Whitney Tak Lama Menari di Sidihoni by Suhunan Situmorang

 BENIH asmaraku berkecambah pada Whitney Houston tatkala diva keturunan Afro-Amerika itu baru mengeluarkan dua album. “Waktu” itu, aku masih berstatus penulis lepas untuk beberapa media internasional USA Today, Christian Sience Monitor, People, The New Yorker, Cosmopolitan, Asahi Shimbun, The Rolling Stone, dan The Sun.

Aku nekat melamar sebagai free lancer untuk media-media cetak ternama Amerika, Jepang dan Inggris itu, lantaran frustrasi disebabkan penolakan media-media cetak beken di Indonesia atas tulisan-tulisan yang kukirim. Alasan mereka selalu: tak aktual, terlalu peka isunya, atau karena tak ada lagi tempat (space). Hanya media-media selevel Pos Kota yang mau memuat artikel atau berita yang kukirim, itu pun bila berkaitan dengan kasus ceceran darah (macam pembunuhan), gosip artis, dan (maaf) ihwal malpraktek persyahwatan.
Di tengah situasi nyaris kehilangan asa, tiba-tiba redaktur USA Today mengirimiku surat (belum ada email) berikut guntingan artikel yang pernah kukirim ke media ternama Amerika itu, tentang hubungan siar-siaron (kesurupan) dan gondang Batak, sekalian menanyakan rekening bank untuk menampung honorariumku.
Aku lantas melonjak kegirangan usai baca surat tersebut. Gila! Artikel yang susah payah kutulis dengan Bahasa Inggris ala kadar itu (sebab aku hanya otodidak), akhirnya dimuat media sekaliber USA Today!
Gairahku meluap-luap untuk bikin tulisan dan kukirim ke media-media asing—kecuali yang berbahasa India, Arab, berhuruf Kanji, karena enggak mudeng.
Koran-koran domestik sudah kulupakan. Sudahlah. “Nunga sae be i," “Goodbye my darliang.” Lelah-lelah mengarang, mengetik di mesin ketik (komputer masih barang langka), mengirim lewat pos, begitu saja dibuang redakturnya ke tong sampah.
Sejak itu artikel-artikelku terus dimuat berbagai koran dan majalah kelas dunia. Honornya? Dahsyat. Penghasilanku per bulan bisa mengalahkan gaji pejabat tinggi Indonesia bila tak dihitung uang sogok jabatan. Tapi, efeknya, aku semakin jauh tak memijak bumi, apalagi kemudian media-media prestisius itu terus meminta tulisanku.
Mereka pun selalu siap membiayai perjalananku, ke mana saja. Bila kuusulkan menulis sesuatu topik atau objek yang menurutku menarik dan perlu, jarang ditolak. Misalnya, kehidupan nomaden para peternak kambing dan unta di gurun-gurun Somalia, Senegal, Etiopia; keunikan dan militansi suku Karen di pegunungan Burma; penderitaan etnis Kurdi di wilayah Irak dan Turki yang terus diburu serdadunya Saddam Husein yang dituding menggunakan senjata kimia; rekonstruksi kekejaman Polpot di Kamboja tahun 70-an; wawancara dengan Dalai Lama dan menulis suasana kehidupan di Tibet; meng-interview musikus legendaris dari Yunani, Vangelis; me-review album So-nya Peter Gabriel, hingga; menulis hasil perbincanganku dengan filsuf post-mo Derrida di sebuah kafe sekitar Champ Elyses, Paris.
***
PENDEKNYA, aku jadi pengelana macam lagunya Rhoma Irama, tiada yang tahu ke mana pun pergi. Bermodalkan ransel besar, tustel (Canon, Nikon, Leica), kertas dan pena, aku melanglangi Asia, Afrika, Eropa, Australia, wilayah Melanesia, sebelum menjejak tanah Amerika.
Kawan-kawanku pun bertambah banyak, umumnya para jurnalis dari manca negara yang berminat pada budaya, alam, arkeologi, musik, fotografi, senirupa.
Suatu ketika usai konferensi pers grup rock Guns N Roses di Budokan Hall, Tokyo, aku kenalan dengan seorang lelaki perlente yang ternyata reporter The Rolling Stone, dan lusanya kami sama-sama menemui pemusik Kitaro di villanya yang memukau di kaki Gunung Fuji. Wartawan kelahiran Vancouver yang ternyata dekat dengan Geddy Lee, vokalis sekaligus basisnya grup rock Rush yang juga kukagumi itu, kemudian memintaku agar sesekali menulis untuk majalah musik paling top di bumi itu—yang tentu saja langsung kusanggupi, apalagi honornya gede banget untuk ukuran penulis Melayu, yang sering empot-empotan membiayai hidup.
