-->

Nyepi Batak, Batak Menyepi By Suhunan Situmorang

By: Suhunan Situmorang Sebuah catatan subjektif,,, Pada malam Nyepi, Bali total gelap, kamar hotel hanya boleh disinari lampu ber-watt minim, yan

By: Suhunan Situmorang



Sebuah catatan subjektif,,,


Pada malam Nyepi, Bali total gelap, kamar hotel hanya boleh disinari lampu ber-watt minim, yang untuk baca koran/buku pun tak mampu, gordin kamar tak boleh pula disingkap.

  Di luar gelap gulita. Mistis. Magis. Sakral (walau rasa takut sempat mengganggu hingga jadi susah tidur). Saya pun jadi ikut menyepi seraya mengisapi asap rokok dan minum kopi berapa kali. Hening. Senyap. Bisu. Macam-macam berseliweran di pikiran.   Tentulah ada kekurangan orang atau masyarakat Bali, sebagaimana insan dan etnis lain di negeri ini. Tapi, suka atau tidak, saat itu semakin menebalkan kekaguman saya pada masyarakat Bali. Kepatuhan kolektif untuk menyepi, merenung, mengembalikan ke titik nol, menjadi hal yang luar biasa bagi saya. Nyepi, menjadi kesempatan terindah melakukan instrospeksi, pendalaman ruang spiritualitas secara personal, selain pengentalan solidaritas dan pengembalian kesadaran sebagai Bali yang berkeyakinan Hindu Bali.   Beberapa tahun terakhir ini, tak ada yang menyuruh, saya sering memikirkan etnis saya, Batak. Sejumlah problema mengitari, namun yang paling mengemuka ada beberapa. Krisis identitas, keengganan sebagai atau menjadi Batak, sulitnya membangun kebersamaan atau solidaritas, minimnya perhatian pada tanah asal yang disebut bona pasogit/bonani pinasa, semakin distorsifnya pemaknaan adat istiadat, hingga saling hujat disebabkan perbedaan keyakinan atau karena cara beribadah.   Sedih. Prihatin. Kecewa. Barangkali (dan ini menarik diteliti) hanya suku Bataklah di negeri ini atau dunia ini yang tega mencerca, menghina, bahkan memusuhi dirinya sendiri, hanya karena keyakinan/agama atau karena tak suka  tradisi; yang bisa dengan enteng menelanjangi diri dan suku dari mana ia berasal, di depan publik, tanpa rasa malu--apalagi perasaan bersalah. Semakin dihajar, ditelanjangi, sepertinya semakin 'happy'.   Sementara, di berbagai media internet, dalam forum pertemuan komunitas (adat, marga, agama, kampung), bila sebuah isu dilempar, respons akan bertubi-tubi. Tapi ketika diajak membenahi dengan cara menunjukkan sikap maupun tindak, akan lebih banyak yang meminggir. Segelintir saja mau menindaklanjuti--macam gerakan menanam pohon di kawasan Danau Toba yang semakin kritis, berunjuk rasa menuntut pengakuan dan penjaminan HAM, atau penghentian izin pembabatan hutan seluas 260.000. ha hutan di bumi Tano Batak bagi sebuah korporasi raksasa.   Angkat saja isu semakin rusak dan tercemarnya Danau Toba, hancurnya ekosistem akibat pembabatan hutan, atau lalim dan koruptifnya pejabat-pejabat pemkab di Tano Batak. Komentar, tanggapan, akan riuh seketika. Tapi, sebatas keriuhan. Akan muncul pula tanggapan yang mungkin tujuannya menyejukkan namun jadi semacam antiklimaks yang melumpuhkan: didoakan saja; saat yang paling indah akan tiba; dan sejenisnya. Seolah dengan berdoa, tanpa melakukan apa-apa, akan beres apa saja yang disoal atau jadi persoalan.   Yang pasti, ketika pelaku korupsi atau perbuatan jelek oknum-oknum yang dipandang memalukan suku tersiar ke publik, orang Batak umumnya menunjukkan keresahan, bahkan kemarahan, karena malu (pada masyarakat lain). Ini sebenarnya sikap atau pendirian yang patut dipuji. Dalam pandangan saya, sikap seperti itu menunjukkan bahwa (umumnya) orang Batak masih risih, malu, menolak perilaku dan tindakan yang dianggap merugikan publik; yang tidak etis; mempermalukan suku, dan mau bersikap jentelmen mengakui kelemahan pada masyarakat lain. Bila pun ada tuduhan bahwa sikap/pendirian tersebut kasuistis, selektif, karena melihat-lihat kepentingan personal atau komunal (kerabat, marga) dan bahkan lembaga-lembaga agama acap dicerca karena mau menerima uang yang diduga berasal dari kejahatan (korupsi, suap, pungli), setidaknya secara umum ada keberanian mengakui kelemahan etnis sendiri kepada masyarakat lain.   