Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Amati, Tiru, Customizing, Modifikasi dan Inovasi (ATCMI)--Strategi Kemajuan Indonesia

“Startegi Kemajuan Indonesia: Amati, Tiru, Customizing, Modifikasi dan Inovasi (ATCMI)”

 

 Indonesia, Jerman dan Amerika – 3 Elang yang berbeda nasib

 Lupakan sejenak Perang Dagang USA vs RRT. Lupakan sejenak tentang Uni Eropa dengan Motor Penggeraknya Jerman didampingi Perancis. Lupakan juga dengan kemajuan dan kekurangan yang terjadi pada negara sekelas Indonesia seperti: Brazil, Rusia, India, Meksiko dan Turki. Kita melihat sejenak Indonesia, lalu kita bandingkan dengan Jerman dan Amerika.

Jenengan bertanya, kenapa kok Indonesia dibandingkan Jerman dan Amerika? Jawabannya sederhana tapi Filosofis: „Dikarenakan Lambang Negara ke 3 bangsa tsb punya Simbol yang sama: Elang nan Perkasa! Hanya nasib mereka saja yang kayaknya berbeda.

Amerika nggak usah ditanya saat ini adalah masa Pax America. Hegemoni Amerika secara negara di segala bidang menguasai semuanya. Meskipun secara penduduk mereka timpang antara kaya dan miskin tapi secara negara USA amat hebat. Masalahnya apakah Amerika bisa bertahan terus ditengah gempuran hebat produk murah Cina?

Jerman secara Ekonomi amat perkasa; saat ini Jerman mengalami „Wirtschaftwünder“ atau „Miracle Economy“ untuk kedua kalinya setelah dulu tahun 70-an, sekarang berulang lagi. Jerman saat ini berada di puncak sejahtera. Selain itu berdekade Jerman pemegang Eksport No: 1 dunia. Masalahnya apakah Jerman mampu selamatkan Uni Eropa yang sampai saat ini belum sepenuhnya lepas dari krisis satu ke krisis selanjutnya?

Sekarang kita kembali ke Indonesia yang punya simbol mirip dengan Jerman dan Amerika, sama-sama bersimbol Elang nan Perkasa. Apakah Indonesia bisa menyusul kejayaan Amerika dan Jerman?

Jika melihat sejarah Kejayaan Sriwijaya yang pernah jadi penguasa Laut Cina Selatan, jika melihat kejayaan Majapahit yang mampu menyatukan gugusan 17 ribu Pulau yang luasnya seluas Uni Eropa, jika kita melihat artifak-artifak peradaban kita seperti Borobudur dan Prambanan, maka sejarah nenek moyang mengatakan kita mampu menjadi negara Pemimpin.

Penulis Jerman Andreas Lorenz dalam tulisannya: „Die asiatische Revolution: wie der „neue Osten“ die Welt verändert“ (kira-kira terjemahan harafiahnya: Revolusi Asia: bagaimana „Timur Baru“ merubah dunia) maka si Lorenz ini menyebut 3 Nama: Cina, India dan ASEAN yang dipimpin Indonesia. Lorenz menyebut Jepang dan Korea sebagai negara hebat, juga menyebut negara kecil Singapura, hanya bagi dia yang menarik dicermati adalah Cina, India dan ASEAN dibawah kepemimpinan Indonesia.

Nah, jika Indonesia mampu memimpin ASEAN maka Indonesia dan ASEAN akan merubah dunia dengan wajah baru. Sesungguhnya menurutku Indonesia justru lebih hebat dari dugaan Lorenz. Indonesia tidak cuma bisanya mainkan kartu ASEAN, Indonesia punya legitimasi untuk memainkan 2 kartu lain yang juga amat sangat penting yaitu kartu OKI (Organisasi Konferrensi Islam) dan kartu Non-Blok.

Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, ini potensi Indonesia untuk bisa me-lead OKI sehingga bisa ikut membangun tatanan dunia. Sebagai Pendiri NonBlok serta Konferensi Asia Afrika maka Indonesia punya legitimasi me-lead negara-negara non blok.

Nah, masalahnya begitu banyak potensi yang dimiliki Indonesia kenapa kok kita tetap lemah dan tidak percaya diri seperti Cina dan India?

Tidak ada jawaban yang cespleng untuk hal ini tapi mari kita lihat cara Cina dan India memimpin dunia serta cara Jepang dan Korea mengimbangi kemakmuran negara-negara maju barat seperti Amerika, Jerman, Perancis dan Inggris.

