-->

Apa pola pikir yang harus dimiliki setiap orang?

Carol S. Dweck adalah seorang Profesor Psikologi Lewis dan Virginia Eaton di Universitas Stanford. Sebelum bergabung dengan Universitas Stanford pada


Carol S. Dweck adalah seorang Profesor Psikologi Lewis dan Virginia Eaton di Universitas Stanford.

Sebelum bergabung dengan Universitas Stanford pada tahun 2004, Dweck dikenal karena karyanya pada sifat psikologis pola pikir dan telah mengajar di Universitas Columbia, Universitas Harvard, dan Universitas Illinois .

Selama dua puluh tahun, Dweck telah meneliti dan menemukan bahwa bagaimana pola pikir kita memengaruhi cara kita menjalani hidup.

Bahkan itu menentukan apakah kita bisa menjadi orang yang kita inginkan atau tidak.

Tapi, bagaimana bisa sebuah pola pikir bisa memberikan kekuatan untuk mengubah psikologis kita atau bahkan hidup kita?


Di dalam bukunya yang berjudul Mindset, Dweck membagi pola pikir ke dalam 2 jenis:

1. Fixed mindset

  • Adalah pola pikir dimana orang-orang percaya bahwa kualitas mereka atau orang lain adalah sifat yang pasti, mutlak dan tidak dapat berubah. Orang-orang ini lebih percaya bahwa pembelajaran dan kecerdasan adalah bawaan alam, bukan hasil dari kerja keras. Mereka juga percaya bahwa bakat adalah faktor yang mengantar seseorang pada kesuksesan, sedangkan usaha tidak diperlukan.

2. Growth mindset

  • Adalah pola pikir di mana orang-orang memiliki keyakinan mendasar bahwa pembelajaran dan kecerdasan dapat tumbuh dari pengalaman seiring waktu. Mereka percaya bahwa usaha yang dilakukan dengan benar dan dengan waktu ekstra akan memberikan efek kepada kesuksesan yang ingin mereka capai.

FIXED MINDSET VS GROWTH MINDSET

1. Dalam Melihat Kemampuan

  • Fixed mindset
    • Dalam menilai orang lain,mereka akan mudah menilai seseorang berdasarkan apa yang dia tahu dan langsung melabeli seseorang dengan “pintar atau bodoh”. Itu semua karena mereka percaya bahwa setiap orang dilahirkan dengan tingkat kecerdasan atau kemampuan yang tetap dan tidak dapat dimodifikasi.
    • Dalam menilai diri sendiri, mereka akan selalu ingin tampil cerdas. Orang-orang ini takut terlihat bodoh dihadapan orang-orang. Ingat dengan mereka yang sok pintar? Nah!
  • Growth mindset
    • Dalam menilai orang lain, mereka percaya bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat dikembangkan dengan upaya, pembelajaran, dan kegigihan. Mereka tidak akan melabeli orang dengan kata “bodoh atau pintar”. Itu semua karena setiap orang memiliki kemampuan dasar atau potensi yang bisa dikembangkan.
    • Dalam menilai diri sendiri, mereka tidak akan malu untuk mengakui ketidaktahuan terhadap sesuatu. Orang-orang seperti ini justru akan menjadikan ketidaktahuan mereka sebagai alat untuk berkembang.

We all have ability. The difference is how we use it.

— Stevie Wonder


2. Dalam Melihat Kegagalan

  • Fixed mindset
    • Ketika mereka menghadapi kegagalan, mereka tidak akan mau mengeluarkan energi dan usaha lebih karena mereka menganggap bahwa kegagalan adalah sesuatu yang final.
  • Growth mindset
    • “Temukan cara lain!” Itulah semangat orang dengan growth mindset. Mereka akan melihat kegagalan sebagai pembelajaran, sebagai latihan untuk berkembang, dan bukanlah sesuatu yang final. Bayangkan jika Thomas Alva Edison memiliki fixed mindset. Mungkin kita tidak akan pernah melihat seperti apa lampu itu.

I have not failed. I’ve just found 10,000 ways that won’t work.

— Thomas A. Edison


3. Dalam Melihat Tantangan

  • Fixed mindset
    • Jika tantangan itu sesuai dengan kemampuan mereka, itu adalah hal yang perlu diapresiasi. Tetapi, jika tantangan itu di luar kemampuan mereka, mereka akan berhenti, berbalik arah dan menyerah. Inilah penyebab mengapa kita suka materi perkalian daripada algoritma.
  • Growth mindset
    • Tantangan mudah akan dilihat sebagai hal yang tidak akan memberikan banyak perkembangan kepada diri mereka. Sedangkan ketika menemukan tantangan sulit, mereka tidak akan mengeluh dan justru akan bersemangat untuk menemukan cara agar bisa menyelesaikannya.

