-->

Seorang Perempuan Jelita Yang Merana

 NAMANYA terbilang modern dan tak khas Batak: Dina boru Sinaga. Ia habiskan masa-masa kehidupannya yang pedih dan tak begitu panjang di sebuah kampung yang kelewat sunyi di Desa Sabulan, seberang Pulau Samosir. Kampung kecil bernama Palumbanan itu, sebagaimana umumnya kampung-kampung di pelosok Samosir dan Tano Batak, dikitari aneka pohon besar dan rimbun bambu. Hampir seluruh tanahnya diseraki batu berukuran besar dan kecil. Hanya ada tujuh rumah di sana, semua kusam dan renta, termasuk ruma bolon tua tak ber-"gorga" (ukir), bekas hunian ayahku dan nenekku (ompung boru), perempuan bernama Dina boru Sinaga itu. Ia tak pernah kukenal—sebagaimana kakekku (ompung doli). Mereka sudah meninggal dunia jauh sebelum diriku turut menghuni bumi ini. 

Namun, menurut kerabat dekat dan juga pengakuan ayah-ibuku, paras, kulit, serta potongan tubuh perempuan yang melahirkan ayahku itu terbilang “menyimpang” dari umumnya perempuan Batak di zamannya. Wajahnya lonjong, hidung mancung, rambut legam nan lebat, postur tubuh ramping, kulitnya putih bersih. Amangtua (pakde) dan ayahku dan juga beberapa cucunya, mewarisi warna kulitnya yang mirip ”halak bolanda” itu; aku termasuk yang tak ikut kecipratan. Kata ayah-ibuku (keduanya sudah alm.) dan kerabat-kerabat kami yang sempat mengenal, Dina boru Sinaga agak pendiam dan senantiasa menjaga ucapan dan penampilan. Sebagaimana umumnya perempuan Batak masa lampau, ia piawai menenun ulos. Hasil tenunannya pernah diperlihatkan ibuku kepada kami anak-anaknya, namun sayang sekali tak kutahu lagi di mana ulos tersebut berada. Usianya masih terbilang belia ketika ia dipinang kakekku, Raja Philemon Situmorang, putra kedua Raja Ihutan alias Raja Datar, yang juga beribukan boru Sinaga. Ketika menikah, kakek buyutku dari klan Sinaga memberangkatkan nenekku yang jelita itu bersama seperangkat ”gondang sabangunan” (alat musik tradisional Batak) yang saat itu terbilang langka dilakukan orang Batak, karena selain harganya mahal juga tak sembarang orang boleh melakukan. Gondang itulah yang dimainkan para "pargonsi" saat pesta pernikahannya. Sisa-sisa perangkat gondang itu kini teronggok bisu di sebuah ruang pesanggrahan (bekas kantor kakekku) merangkap perpustakaan yang juga tak terurus. Dulu, semasa kecil, bila kami berkunjung ke Sabulan, ayahku selalu melarang kami memainkan perangkat perkusi dan gong tersebut. Alasannya, gondang bersifat magis dan dianggap sakral, karenanya tak boleh dijadikan mainan atawa diperlakukan sembarangan. Saat itu aku begitu saja percaya dan pandangan tersebut terbawa hingga masa dewasa. Sayangnya, alat musik yang dianggap punya ”tondi” (roh) itu, di kemudian hari, tak diperlakukan para keturunan kakekku sebagaimana layaknya barang yang tak sembarangan. Ia terbengkalai di sisi rak-rak buku yang berdebu dan dua gong (”ogung") sudah raib, entah siapa yang memboyong. *** NASIB gondang tersebut tak jauh beda dengan pengalaman ompung boru-ku. Sekejap saja ia cecap kebahagiaan rumahtangga dan wafat di usia yang belum mencapai kategori separuh baya, hanya 43 tahun. Kakekku, rupanya, tak cukup sabar memiliki anak perempuan agar ”hagabeon”-nya terpenuhi (memiliki anak lelaki dan anak perempuan), hingga kemudian menikah lagi. Nenekku—yang sama sekali tak berpendidikan itu—tak setuju dimadu namun tak berdaya melarang, apalagi masa itu ”marimbang” atau poligami termasuk perbuatan yang lazim terjadi di kalangan raja-raja adat Batak, dan kakek-kakek buyutku pun hampir semua berpoligami. Ia memilih menyendiri dengan dua anak lelakinya yang masih kecil (kemudian tambah lagi satu, juga lelaki) di huta Palumbanan. Kakekku sendiri bersama keluarga barunya mendiami “jabu emper,” tujuh ratusan meter jaraknya di atas Palumbanan, persis di kaki gunung Ulu Darat, dengan panorama yang amat menakjubkan: Danau Toba dan bukit-bukit yang menjorok ke tengah danau. Walau kantornya (pesanggrahan) terletak di bibir danau dan bila menjalankan aktivitas harus melewati jalan kecil yang bersisian dengan Palumbanan, ia jarang mampir menengok nenekku. Rupanya, karena emoh dan kecewa dimadu, nenekku pun memilih menjauh dari kehidupan kepala nagari yang sarat privilese, hingga tak lagi turut suami menghadiri undangan pesta adat, enggan hadir di perhelatan ”gondang saborngin” atau hajatan tortor beriring musik uning-uningan yang kerap digelar kakekku. Tapi, kendati tak serumah lagi dengan suaminya, ia tak begitu kesepian karena cukup banyak kerabat dekat yang menemani sekaligus mengurus sawah dan keperluannya. Ia lebih senang