Cerpen Batak-Amarah Ompu Bertha Boru by Suhunan Situmorang

    SURAT kiriman Palar yang diketik di atas kertas folio itu bagai petir pengantar senja di telinga Ompu Bertha Boru dan kelima putra-putri serta menantu-menantunya. Usai dibaca Ranap, anak sulungnya, mereka lantas bengong dan terduduk lesu di atas tikar pandan yang digelar di tengah rumah semi beton berlantai semen itu.

 Padahal, mereka baru saja pulang dari kuburan usai menggali tengkorak dan tulang-belulang Ompu Bertha Doli, suami dan bapak mereka. Belum sempat mereka bersih-bersih di kamar mandi, bahkan baru saja meletakkan keranjang rotan beralas ulos sibolang  berisi sisa-sisa jasad lelaki yang meninggal dunia pada tahun 1966 itu di atas almari pakaian yang berdiri di sudut rumah. Tak sekali pun pernah mampir di benak mereka akan menerima surat macam itu dari putra abang sepupu Ompu Bertha Doli yang mereka terima dari petugas pos sesaat mereka pulang dari kuburan membawa saring-saring  Ompu Bertha Doli. 

  Benak mereka mendadak buntu, mulut mereka bagai diserang virus bisu.   Sembilan cucu Ompu Bertha Boru yang tengah asyik menonton tivi di ruangan yang tak luas itu antas disuruh bermain di luar karena menimbulkan suara berisik. Mulanya anak-anak remaja dan bocah-bocah itu menolak, namun setelah didesak ibu, ayah, juga paman mereka dengan nada menekan, akhirnya menyingkir semua disertai gerutu. Tivi lalu dimatikan Pangidoan, adik bungsu Ranap.   "Apa maksudnya si Palar ini,,,," desis Ompu Bertha Boru memecah kebisuan, "Perbuatannya ini sudah melebihi kekejaman yang dialami bapak kalian dulu."

 Perempuan yang kian menua itu menengadahkan wajahnya ke langit-langit rumah. Matanya nampak berkaca-kaca, roman mukanya memantulkan kecewa, juga amarah. "Dia tidak berhak menentukan siapa yang boleh masuk dan tidak boleh ke tambak ompung kalian!," ucapnya tegas meski nadanya tak kuat.   Putra-putri dan menantunya merunduk dengan mulut membisu.   "Apapun yang terjadi, kita harus berangkat ke Samosir," kata Ranap memecah kebisuan. Nada suaranya berat dan serak. Ia kemudian mengambil surat kiriman Palar itu dari tangan adiknya, Tiurmaida. "Saring-saring bapak sudah terlanjur kita gali. Tak mungkin kita kembalikan ke kuburannya."   "Saya siap menikam Palar bila dia coba-coba menghalangi bapak masuk tambak!" ujar Pangidoan. "Saya tidak takut walau dia militer!"   "Jangan," sela Ompu Bertha Boru, "Jangan karena urusan orang-orang yang sudah mati malah kita timbulkan kematian."   "Tapi, ulah si Palar ini sudah kelewatan, Inong!"   "Biar. Kita biarkan dulu dia. Saya mau tahu apa dia seberani itu. Meski tidak sering jumpa, saya cukup tahu si Palar ini. Sepengetahuan saya, dia bukan orang jahat, meski pula bukan orang baik. Dugaan saya, ada yang menghasutnya."   "Kurang ajar betul si Palar ini!" ujar Ranto, adik Ranap. "Mentang-mentang anggota militer, apa dia pikir dia paling beteng di dunia ini?!"   Ompu Bertha Boru melenguhkan nafasnya, "Saya paham betul kemarahan kalian semua pomparan-ku," ucapnya kemudian, "Dan, seharusnya memang kalian harus bersikap begitu. Tapi, biarkan dulu saya yang menyelesaikan masalah ini. Besok pagi kita tetap berangkat membawa saring-saring bapak kalian."   "Inong tak perlu turun tangan. Cukup kami yang menyelesaikan masalah ini!" kata Ranap geram.   "Tidak Amang, saya harus tahu alasan si Palar membuat surat ini. Lagi pula, dia tidak berhak menentukan siapa saja keturunan ompung kalian yang boleh masuk dan tidak ke tambak itu. Kedudukan si Palar dengan kalian sama, seperti halnya semua cucu lelaki Ompu Rimbang.

