak buahnya sebagai pelaut sesat dan bodoh. Sebaliknya anak buah kapten pembangkang,karena yakin akan kehbetan kapten mereka, sebaliknya justru mencibir Jendral Mania sebgai jendral bodoh yang tidak bisa membaca nautical chart.


Berikutnya, setiap kali armada pimpinan Jendral Mania sampai di sebuah pulau kejadian serupa (diskusi alot) terulang. Sehingga akhirnya kesepuluh kapal yang tadinya berangkat bersama berbekal ‘buku petunjuk’ yang sama, berpencar berlayar sendiri-sendiri menggunakan ‘peta’ masing-masing. Seperti kejadian pertama, masing-masing awak kapal merasa hanya kapal-nya saja yang berlayar pada rute yang benar, yang lain sesat semua.


Awak kapal manakah diantara 10 kapal tersebut yang pantas yakin bahwa mereka berlayar pada rute yang tepat, sementara 9 kapal lainnya berlayar pada rute yang salah?


Tidak satu pun yang pantas mencibir yang lainnya. Sebab, tidak satu pun dari mereka yang sudah berhasil menemukan pulau sasaran. Mereka masih sama-sama terapung di tengah lautan, baru melewati sebagian kecil pulau dari ratusan pulau-antara yang dideskripsikan dalam buku panduan.


Mereka menganggap rute mereka benar, yang lainnya salah, semata-mata didasarkan pada kesetiaan/kepatuhan buta pada sosok kapten masing-masing, bukan pada pengalaman otentik.


Analog dengan itu, ajaran agama pun, sepertinya tidak ada yang layak disebut ‘ajaran sesat’ karena kita tidak tahu ‘ajaran yang benar’ itu yang mana.


Satu-satunya bukti kebenaran ajaran adalah sampainya seseorang pada keadaan yang dijanjikan oleh ajaran tersebut seperti kehidupan setelah mati, kelahiran kembali (reinkarnasi), atau keberadaan surga dan neraka.


Sejauh ini, sepanjang sejarah agama, semua pihak hanya merasa benar berdasarkan keyakinan pada sosok otoritatif yang dianggap ahli, alim, kharismatik dan suci.


Tetapi tidak ada satu pun manusia sekarang ini, baik dia seorang guru, biksu, pendeta, ulama, atau kiyai yang bisa memastikan/membuktikan kebenaran-mutlak dari doktrin yang diajarkannya itu.

Sumber: id.quora.com/Mohammad Kanedi

You may like these posts