bertenun di halaman rumah adatnya. Demikianpun, ia tetap dipanggil ”nagabe boru” (semacam panggilan hormat untuk istri raja-raja adat/huta masa lampau) dan tetap mendapat pembagian ”jambar” dari setiap hajatan adat, selain tunjangan rutin dalam kedudukannya sebagai istri kepala nagari. Sebelum meninggal, cukup lama ia menderita penyakit mata yang terbilang misterius, membuat dirinya kian terperosok di lembah kesunyiannya. Dari kedua retina matanya terus-menerus mengalir cairan seperti sedang menangis, yang lambat-laun membuat mata kanannya membengkak hingga kemudian tak bisa lagi melihat. Ia begitu kecewa atas penyakit mata yang tak kunjung sembuh itu—sebagaimana “penyakit” kronis yang menggerogoti rumahtangganya. Ayahku sendiri tak cukup tega menceritakan penderitaan ibunya kepada kami, kendati sesekali terkuak tanpa ditanya. Kepribadian dan lembaran hidup nenekku ini pun lebih banyak kudapat dari ibuku dan kerabat dekat kami yang bermukim di Sabulan. *** ENTAH kenapa, kepedihan hati perempuan jelita yang tak pernah kukenal itu begitu dalam merasuki relung batinku. Mungkin, di antara 11 keturunan orangtuaku (kini tinggal sembilan), akulah yang paling getol mengungkit bongkah-bongkah derita yang menindih dirinya hingga ia bersua dengan ajal. Palumbanan pun kerap menyusup ke ruang lamunanku dan hingga kini acap merasuki mimpi-mimpiku. Padahal, dusun di pelataran lembah Sabulan dengan kontur tanah yang bergelombang itu kelewat sepi dan jauh dari pantai—hingga akan menyulitkan “pendatang” dalam urusan mandi-cuci-kakus. Di kanan kirinya memang ada dua sungai kecil, namun karena kawasan hutan di perbukitan yang mengitarinya terus dirambah, air hanya mengalir bila hujan deras turun di kawasan Hutan Pollung, Humbang. Halaman Palumbanan dipenuhi batu-batu besar seperti bekas luapan air bah yang menggelindingkan ribuan batu dari gugusan bukit dan gunung yang mengitarinya. Hawanya sejuk (kalau tak dingin) hingga mudah membuat perut lapar, sementara bahan pangan tak mudah didapat—meski di dompet ada uang. Sebagaimana kampung-kampung lain di pelosok Samosir dan Tano Batak, Sabulan dan Palumbanan, intim dengan kemiskinan. Walau tanahnya relatif subur, lahan untuk lokasi pertanian terbatas, itupun di atas batu-batu besar. Kaum ibu umumnya jadi petani padi dan palawija, sementara kaum lelaki lebih suka nongkrong di kedai kopi. Sampai sekarang, huta yang amat sunyi itu masih seperti dulu. Bedanya, kini sudah dimasuki aliran listrik dan satu dua rumah memiliki tv—meski kelas termurah—namun masih tetap terisolasi. Satu-satunya cara agar bisa tiba di sana hanya dengan menumpang atau menyewa perahu kecil bermesin (orang sana menyebut ‘bot’) dari pantai Pangururan, Simbolon, Palipi-Mogang, Nainggolan, Bakkara, atau ikut kapal kayu dari Balige (saat hari pekan) dan Ajibata-Parapat. *** TERSEBUT aneh, memang. Aku tak lahir di sana dan hanya sesekali berkunjung, namun hubungan batinku dengan Palumbanan seakan tak pernah getas. Kampung yang sepi dan merana itu bahkan kian sering kurindukan dari Jakarta yang kian sesak dan beringas. Mungkin karena kesunyiannya yang membius jiwa, membuat gelinjang batin dan jelimet pikiran akan lenyap setiba di sana. Bisa jadi pula karena memori di ruma bolon tua itu, yang dahulu kurasakan begitu hangat karena kentalnya hubungan perkerabatan, tak jua lapuk diterpa perubahan masa. Atau karena kedua orangtuaku, dahulu, terlalu dalam menancapkan akar pohon "bonapasogit" ke dalam diri kami anak-anaknya—yang kemudian coba kulakukan pada ketiga anakku, walau mereka masih tetap merasa takut bila malam tiba saat menginap di sana. Sebenarnya, aku pun sering bertanya: mengapa semakin usia bertambah semakin terindu-rindu pada Palumbanan. Apakah karena bayangan kepedihan yang tertoreh di wajah perempuan jelita yang tak rela diduakan suaminya dan akhirnya mati sengsara, begitu dalam membekas di relung jiwa? Ataukah karena aku sekian lama terobsesi memiliki nenek-kakek setelah menyaksikan betapa senang kawan-kawan sebaya disayang nenek-kakek mereka? Aku tak tahu pasti. Tapi, andai waktu memberi kesempatan—dan Sang Khalik mengizinkan—ingin sekali kubagi sejumlah cerita untuk melipur hati perempuan rupawan yang pendiam itu. Kan kukisahkan pula beberapa cerita yang setara dengan kisah hidupnya untuk membalut luka di batinnya, selain cerita-cerita yang bisa membuat dirinya tertawa gembira. Dan, aku hanya ingin mengisahkan cerita-cerita itu di ruma bolon tua huniannya yang dingin itu.

By: Suhunan Situmorang

You may like these posts

1 comment

  1. Maddy_stories
    Nice post ❤