Aku pun meliput show grup metal Sepultura di Jakarta, juga ketika Metallica konser di Stadion Lebak Bulus yang berakhir rusuh itu. Liputan-liputanku, ternyata disukai The Rolling Stone, karena kata editornya: khas, unik, ada unsur sosio-psikologisnya (maksud mereka mungkin, agak kampungan).
Memang, dalam tiap liputanku, selalu kususupkan suasana menjelang dan sesudah konser, misalnya, kehadiran ribuan penonton yang pe’de sekali datang ke stadion tanpa karcis. Juga, kesialan para pedagang asongan karena dagangan dan gerobak mereka (terutama tahu goreng Sumedang dan air minum kemasan) kerap porak-poranda dirampok massa pecandu musik rock yang tak bermodal.
***
KETIKA Whitney Houston live di Taipei, tak kusangka, The Sun (UK) meminta aku yang meliput karena wartawan mereka mendadak semaput sebab kebanyakan makan sea-food. Kebetulan. Pucuk dicinta, ulam tiba. Meski pengagum Aretha Franklin dan Randy Crawford, sudah lama aku jatuh cinta pada si jeng item manis yang semasa kanak dan remaja aktif mengisi choir di gerejanya yang senantiasa meriah dengan khotbah pendeta bergaya Blues Brothers itu.
Ketika jumpa pers, aku berusaha tampil maksimal dengan harapan yang paling sederhana: Whitney sudi melirikku, sekedip saja. Saat itu, kukenakan celana jins hitam, bersepatu boot dan T Shirt putih (made in Cihampelas) yang kupesan mendadak dengan sablon bertuliskan: “Whitney nauli lagu. Olo ma au mate molo dang hujalang tanganmi!” (Whitney yang cantik, aku bisa mati bila kau tak menyalamku!).
Bah puang! (bisa juga diartikan: Oh my God), sungguh tiada pernah kuduga. Sejak kami bersitatap, mata Whitney jadi terbidik terus ke arahku. Ia bahkan jadi tak mau lagi menjawab pertanyaan para wartawan! Matanya yang indah terus mengerling ke arahku; aku tersihir dan hanya mampu berdiri termangu macam patung sigale-gale di depan ruma bolon Tomok itu.
Ia kemudian turun dari podium lalu menemuiku seraya menyisihkan kerumunan para bodyguards, panitia konser, dan puluhan jurnalis dari berbagai negara.
“Hai,” ucapnya dengan sorot mata yang sungguh memukau. Ia kemudian menyalamiku, kusambut dengan tubuh agak gemetar. Senyumnya itu, amang tahe! Manorus tu ate-ate, atawa meresap hingga ke ulu hati.
Ia kemudian memeluk tubuhku yang padat berisi bagaikan atlet voli (aslinya tak demikian, malah agak kerempeng) sembari ngesun pipi kiri dan pipi kananku. Orang-orang terbengong-bengong, mulut mereka bahkan jadi memble, lama menganga, selain membangkitkan kecemburuan.
Satu wartawan Australia yang tak senang melihat adegan itu, berujar dengan nada kesal, “Who’s this f****** guy?!”
Aku cuek bebek. “Sirik lu Aussie,” balasku agak pelan supaya tak kedengaran; soalnya, body-nya gede banget. Takut juga kalau dia marah.
Whitney mengelus-elus dadaku yang bidang (aslinya tipis) dan seperti penasaran arti tulisan di kaos yang kukenakan. Dengan suara terbata-bata kujelaskan artinya; ia manggut-manggut dengan roman muka senang, “Apakah itu bahasa dari kepulauan Samoa?” tanyanya dengan slang Afro-Amerika.
“No, Whitney. Not Samoa, but Samosir,” ucapku rada gugup. Ia tersenyum, tapi tak menanyakan di manakah letak Samosir. Yang tak kusangka lagi, dengan suara bisik mendekati telinga—membuat bulu romaku langsung heboh—ia mengundangku ke kamar hotelnya seusai konser. Langsung kulafalkan lagi, “Oh my God” dan “Nipi nama on!” (ini pasti mimpi).