We don’t grow when things are easy. We grow when we face challenges.


4. Dalam Mendidik Anak

  • Fixed mindset
    • “Kamu belajar dengan sangat cepat, kamu anak pintar” Itulah pujian orangtua yang memiliki fixed mindset. Padahal jika kita selami lebih dalam, pujian tadi diartikan oleh anak kecil menjadi “Jika aku tidak belajar dengan cepat, berati aku bodoh”. Maka sebagai orangtua jangan puji anak berdasarkan intelegensi mereka karena itu akan mempengaruhi performa mereka.
  • Growth mindset
    • Orangtua dengan growth mindset akan memuji berdasarkan usaha anak mereka. “PR adek banyak dan tidaklah mudah, ayah dan ibu mengagumi cara adek berkonsentrasi dan usaha untuk menyelesaikannya”.

Anak yang dididik oleh orangtua yang memiliki fixed mindset akan menghasilkan pribadi dengan fixed mindset juga.

Pujian seharusnya ditujukan untuk hasil jangka panjang, bukan jangka pendek.

Praise should deal, not with the child’s personality attributes, but with efforts and achievements.

— Carol Dweck


5. Dalam Sebuah Hubungan

  • Fixed mindset
    • “Kamu yang salah”. Pasangan yang sama-sama memiliki fixed mindset justru tidak akan menemukan solusi terhadap suatu masalah karena mereka lebih berfokus kepada siapa yang salah, bukan apa masalahnya. Mereka lebih suka menjalani hubungan yang biasa-biasa saja—tidak ada dorongan dari satu sama lain untuk menjadi lebih baik.
  • Growth mindset
    • Sebaliknya, ketikda dihadapkan pada suatu masalah, pasangan dengan growth mindset akan fokus kepada solusi, bukan siapa yang salah. Mereka selalu mendorong satu sama lain untuk menjadi versi yang lebih baik. Mereka tidak keberatan untuk belajar banyak hal yang tidak mereka ketahui. Hal semacam itu justru akan menjadikan hubungan mereka bukan hanya sekedar alat untuk menjalin cinta, tetapi juga sebagai alat untuk berkembang. Asseeek!

If you kiss my neck. I’m not responsible for what happens next.

— Lah, kaga nyambung woi!


6. Dalam Melihat Kritik

  • Fixed mindset
    • Mereka hanya akan mengambil sesuatu yang cocok dengan mereka. Yang tidak? Baiii!
  • Growth mindset
    • Mereka akan mengambil hal yang baik dan yang buruk untuk memandu dan menjadikan mereka orang yang lebih baik.

The trouble with most of us is that we would rather be ruined by praise than saved by criticism.

— Norman Vincent Peale


7. Dalam Melihat Keberhasilan Orang Lain

  • Fixed mindset
    • “Alah, itu paling hasil dari ngepet!”. Mereka adalah orang yang iri dalam melihat keberhasilan orang lain. Mereka bahkan menganggap itu sebagai ancaman bagi mereka.
  • Growth mindset
    • Akan melihat keberhasilan orang lain dari sisi yang lain. Mereka akan menjadikannya sebagai inspirasi untuk bekerja lebih keras, menjadikannya sebagai motivasi, bahkan memilih belajar dan bertukar ilmu kepada mereka.

People who can’t stand to see the success of others will never experience their own.


8. Dalam Kepemimpinan

  • Fixed mindset
    • “Semua dengar saya!” Pemimpin dengan fixed mindset akan selalu dan harus terlihat superior di antara yang lainnya. Orang seperti ini harus menjadi pahlawan di setiap masalah yang dihadapi.
  • Growth mindset
    • “Jika semua sudah berpendapat, mari kita diskusikan bersama”. Pemimpin dengan growth mindset akan mengayomi dan tidak mengenal istilah inferior atau superior. Semua dalam tujuan yang sama sehingga bekerja secara tim adalah hal yang lebih bijak untuk menemukan solusi yang terbaik.

Bad leaders believe that they have to project control at all the times.

— Simon Sinek

Jadi, pola pikir mana yang Anda pilih?

You may like these posts