 Apalagi, kita ikut kok menyumbang pembangunan tambak itu. Bila sumbangan kita dinilai tidak besar, apa iya yang lain pun lebih besar dari kita? Belum tentu, kan?"   "Tapi Inong, bagaimana kalau Palar dan kerabat kita yang mendukungnya bersikeras?" tanya Ranto agak panik. "Kita akan malu, selain kasihan bapak...."   "Dugaan saya, ada yang mempengaruhi si Palar ini. Kemungkinan besar si Jamot atau adik-adiknya. Pasti karena mereka! Sifat dan tabiat mereka memang sama persis dengan ayah mereka si Japisten itu!" ucap Ompu Bertha Boru pelnuh amarah. "Orang yang tidak beradat dia itu. Kelakuan Amangtua kalian itu, bapaknya si Jamot itu, kan tak ada bedanya dengan binatang!"   

SISA jasad Ompu Bertha Doli yang meninggal di usia 37 tahun lewat beberapa bulan, sesuai rencana akan disatukan dengan saring-saring kakek-nenek, ayah-ibu dan segenap keturunan kakeknya yang sudah lama meninggal dunia. Semua akan dihimpun di sebuah tambak napir yang sudah selesai dibangun melalui upacara Mangonghal Holi yang pelaksanannya ditetapkan 7 -9 Juli, 1994. 

  Demi upacara itu pula maka Ranap dan istrinya jauh-jauh datang dari Palangkaraya, kendati harus membayar ongkos yang amat berat untuk ukuran kantong mereka. Ranto dan istri serta dua anaknya harus tiga harian naik bus dari Bengkulu, sementara adik perempuan mereka Tiarmaida dan suami serta satu anaknya harus berlelah-lelah naik bus ALS selama dua hari dua malam dari Lubuk Linggau. Juga adik perempuan mereka Hotmaida berikut suami dan satu anaknya, harus meminjam uang dulu dari rentenir agar bisa meninggalkan Tangerang, menumpang KM Kerinci rute Tanjung Priok-Belawan,  kemudian naik bus ke Kuala Namu, Deli Serdang. Meski berat di ongkos dan meninggalkan sebagian anak, mereka dipenuhi semangat dan rasa haru selama perjalanan ke Kuala Namu. Tak sabar lagi mereka bawa kerangka ayah mereka ke Bonapasogit dan turut merayakan upacara adat yang terbilang besar itu.   Upacara Mangonghal Holi dan Panaekhon Saring-saring Ompu Rimbang berikut seluruh keturunannya yang jumlahnya 37 itu sudah digagas dua tahun lalu. Panitia upacara diketuai Letkol TNI AD Palar Maradang yang tengah bertugas di Riau.   Seluruh pomparan Ompu Rimbang diwajibkan menyumbang uang, meski dikatakan, tak soal berapa jumlahnya. Uang tersebut untuk membangun sebuah tambak napir atawa batu napir bertingkat empat dengan model piramida; kerangka dan tengkorak Ompu Rimbang serta istrinya menempati bangunan puncak, di bawah akan ditempati segenap anak dan cucunya yang telah meninggal dunia.

 Keturunan Ompu Rimbang sebagian besar menyebar ke berbagai wilayah Sumatera bagian utara dan timur, hanya dua dari lima anaknya dan tiga cucunya tetap menghuni Samosir hingga mereka meninggal dunia. Kewajiban pomparan masing-masinglah membawa tulang-belulang orangtua dan kakek mereka ke Huta Pinggan, sebuah kampung yang sunyi dan nyaris terbengkalai di ketinggian Samosir.   Sebagai anak tertua, Ranap mengambilalih kewajiban putra-putri ayahnya—yang kemudian bergelar Ompu Bertha Doli, diambil dari nama anak tertuanya—dengan cara menyumbangkan uang untuk pembangunan tambak dan biaya upacara karena kemampuan adik-adiknya, termasuk si bungsu Pangidoan yang tetap tinggal di Kuala Namu, hanya pas-pasan. Ia pula yang membayar uang sewa dua mobil Kijang berikut satu sopir dari Medan untuk membawa mereka ke Samosir. Rencananya, sesudah menggali saring-saring ayah mereka, pagi-pagi sekali langsung berangkat menuju Samosir, menyeberangi Danau Toba dengan feri Ajibata-Tomok.   


 NOVEMBER 1965, pada sebuah malam yang basah usai diguyur hujan, segerombol lelaki dewasa berbaur dengan tujuh tentara, mendobrak pintu rumah kayu yang ringkih itu. Disertai teriakan dan bentakan, mereka seret tubuh Jasman dari ranjang kayu yang tengah ia tiduri bersama istri dan kelima anaknya yang baru beranjak remaja dan tiga masih kecil. 