Strategi „Made in Cina“

Cina menerapkan strategi memproduksi barang2 buatan Cina dengan biaya murah. Dengan pengetahuan teknologi yang dia dapat dari barat, dia produksi barang. Awalnya barang-barang tersebut kualitasnya tidak kompetitif tapi dijual amat murah jadilah laku terjual. Lalu pendapatan yang masuk digunakan untuk R&D, lalu melakukan inovasi yang lama-lama kualitas produknya kompetitif. Jadilah sekarang industri Cina merajalela. Cina mencontoh cara ini dari Jepang dan Korea.

   

  Baca Juga: Membedah sikap Macron dan Ideologi Prancis kedepan

 

Strategi „Make in India“

India menerapkan strategi aliansi dengan negara-negara maju. Produk apapun yang canggih-canggih seperti IT, Manufaktur, Aeronautik, Perkapalan, dll dari industri-indusri hebat negara maju diproduksi di India atas alasan cost effective atau low cost dan dibuat oleh para Insinyur India. Ini membuat India jadi menguasai teknologi terbaru melalui transfer. Akibatnya begitu banyak produk canggih meskipun di-labelling produk negara maju tapi itu sesungguhnya „Make in India“, dibuatnya di India.

Nah, kenapa mereka bisa lakukan itu semua? Ternyata jawabannya baik Jepang, Korea, India dan Cina itu SAMA: DIASPORA mereka lah yang membuat negara-negara mereka bisa menjadi maju. Para warga negara perantauannya di negara maju lah yang menjadi „BRAIN-HUB“ sehingga tanah airnya maju.

Strategi mereka adalah: Amati, Tiru, Customizing, Modifikasi dan Inovasi (ATCMI). Jepang, Korea, Cina dan India itu mengirimkan ratusan ribu para orang pinternya belajar ke Barat yang lebih maju TAPI mereka „DILARANG“ PULANG!

Mereka dipaksa di negara maju tsb membangun ROOT-nya atau akar hidupnya yang ini memaksa para diasporanya justru akhirnya belajar bagaimana cara berpikir masyarakat negara yang maju agar bisa hidup survive!

Lalu setelah mereka benar-benar bisa beradaptasi maka mulaikan mereka menaikkan karirnya di berbagai sektor industri dan riset negara-negara maju. Beberapa dekade kemudian, bahkan pada kasus Korea dan Cina tidak cuma itungannya dekade tapi itungannya sudah ganti generasi. Nah para Cina dan Korea perantauan biasanya di generasi ke 2, bahkan ada yang ke 3 inilah yang amat kuasai industri negara maju lalu bekerja sama dengan tanah nenek moyangnya. Ini dilakukan bukan satu atau dua orang tapi ratusan ribu bahkan klo Cina itu jutaan bersama-sama.

Jadilah terjadi alih transfer teknologi. Mereka-mereka para perantauan di generasi kedua banyak yang duduki posisi Professor atau Kepala Riset jika di dunia akademik, serta menduduki Posisi Direktur jika di dunia profesional. Nah mereka ini yang bantu tanah airnya hanya bahkan ini baru bisa dilakukan sampai ganti generasi!

India juga sama, para industrialis India itu umumnya generasi ke 2 atau ke 3 di perantauan negara maju khususnya Inggris yang dulu negara penjajahnya atau Amerika, Kanada dan Australia. Mereka-mereka inilah yang melakukan transfer teknologi ke negara moyangnya.

Jepang agak sedikit berbeda. Meskipun diaspora Jepang itu tidak selama Diaspora India, Cina dan Korea tinggal di negara maju, tapi kemajuan Jepang mencontoh negara Maju sudah dimulai sejak Restorasi Meiji. Jepang itu sudah sejak berabad-bada mendatangkan para ahli barat untuk melakukan restorasi. Jadi, intinya baik Jepang, India, Cina dan Korea itu cara majunya sama: MELAKUKAN Amati, Tiru, Customizing, Modifikasi dan Inovasi (ATCMI) dari Negara Maju/Barat.

Adakah cara lain selain Amati, Tiru, Customizing, Modifikasi dan Inovasi (ATCMI)? ADA, yaitu dengan mandiri membuat RISET sendiri di atas kaki kita sendiri. Seperti itu lah yang dilakukan negara Barat. Hanya negara Barat melakukannya sejak sebelum jaman Aufklarung atau Renaissance yang puncaknya adalah Revolusi Industri.