***
BULAN-BULAN berikutnya, hubungan kami seolah tak bisa lagi dipisahkan oleh siapa pun—termasuk begu ganjang (hantu panjang). Percakapan kami melalui telepon, persis seperti jadwal minum obat: tiga kali sehari. Ia terus mendesak supaya aku datang ke Amerika, namun karena tugas-tugas jurnalistikku semakin padat—antara lain koran Asahi Shimbun meminta aku melakukan investigasi tentang ulah tentara Dai Nippon semasa PD II, yang diduga kuat juga sering mengintip perempuan-perempuan Papua pedalaman ketika mandi di sungai Memberano—tiga bulan kemudianlah kami bisa jumpa di Los Angeles.
Selama di Amerika, kami mengunjungi sejumlah kota secara diam-diam, bahkan manajer Whitney pun tak tahu. San Fransisco, Pasadena, Baltimore, Boston, Kansas, Chicago (gara-gara tiga grup band yang juga amat kusukai berasal dan memakai nama tiga kota terakhir ini), kami singgahi sebelum ke bonapasogit-nya Whitney di New Jersey.
Sebelum berangkat ke Shanghai untuk menemui Joan Chen (kami sudah membuat janji wawancara, diminta majalah Cosmopolitan), aku diajak Whitney menghadiri pesta terbatas teman-teman dekat Quincy Jones di New York. Saat itu, hadir artis-artis eks Motown macam Diana Ross, Stevie Wonder, Roberta Flack, Dione Warwick (yang ternyata, tantenya Whitney) dan dua puluhan artis-musikus yang sudah mendunia. Aku sampai bingung mau mewawancarai siapa karena semua orang penting.
Dari pesta yang berakhir tengah malam itu kami meluncur ke apartemen Whitney. Kami berbincang sambil minum wine hingga pagi dini; dengan gaya menarik, riang, dan kadang manja, ia ceritakan dunia kecilnya, keluarganya, juga lagu-lagu yang paling disukainya.
Selanjutnya, di kota atau negara mana pun ia konser, kuusahakan hadir, sebab kami sudah saling ketergantungan seperti truk gandengan. Popularitasnya pun semakin berkibar-kibar, kedua albumnya terus diuber jutaan penggemar.
***
SUATU ketika Whitney kuajak ke Samosir, dan ia langsung mau. Setelah melalui penerbangan yang melelahkan dari Los Angeles-Tokyo-Singapore-Medan, juga perjalanan empat jam dari Medan-Parapat, ia begitu gembira tatkala menyaksikan Danau Toba dari ketinggian perbukitan Sibaganding.
“Oh my God, I don’t believe it. Wonderful,” ucapnya berulang-ulang dengan pandangan takjub ke sekeliling danau. Aku tersenyum lega sekaligus bangga.
Sopir yang kami sewa, lelaki halak hita yang doyan bicara, lantas bertanya, “Ai on dope hea tu son itoan boru Koling on, Lae?” (Baru kali ini ya Lae, wanita Keling ini datang ke sini?).
Aku mengiyakan, walau agak tersinggung karena Whitney ia pikir sama dengan penjual bandrek di Kampung Keling, Medan itu. “Ba patut do attong songonna tarsonggot ibana mamereng tao on. Hape di hita biasa do.” (Pantaslah, kayak kaget dia melihat danau ini, padahal bagi kita biasa saja).
Sepanjang Parapat-Tomok-Pangururan, Whitney tak putus-putus memuji indahnya panorama danau dan perbukitan yang mengitari. Tapi, di sepanjang jalan, sebenarnya aku dilanda bingung: apa yang akan kukatakan pada orangtuaku, khususnya pada inong yang ultra-konservatif itu, tentang si Whitney. Di mana pula dia tidur? Bukankah status kami baru sebatas marhallet (pacaran) yang secara adat Batak belum boleh tidur bersama di satu rumah?
Akhirnya kuputuskan, Whitney menginap di pesanggrahan milik Pemda Samosir. Ia pasti suka. Lokasinya bagus karena menghadap danau, bangunannya (rumah panggung berbahan kayu) menarik, peninggalan Belanda. Begitu bangun pagi, ia pasti takjub memandang danau dan bukit-bukit yang mengitari. Ia akan kuajak duduk di pantai, tempat aku dulu marsulangat (menangkap ikan-ikan jenis teri untuk makanan ayam dan bebek), sambil makan spageti Toba (mie gomak) dan godok-godok (sejenis kudapan dari bahan tepung campur pisang, digoreng, rasanya uenaak tenan) atau pecalnya Nai Gulatti yang asoy.
***
DUGAANKU benar, Whitney suka mie gomak dan godok-godok itu. Bahkan ia nambah satu piring lagi.
Usai breakfast a la Samosir di pantai Pangururan, Whitney kubawa ke rumahku yang tak begitu jauh dari pesanggrahan. Bapakku yang kupanggil among tengah duduk di teras, sementara mantan pacarnya alias inong, sedang sibuk membersihkan flat-flat ayam dan bebeknya di belakang rumah.