Jasman coba melawan, namun lantas dilumpuhkan popor senjata laras panjang yang berkali-kali dihujamkan ke ulu hatinya. Ia  kemudian diseret keluar dari rumahnya, bagaikan seekor babi, berkali-kali diinjak dan diludahi sebelum dilempar ke dalam truk beratap terpal merek Dodge yang di dalamnya sudah disesaki tubuh-tubuh penuh luka dan darah.   Mariam meraung-raung sembari memeluk anak-anaknya yang menangis dengan wajah ketakutan. Ia terus mengiba pada pimpinan tentara yang merampas suaminya, walau sebuah tamparan keras yang akhirnya mendarat di pipinya. Ranap dan Ranto kemudian mengejar truk yang melaju kencang di jalan bergelombang itu, tetapi truk reot tersebut begitu cepat melaju dan lenyap ditelan pekat malam.  

 Jasman dijebloskan ke dalam ruang penjara Tebing Tinggi bersama ribuan orang yang dituduh sejenis dengan dirinya. Tak mudah menemuinya, meski Mariam dan anak bungsunya berkali-kali datang untuk sekadar mengetahui apakah ayah anak-anaknya itu masih ada dan tetap hidup.   Tiga minggu sejak peristiwa tersebut, haha doli-nya bernama Japisten yang sebenarnya mengikuti jejak Jasman merantau ke Kuala Namu, acap menyambangi rumah Mariam yang masih diburu ketakutan bersama kelima anaknya.

 Mulanya ia mengira kedatangan sepupu suaminya itu untuk menunjukkan tanggungjawab sebagai abang ipar kepada istri dan anak-anak adik sepupunya yang sedang susah, yang dalam aturan hubungan perkerabatan Batak Toba memang suatu keharusan.   Ternyata maksud Japisten tiada lain untuk menyicipi tubuh Mariam, perempuan yang semasa gadis di Samosir sudah sering menerima pinangan lbeberapa elaki karena kecantikannya.

 Mariam menolak tegas, bahkan mengumpat Japisten dengan kata-kata kasar. Tapi karena sudah lama memendam birahi, Japisten hendak memerkosa Mariam. Perempuan 32 tahun itu meronta seraya menjerit kuat meminta tolong. Adegan tersebut akhirnya disaksikan Ranto yang kebetulan pulang lebih awal dari sawah dan kemudian spontan berteriak minta bantuan tetangga. Dua lelaki dewasa diikuti tiga ibu-ibu setengah tua mendekati rumah itu, saat Japisten masih bernafsu bagai dirasuki setan hendak menggagahi Mariam. Ia kemudian panik melihat kedatangan orang-orang, Tergopoh-gopoh dia melarikan diri melewati pintu dapur hingga celananya ketinggalan.   Setelah ditenangkan tetangga, Mariam kemudian mengadukan ulah Japisten kepada Baginda, yang juga berstatus haha doli-nya.

 Digendongnya Hotmaida yang saat itu berumur delapan bulan. Setelah berjalan sejauh tiga kilometer melewati rawa-rawa dan persawahan, mereka tiba di rumah sepupu suaminya itu. Rumah Baginda tampak lengang seperti tak ada orang.   Setelah mengucapkan, "Angkang, di jabu do ho?" berkali-kali namun tak ada jawaban, Mariam menuju halaman belakang. Tak juga ada orang. Beberapa saat kemudian Palar datang membawa dua ember kosong dari kandang babi di belakang dapur. Bocah kecil itu berkata bahwa ibunya belum pulang dari huma dan ayahnya sudah tiga mingguan pergi ke Samosir.   Belakangan Mariam tahu, Baginda, lelaki yang amat dihormati suaminya hingga manut saja ketika disertakan jadi pengurus Barisan Tani Indonesia ranting Kuala Namu itu, sebelum penangkapan suaminya langsung melarikan diri dan sembunyi di tengah rawa dan hutan payau, lalu beberapa hari kemudian berhasil menumpang bus jurusan Riau. Sebetulnya sudah ia dengar isu bahwa militer akan menangkapnya dan pengurus serta anggota BTI lainnya di kampung itu, namun tak ada usahanya untuk memberitahukan pada adik sepupunya itu. Dua tahun kemudian, Mariam turut melepas keluarga kakak iparnya itu yang akhirnya pindah ke Dumai. Di sana, kata orang-orang, Baginda aktif mengurus sebuah gereja yang belum lama berdiri, dan 20 tahun kemudian ia meninggal dunia.  