Jadi, tradisi mereka melakukan riset mandiri itu sudah hampir 1.000 tahun dimana Universitas-Universitas Tua Eropa umurnya ada yang sudah 1.000 tahun dan kebanyakan sudah berumur 700 tahun. Berangkat dari hal ini secara fakta bangsa Asia sudah ketinggalan. Jepang, India, Korea dan Cina tahu akan hal itu makanya mereka pakai strategi: Amati, Tiru, Customizing, Modifikasi dan Inovasi (ATCMI) dari Negara Maju.

Nah, kenapa Indonesia TIDAK pakai Strategi yang sama: Amati, Tiru, Customizing, Modifikasi dan Inovasi (ATCMI) dari Negara Maju?

Jawabnya: kita sebagai negara bangsa tidak sungguh2 mau melakukan itu. Baik Pemerintah, Swasta maupun Masyarakatnya benar-benar tidak paham prasyarat untuk melaksanakan strategi: Amati, Tiru, Customizing, Modifikasi dan Inovasi (ATCMI) dari Negara Maju.

Contoh ketidakpahamannya: Masyarakat Indonesia pasti menuntut mereka yang baru lulus kuliah Master atau Doktor di negara Barat diminta langsung pulang untuk mengabdi ke tanah air. Jika ndak pulang malah dicemooh ndak berani bangun bangsa sendiri. Umumnya masyarakat Indonesia berpikir klo bangun bangsa sendiri itu setelah lulus sekolah di LN lalu jadi pejabat publik.

Mereka ndak sadar bahwa seorang Doktor yang baru lulus itu kemampuannya baru mampu menulis sebuah tulisan berdasarkan standard ilmiah menurut standard ukuran Universitas Barat, itupun masih dibimbing oleh Professornya. Jika mereka langsung disuruh pulang, maka mereka juga TIDAK TAHU seperti apa teknologi maju negara barat itu.

Mereka tidak terlibat dalam riset-riset teknologi penting negara maju. Mereka terlibat cuma sebagai Asisten Peneliti membantu Professornya di Lab Kampus. Jadinya saat pulang mereka jelas tidak akan kuasai teknologi negara maju.

Secara amatan ku (bukan hasil riset yah), butuh 10 tahun setelah lulus seseorang harus berkecimpung secara langsung di industri atau riset2 canggih di negara tersebut dan berkompetisi kualitas dengan masyarakat profesional di negara maju agar dia bisa stabil survive. Setelah 10 tahun maka dia mulai merasakan „spirit“ and „soul“ dari teknologi negara maju yang mereka tekuni.

Lalu paling cepat setelah 20 tahunan setelah lulus, mereka mulai dapat kepercayaan dari para profesional negara maju. Itu pun paling kurang dari 10% yang berhasil dapat kepercayaan sehingga bisa terlibat dalam misi strategis. Umumnya sampai pensiun hanya jadi ekspatriat biasa, lalu misinya dilanjutkan oleh anak cucunya di generasi ke 2 dan ke 3.

Setelah mereka punya influence mempengaruhi kebijakan industri di institusinya barulah diaspora ini meletik bisa diajak kerja sama oleh Tanah Air Moyangnya. Hanya ini TIDAK BISA dilakukan 1 orang. Ini harus dilakukan ratusan ribu orang secara bersinerji. Sebelum mencapai berkecambah sampai ratusan ribu atau malah jutaan orang maka negara Moyangnya ndak bisa bersinerji dengan diaspora mereka di luar negeri.

Nah, kenapa kok Cina, India, Korea bisa berhasil dengan diaporanya?

Ini kuncinya:

SATU, kebijakan negaranya memang mendukung agar orang-orang pinternya secara MASSIF bahkan amat MASSIF sekolah ke negara maju atau Barat dan JANGAN pulang! Mereka justru „melarang“ pulang bagi yang mampu bertahan disana. Nah, begitu ratusan ribu jumlahnya barulah negaranya mengajak bersinerji dengan para diaspora ini untuk TRANSFER teknologi pakai strategi: Amati, Tiru, Customizing, Modifikasi dan Inovasi (ATCMI) dari Negara Maju.

