-->

Tuhan Maha Segalanya, lalu apakah Tuhan juga memiliki sifat jahat?

Terkesan logis, karena frasa “maha segalanya” memang bisa berkonotasi “mencakup semuanya” termasuk memiliki sifat maha baik dan juga maha jahat. Tetap
(pixabay)



Terkesan logis, karena frasa “maha segalanya” memang bisa berkonotasi “mencakup semuanya” termasuk memiliki sifat maha baik dan juga maha jahat. Tetapi pandangan seperti itu terlalu simplistis-manusiawi, karena menganggap Tuhan memiliki pikiran, gagasan, selera, keinginan, dan kepentingan yang sama dengan manusia.

Baik dan jahat itu hanyalah kesan manusia terhadap kejadian atau objek menurut kepentingan subjektif dirinya. Ketika suatu objek atau kejadian membuat dirinya merasa senang, dimudahkan, atau diuntungkan maka kejadian atau objek tersebut dia katakan baik. Sebaliknnya, segala objek dan kejadian yang dirasakan menghambat, menyusahkan, dan merugikan dirinya, maka objek dan kejadian itu akan dikatakannya buruk atau jahat.


Mungkinkah Tuhan berbuat baik kepada seseorang/sekelompok orang, tetapi bebuat jahat kepada orang/sekelompok orang yang lain?

Ilustrasi: Suatu daerah porak poranda oleh terjangan tsunami. Ada ratusan korban kehilangan nyawanya, sementara ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan kehilangan sumber penghasilan. Di lain pihak ‘pasca’ tsunami itu ada perusahaan jasa konstruksi yang mendapat untung besar berkat menang tender proyek rehabilitasi yang didanai pemerintah.

Pertanyaan: Apakah para korban tsunami itu bisa kita sebut sebagai orang yang sedang menerima kemahajahatan Tuhan? Sebaliknya, apakah pengusaha jasa kontstruksi yang mendapat untung besar dari proyek rehabilitasi pasca bencana itu adalah orang yang sedang menikmati kemahabaikan Tuhan?

Sungguh tidak logis! Sangat sulit diterima nalar, jika hanya karena ada orang yang diuntungkan dan ada yang dirugikan oleh suatu peristiwa alam (kuasa Tuhan) kita berkesimpulan bahwa Tuhan itu memiliki sifat jahat disamping sifat maha baikNya.

Menurut saya, benar bahwa Tuhan itu maha segalanya. Tuhan lah yang merancang, membuat, menjalankan, dan menendalikan segala yang ada di jagad raya ini. Kuasa Tuhan lah yang menjadikan manusia makhluk yang memiliki emosi, nafsu, dan kecerdasan.

Akan tetapi, menurut saya, interest Tuhan dalam perancangan manusia adalah berfungsinya sifat-sifat manusiawi itu: punya nafsu, emosional, dan berkecerdasan. Dengan emosi, nafsu, dan kecerdasan itulah manusia bisa mempersepsi sesuatu dan memaknainya dengan: BAIK atau BURUK.


Jadi, kesan baik-buruk, terpuji atau jahat yang muncul pada manusia adalah fungsi dari sifat-sifat manusiawinya manusia saja. Kepentingan orang perorang manusialah yang menciptakan kesan baik atau jahat itu.

Analoginya bisa dideskripsikan dengan gambar di bawah ini. Sebuah tikungan jalan akan dipersepsi berbeda oleh dua orang yang melintas berlawanan arah. Lahan miring sebuah bukit juga begitu, dia akan disebut tanjakan oleh orang yang berada di lembah, tetapi disebut jurang/turunan oleh orang yang berada di puncak.

Bagaimana dengan Tuhan sendiri?

Tuhan sendiri sepertinya enjoy menyaksikan makhluk unggulanNya itu (manusia) mampu membuat rumusan baik-buruk, benar atau salah.

You may like these posts

2 comments

  1. pranita deshpande
    Nice post
    • SS
      thank you