“Horas Among,” sapaku mengagetkan si bos yang sudah uzur itu, “Aku datang mendadak, karena kangen,” lanjutku sambil menyalam dan memeluk tubuhnya yang kian renta.
“Bah, ai naro do ho, Anggia?” (kau datang ya, adek; ia sering memanggilku 'anggia'), balas bapakku kaget.
Whitney kemudian melakukan sebagaimana yang kulakukan. Menyalam dan nge-sun bapak. Tak lama kemudian, si Inong datang dan tentu saja kaget. Kukenalkan dia pada Whitney, tapi inong masih tetap bengong.
“Ai ise boru-boru nabirong on tahe, Amang?” (siapa perempuan berkulit hitam ini?) tanyanya.
Lalu kujelaskan sebagaimana penjelasanku pada bapak. Whitney hanya senyum-senyum ketika kami bicara, maklum, tak paham bahasa yang kami gunakan.
Untuk menghindari interogasi lebih jauh, kubilang saja bahwa Whitney turis yang ingin ke Sidihoni melihat danau kecil di atas Pangururan (sering disebut danau di atas danau). Inong cuma longang atawa heran.
Bersama supir, kami pergi ke Sidihoni. Sepanjang perjalanan, Whitney senang melihat suasana huta, rumabolon, juga kerbau-kerbau yang merumput di bukit-bukit. Ia terperangah ketika dari ketinggian Huta Tinggi menyaksikan Danau Toba, Pusuk Buhit, Tele.
“Wonderful,” ucapnya berkali.
Saat tiba di Sidihoni, ia langsung berlari dari mobil ke arah danau kecil itu dan kemudian menari di atas padang rumput yang mengitari.
Whitney berkata seperti berteriak seraya tertawa memuji keindahan alam Samosir. Tak kusangka ia akan segirang itu.
Tak lama kemudian ia katakan agar gitar dikeluarkan dari mobil dan aku diminta mengiringinya nyanyi di padang rumput yang bergelombang itu (sejatinya, aku tak bisa memetik gitar).
Ia dendangkan All at Once dengan merdu sembari melebarkan tangannya; suaranya memecah keheningan Sidihoni.
Puluhan burung kutilang, perkutut, jalak, poksaw, balam, merpati, lantas mendekat dan berhimpun di dahan satu pohon besar di sekitar kami, seakan ingin mendengar nyanyian Whitney. Kawanan kerbau pun begitu, sontak berhenti merumput dan terpana menengok Whitney.
Whitney kemudian menyanyikan I Know Him So Well sambil mengelus-elus kepalaku—sebab ia tahu aku sangat suka lagu tersebut.
“This is the best stage I ever have,” ujarnya seraya memeluk tubuhku. Perasaanku digenangi bangga dan haru. “I’ll never forget this place, Honey,” bisiknya mesra.
“Honey, would you like to sing for me Where Do Broken Hearts Go?” pintaku terpatah-patah dengan logat Batak.
“No, honey. I prefer to sing I Wanna Dance With Somebody, for You,” balas Whitney seraya mengelus pipiku.
Ia kemudian bernyanyi sambil menari-nari. Para penduduk Sidihoni lantas berlarian dari ladang dan huma mendekati kami lalu ikut menari beramai-ramai.
Kami semua hanyut dalam kegembiraan disebabkan Whitney.
Tiba-tiba HP-ku berdering, di layarnya muncul tulisan private number. “Halo, ini Pak Suhunan Situmorang?” tanya seorang wanita.
“Betul, siapa ini?” sahutku seraya mengecilkan volume audio mobil.
“Saya dari Bank*******, Pak. Mau mengingatkan bahwa tagihan kartu kredit Bapak sudah overlimit dan jatuh tempo dua hari lalu.”
“Berapa, Mba?”
“Dua puluh tujuh juta dua ratus lima puluh lima ribu rupiah, Pak.”
Grkjxkhgdlkhzzzvbfklhghdzfytrl.....??!!!
“Kapan dibayar Pak, dan melalui bank apa?” desak petugas collection bank tersebut.
“Mmm..secepatnya deh, Mba.”
“Kami tunggu ya, Pak.”
Suara Whitney masih mengalun perlahan di audio mobil. Jalan Casablanca masih tersendat.
Aku segera melupakan Whitney, kembali ke realitas: mengais sumber nafkah bagi keluarga, juga untuk melunasi tagihan kartu kredit itu. :-(

Post a Comment

Previous Post Next Post