DUA, mereka amat sabar menunggu. Cina, India dan Korea itu merasakan hasil luar biasanya setelah berdekade-dekade menunggu sampai Diaspora mereka tumbuh berkecambah begitu banyak di negara maju. Jadi, waktu yang diperlukan itu kira-kira minimal 3 dekade!

TIGA, Sektor Swastanya dilibatkan. Aku masih ingat saat kuliah IT bidang SAP Standard Software, di kelasku yang jumlahnya 25 orang itu orang Indianya 15 orang. Lebih dari setengah itu orang India! Pihak Jerman sesungguhnya ingin membatasi orang India tapi pelamar India itu bisa 10 kali lipat lebih banyak dari total pelamar negara lain.

Saat kutanya teman Indiaku yang amat miskin kok bisa ke Jerman padahal tidak dapat bea siswa. Jawab mereka: Bank India meminjamkan uang bagi mereka yang ingin sekolah di LN. Nah, karena mereka kelak harus kembalikan pinjamannya maka mereka jelas TIDAK mungkin pulang setelah lulus. Klo pulang gaji mereka kecil, jadilah mereka kerja di negara maju biar bisa bayar cicilan hutang.

Tapi dampak positifnya atas kebijakan perbankan ini adalah Diaspora Ahli IT India membanjir sak sekatenan dimana2. Nah, mereka-mereka ini lah yang misalkan membuat Perusahaan Konsultan IT India mampu menjadi World Class seperti Tech Mahnidra, Tata Consulting, Infosys dan Winpro yang karyawannya ratusan ribuan di seluruh dunia.

EMPAT, masyarakat kita justru perlu mencontoh filosofis marantau orang Minang yang itu filosofis nusantara kita. Di Minang itu malah banyak orang pintarnya disuruh keluar marantau cari ilmu dan pengalaman serta kalau perlu jangan pulang. Jadi sukses di nagari sabarang lalu dari rantau membantu Kampung Halaman.

Lah dulu jaman belum IT maju aja, para Perantau Minang mampu kok memajukan kampung halamannya tanpa pulang. Nah, kenapa saat ini bangsa Indonesia dengan kemajuan ITnya harus meminta para Disporanya pulang secara phisik sebagai bentuk membantu negeri?

Bukankah „Nationalism is not locus but contribution?!“ Jadi, kirim lah anak-anak anda sekolah ke negara maju dan jangan minta mereka pulang. Minta mereka eksis di negara tesebut lalu kelak bersama-sama memberi kontribusi ke tanah air. Jika ada ratusan ribu atau malah jutaan melakukan ini maka inilah asset utama untuk bisa transfer teknologi.

Kembali ke Indonesia: Indonesia punya potensi besar menjadi pemimpin ASEAN, OKI dan Nonblok hanya itu tidak akan bisa dimanfaatkan jika kemajuan kita jauh terbelakang. Kita perlu progresif menguasai industri dan teknologi canggih. Caranya cuma 2 yaitu:

  •  (1) Riset sendiri yang ini bahkan awalnya Jepang, Korea, Cina dan India aja tidak mampu atau
  •  (2) Amati, Tiru, Customizing, Modifikasi dan Inovasi (ATCMI) dari Negara Maju!

Jika pakai cara ATCMI maka segera kirimkan banyak orang pinter ke luar negeri dan jangan pulang. Jangan khawatir Indonesia itu ada 260 juta. Jika kita kirim 2,6 juta saja ke negara maju itu baru 1 persennya kok!

Kirimnya jangan pakai bea siswa APBN dong, kita ra duwe duit untuk itu. Tapi kerja sama dengan Perbankan agar sektor Perbankan terlibat di pembiyaan ini. Mosok bank saat ini kasih kreditnya „Cuma“ untuk beli Motor Cina doang?

Mbok perbankan pinjamin uang bagi anak-anak bangsa ini sekolah ke negara-negara maju di bidang teknologi. Ini jelas2 Perbankan ikut membangun negeri. Tinggap pemerintah susun regulasinya.

Kelak mereka yang kuliah dan berkarir di negara maju ini lah setelah beberapa dekade ke depan yang menjadi BRAIN-HUB untuk bekerja sama dengan sebangsanya di Tanah Air untuk memajukan Tanah Airnya.

 



1 comment for "Amati, Tiru, Customizing, Modifikasi dan Inovasi (ATCMI)--Strategi Kemajuan Indonesia"