 MENDEKATI pukul 9 malam, acara Tonggo Raja di ruma bolon peninggalan Ompu Rimbang belum selesai. Suasana masih tegang, para tetua marga dan sebagian suhut masih tetap beradu cakap. Di halaman huta, orang-orang membincangkan adu mulut yang baru saja usai dengan berbagai versi. Ompu Bertha Boru berikut semua anak dan menantunya sudah diungsikan ke sebuah rumah kerabat mereka, sekitar lima rumah jaraknya dari ruma parsantian. Ia sudah beberkan segalanya, seterang cahaya bulan purnama yang menyinari Huta Pinggan.   Palar dan Jamot, juga saudara-saudara kandung mereka, sama sekali tak menyangka kedatangan Ompu Bertha Boru berikut keturunannya. Mereka terlihat gugup hingga salah tingkah. Ompu Bertha Boru kemudian menanyakan alasan Palar mengirim surat tersebut. Bicaranya tegas, garang, namun terukur—hingga amat jelas ditangkap telinga orang-orang. Palar berkelit dengan mengajukan berbagai dalih, namun Ompu Bertha Boru tidak begitu saja menerima.Setelah baku kata, ia kemudian berkata: "Masih saya simpan surat-surat dan kartu keanggotaan BTI itu, Palar. Bapakmulah ketua ranting, namun saat itu nasibnya baik karena tak sempat diciduk militer. Amanguda-mu, bapaknya anak-anakku ini, sebetulnya hanya korban bapakmu. Sebelumnya, dia tidak tertarik mengurus organisasi politik. Kau tahu itu, Palar?! Tapi, walau suamiku akhirnya harus ikut menanggung akibat karena dituduh orang PKI hingga disiksa dan mati muda di penjara Tebing Tinggi, dia tidak pernah melarikan diri. Bapakmulah pengecut karena lari dari tanggungjawab dan pura-pura jadi pengurus gereja!"   Palar terdiam. Orang-orang seakan menanti ucapan Ompu Bertha Boru berikutnya.   "Akan kukirim surat ke atasanmu mengenai keterlibatan bapakmu!" ujar Ompu Bertha Boru memungkas amarahnya.   


 Dugaan Ompu Bertha Boru tak meselet. Berdasar pengakuan Palar yang sudah pucat dan gelagapan bicara, kisruh acara Mangonghal Holi Ompu Rimbang beserta keturunannya, tak lain tak bukan karena ulah Jamot. Putra sulung Japisten itu—dan juga adik-adiknya—rupanya tetap menyimpan dendam atas keterusiran mereka dari Kuala Namu puluhan tahun lampau, tak lama sesudah kasus percobaan perkosaan yang dilakukan ayahnya kemudian menyebar ke khalayak yang akhirnya mendesak kepala kampung agar secepatnya Japisten hengkang dari kampung itu.   Mendekati hari H upacara, Jamot gencar mempengaruhi Palar agar saring-saring Jasman alias Ompu Bertha Doli tak diikutkan di tambak napir dengan alasan sangat berbahaya bagi karir militer Palar. "Amanguda kita itu kan orang merah, sangat berbahaya bagi karirmu bila ketahuan," ujarnya meyakinkan Palar melalui telepon, dua minggu sebelum pesta adat dimulai--dan Palar manggut-manggut. Kemudian ia tulis dan kirim surat yang berisikan agar keluarga Ompu Bertha Doli, amanguda-nya, tak usah dibawa ke Samosir.  


Sebelum meninggalkan rumah adat yang kian disesaki orang itu, Ompu Bertha Boru berkata lantang pada Jamot dan Palar: "Untuk kalian ketahui, ayahnya anak-anakku mati terhormat. Tidak seperti ayah kalian. Pengecut! Munafik! Pemerkosa! Dan, supaya kalian tahu, sudah kami putuskan saring-saring Ompu Bertha Doli tidak diikutkan ke  tambak Ompu Rimbang, karena kami yakin, rohnya akan gelisah bila sisa jasadnya disatukan dengan tulang dan tengkorak dua lelaki pengecut dan bejat, ayah kalian berdua.


 Saring-saring: tulang belulang danteng korak seseorang yang sudah lama meninggal Mangonghal holi upacara penggalian tulang-belulang dan tengkorak orangtua yang sudah lama meninggal dan kemudian disimpan dalam sebuah bangunan sarkofag (tambak napir, atau tugu). Panaekhon saring-saring: mengangkat dan "menguburkan" kembali tulang-belulang dan tengkorak yang sudah digali. Tambak napir/batu napir: sarkofag, kuburan besar dari bangunan beton, biasanya menampung beberapa sisa jasad orangtua yang sudah lama meninggal dunia Pomparan: keturunan Bonapasogit: kampung asal Inong: ibu Amang: bapak, namun bisa juga panggilan untuk lelaki dewasa dan berumur, juga panggilan sayang pada anak lelaki Ompung: kakek/nenek Beteng: hebat Amangtua: Pakde (Jawa) Haha doli: Abang ipar (dari garis suami) Angkang di jabu do ho: Kakak, apakah kau di rumah Tonggo raja: rapat adapt untuk menentukan mekanisme dan tata cara hajatan adat Suhut: pihak yang punya hajatan Huta: kampung Ruma bolon: rumah adat suku Batak Amanguda: Paklik (Jawa)

By Suhunan Situmorang

Post a Comment

Previous Post Next Post