Dugaan saya, problema sosio-kultural dan psikologis orang Batak sekarang, yakni keterpecahan, miskinnya solidaritas, krisis identitas, rendahnya kepedulian pada tanah asal, merebaknya sikap sinis, dan sebagainya, terutama disebabkan tak adanya dasar yang kuat untuk membentuk karakter dan kepribadian sebagai Batak (tentu yang baik atau positif). Padahal, dasarnya, Batak memilki segala hal yang diperlukan untuk membentuk pribadi-pribadi yang berbobot dan menarik. Adat-istiadat, sistem perkerabatan, aturan dan tata krama kehidupan dan hubungan sosial dengan platform ruhut-ruhut paradaton, uhum, patik, poda, ugari, umpama, umpasa, padan, yang menjadi landasan 'habatahon', mestinya bisa membuat Batak memiliki nilai plus.   Banyak yang percaya, tak bagusnya proses pewarisan atau transformasi nilai-nilai kultural yang berasal dari 'habatahon' itu yang menjadi penyebab utama persoalan manusia Batak sekarang. Karena itu pula sulit digalang solidaritas dan kepedulian yang bersifat massif--meski imbauan tetap berlanjut, antara lain lewat lagu yang intinya mengajak "marsadama halak Batak"--sebab kesadaran untuk sama-sama berbuat, peduli, demi kepentingan kolektif dan perlindungan kultural serta ekologi bonapasogit, dianggap bukan urusannya.   Ironisnya, banyak orang Batak lebih suka membenarkan tuduhan bahwa orang Batak itu penuh hosom, late, teal (dendam, dengki, tinggi hati), pantang so bilak, pajagojagohon (patentengan, sok tahu, arogan), materialistis dan tuduhan miring lain, ketimbang melakukan perbuatan yang bisa menggugah kepedulian, kesadaran, agar menjadi pribadi dan etnis yang lekat dengan pujian. Sementara, di sisi lain, mungkin mayoritas orang Batak belum siap dipisahkan dari kebatakannya, masih mematuhi sistem dan aturan perkerabatan serta marga, dan akan marah bila disebut "simarbatak-batak" atau 'setengah Batak" (apapun ukuran atau parameter yang dijadikan penentu kebatakan itu).   Saya kira, relevan juga bila kini dipertanyakan: Karena apakah kepatuhan (sebagian besar) orang Batak pada ikatan dan tatanan adat, marga, hubungan perkerabatan. Jangan-jangan itu kepatuhan yang artifisial. Masih dilakoni, dipertahankan, namun bukan karena masih kuatnya kesadaran bahwa itu berfaedah bagi dirinya dan menemukan nilai-nilai estetis dari dalamnya. Buktinya, orang Batak yang melakukan dan mengikuti kewajiban adat, bukan hal baru menunjukkan sungut-sungut karena adat dan ritualnya dianggap beban, memberatkan, walau tetap dilakukan atau ikuti.   Sejak kemarin muncul keinginan di benak saya: orang Batak yang masih merasa dirinya Batak, melakukan ritual semacam tradisi nyepi pada masyarakat Bali. Nyepi, menyepi, di ruang yang hening, di tengah alam yang terjauh dari hiruk-pikuk.   Mungkin dari situ bisa muncul pengenalan diri (sebagai Batak) yang lebih kuat. Siapa tahu pula dengan gerakan massal untuk melakukan ritual nyepi, jati diri akan semakin kukuh, kesadaran menjaga nama baik Batak kian tumbuh, keinginan maju bersama (dengan membuang hosom, late, teal) menguat, dan kepedulian pada tanah asal (bona pasogit) semakin kental dan bila perlu radikal: bersama-sama mengusir perusak lingkungan, pejabat korup, juga para preman berkedok wakil rakyat yang kerap menyusahkan warga itu.

You may like these posts

  1. To insert a code use <i rel="pre">code_here</i>
  2. To insert a quote use <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. To insert a picture use <i rel="image">url_image_here</i>
Berkomentarlah dengan bijak !!!