-->

Kisah Nan Tinka, Pedihnya Cinta Yang Diputus Paksa | Cerita Rakyat Batak

Tersiar kabar keseluruh pelosok negri Toba, dari utara hingga selatan, pengisi bukit dan lembah. Ada perempuan jelita yang masih belia,




 TERSIAR kabar ke seluruh pelosok negeri Toba, dari utara hingga selatan, pengisi bukit dan lembah. Ada perempuan jelita yang masih belia, bermukim di Tanjung Bunga. Kampung yang curam namun indah di kaki Gunung Pusuk Buhit, kiblat puja bagi dewata dan para pemula.

  Cantiknya tiada mampu dilukiskan kata. Tutur katanya membuat pria dan wanita terpesona. Senyumnya menjinakkan ombak danau. Desah nafasnya melelapkan dedaunan. Para pemuda terbayang-bayang pada dia, penasaran ingin melihat bidadari yang mukim di dunia.   Siapa gerangan lelaki beruntung yang kelak menyuntingnya? Alangkah beruntungnya dia. Berapa kerbau yang patut untuk sinamot, emas dan tanah tentulah perlu untuk menggenapi. Ulos tenunannya indah beragam rupa. Ragi Hotang, Ragi Idup, Sibolang, Bintang Maratur, telah berpuluh dia cipta. Tersusun rapi di atas sondi, setiap saat dipandanginya dengan hati gembira. Ia terkenal penenun yang piawai, ulos ciptaannya dipuji para tetua.   Ia adalah Nan Tinka Nasumurung, putri seorang raja huta bernama Ompu Pardopur Nadeak, penguasa Tanjung Bunga, seberang Samosir. Ibunya dari klan Naibaho Huta Parik, hanya sepelemparan batu dari Tanjung Bunga. Raja yang disegani warga itu punya sembilan putra-putri, enam lelaki, tiga wanita. Semuanya tampan dan cantik, tetapi Nan Tinka putri sulung, begitu tersendiri.   Kabar kecantikannya menyebar luas, dari berbagai penjuru lalu berdatangan pria-pria muda keturunan raja huta. Namun ayahnya menolak semua, dengan tata krama khas masyarakat adat Samosir. “Boru-ku itu masih terlalu muda,” demikian selalu alasannya.   Kian bertambah usia, kecantikan Nan Tinka semakin sempurna. Kabar tersebut membuat ayahnya kewalahan menerima peminang. Kerbau, lembu, kuda, emas, sawah, dijanjikan untuk sinamot; ayahnya hanya tersenyum, pertanda tak menerima. Lagipula, dari semua lelaki yang datang, belum seorang pun membuat jantung Nan Tinka bergetar.   ***   SUATU pagi, ketika menenun ulos di depan rumahnya yang tak jauh dari Danau Toba, ia dengar alunan sulim dan hasapi yang membius jiwa, sayup-sayup tertiup angin danau. Ia hentikan tenunannya seraya menyelidik dari manakah gerangan asal suara. Kian dekat, kian memikat. Siapa gerangan peniup sulim dan pemetik hasapi yang mempesona itu? Belum pernah ia dengar semerdu itu suara sulim dan hasapi.   Tak dia sangka pemetik hasapi beriring sulim itu telah mendekati pantai. Ternyata lelaki muda berbadan tegap dengan ulos melintang di dada yang terbuka. Lelaki parhasapi disertai tiga pria muda, satu memainkan sulim, dua lagi mengayuh solu.   Dada Nan Tinka terkesiap saat bersitatap dengan pria yang mengaku berasal dari Huta Urat, Samosir selatan itu. Tutur kata lelaki bermarga Sinaga itu menawan hati Nan Tinka. Jantungnya berdegup lebih kencang, begitu susah sekadar mengucap satu kata. Lama ia terpana. Wajahnya merona, senyumnya malu-malu. Diliputi perasaan berbunga, ia silakan lelaki dan rombongan memasuki rumahnya. Buru-buru ia beritahu ibunya: ada tamu dari jauh, datang bersama solu, yang dari tengah danau menyenandungkan lagu rindu.   Nan Tinka telah jatuh cinta pada pria bermarga Sinaga yang ternyata anak raja pula. Kerap ia gelisah memikirkan lelaki yang sontak menjerat hatinya. Ayahnya tak melarang, namun tak memperlihatkan tanda setuju. Lelaki tampan itu telah membuat taman hati Nan Tinka dipenuhi bunga.   *** HARI berganti hari, hati Nan Tinka dilumuri asmara. Lelaki yang menawan hatinya begitu setia menemuinya—dengan hasapi dan sulim, berikut syair puji atas kecantikannya. Ia terpesona pada tiap kata yang terujar dari mulut pria yang telah ia terima sebagai kekasihnya. Sedih hatinya tiap berpisah, rindu di dada anehnya sedemikian indah. Di bebatuan pantai, matanya nanar menatap solu yang membawa kekasihnya hingga lenyap di balik bukit—diiringi senandung cinta yang mengagungkan kejelitaan Nan Tinka.   Lelaki pujaan hatinya berjanji akan segera datang bersama natua-tua untuk meminang. Nan Tinka sudah tak sabar menanti saat yang paling indah dalam hidupnya. Tapi, ayahnya masih tetap seperti sikap semula, tak menunjukkan tanda restu. Nan Tinka tak kecewa sebab begitulah umumnya sifat para raja, tak akan pernah memperlihatkan muka gembira atau menyampaikan kata pertanda restu manakala putrinya didekati pria.   Nan Tinka menanti hari yang paling indah, ulos-ulos tenunannya kian memenuhi sondi.   *** DI sebuah pagi rakyat Tanjung Bunga heboh dengan datangnya dua solu bolon membawa banyak manusia. Ternyata, Sisingamangaraja XII, orang terhormat dari Bakkara, berkunjung bersama pasukannya; suatu kunjungan yang mengherankan sebab sebelumnya tak ada utusan yang menyampaikan berita akan ada anjangsana raja dari Bakkara.   Telah didengar raja itu ihwal kemolekan Nan Tika, juga syair-syair cinta gubahan putra raja dari Urat untuk putri jelita yang bermukim di Tanjung Bunga. Ia penasaran, seperti apakah gerangan kecantikan Nan Tinka. Sebelumnya, ia suruh dua ajudan untuk menyelidiki kebenaran berita. Keduanya membenarkan, membuat orang sakti yang disegani kawan dan lawan itu semakin penasaran.   Tak sabar dirinya menyaksikan Nan Tinka, tak peduli bahwa dirinya telah beristri—yang masa itu sah saja bagi raja-raja marga dan huta melakukan poligami. Ia harus bertarung nyawa sebab serdadu Belanda telah mendirikan tangsi kompeni di Pangururan, seberang Tanjung Bunga, untuk menyergap dirinya, demi mengakhiri Perang Batak yang terus dikobarkan Sisingamangaraja. Raja yang dikenal bijak itu turun dari perahu diiringi dua puluhan pasukan, melangkah tegap penuh kharisma menuju Huta Godang yang jaraknya 300 meter dari danau.   Ompu Pardopur lantas mengumpulkan semua tetua huta serta pemuda untuk menyambut sekaligus ingin bertanya: apa maksud kedatangan sang raja yang tiba-tiba dan tanpa berita. Sisingamangaraja beserta rombongan disambut ramah, lalu digelar pertemuan di tengah huta (pogu ni alaman). Mereka bertukar kata dengan petitih-pepatah untuk menanyakan maksud kedatangan sang raja berikut pasukan.   Suasana berobah tegang setelah tahu kedatangan raja yang sakti dan berwibawa tiada lain untuk meminang Nan Tinka, dan hari itu juga ingin dibawa ke Bakkara. Ompu Pardopur disergap gelisah. Suasana hangat berobah seketika. Ketegangan terpancar dari wajah-wajah tetua Tanjung Bunga.   Berulang kali Ompu Pardopur melenguhkan nafas panjang. Keningnya mengerut. Tak lama kemudian ia minta waktu untuk memikirkan jawaban atas permohonan orang sakti yang amat disegani. Hatinya diterjang resah saat berunding dengan para tetua huta dan marga.   *** NAN TINKA sontak menangis setelah tahu manusia yang sudah jadi legenda di Tano Batak itu sengaja datang hanya untuk memboyong dirinya. Ia dilanda takut yang luarbiasa dan dengan mata berlinang sesenggukan di sudut ruma bolon. Ibunya menenangkan, tapi Nan Tinka tetap ketakutan. Meski terbilang raja yang amat dihormati dan diyakini berkemampuan seperti dewa, tak selintas pun pernah ia bayangkan akan menjadi istri Sisingamangaraja. Ia punya kekasih yang dia yakini sebagai rongkapni tondi.  Ini seperti mimpi. Nan Tinka cemas, melemaskan sendi-sendi tubuhnya. Ia berharap lelaki kekasihnya segera datang, diam-diam, menyelinap, membawa dirinya pergi.   Perundingan di tengah huta berlangsung alot. Sorot mata raja dari Bakkara, tajam memancarkan wibawa. Ompu Pardopur sadar akibat yang terjadi bila permintaan lelaki yang paling berani memerangi penjajah itu ditolak. Dilema yang berat memenuhi pikirannya. Hatinya sedih membayangkan putri yang amat disayanginya akan dipersunting lelaki asing yang tak dicintai, meski belum pernah berkata setuju pada pria dari Huta Urat itu.   *** DI tengah pikiran maha berat yang membebani Ompu Pardopur, tak ia sangka putri hasian-nya mendekati arena perundingan lalu mengiba agar ayahnya menolak permintaan raja dari Bakkara. Raut wajah Sisingamangaraja mendadak berobah. Sorot matanya tajam. Ketegangan mememnuhi wajah semua orang, walau sikapnya tetap tenang.   Ompu Pardopur tak kuasa memenuhi permohonan putrinya, hanya mampu membisu dan sesekali melenguhkan nafas panjang. Ia amat hormat pada Sisingamangaraja namun tak tega menghancurkan hati anak gadis yang amat dikasihinya. Sekuat tenaga ia haturkan kata-kata bijak agar Sisingamangaraja sabar menunggu putrinya sedia diparaja. Mendengar ucapan ayahnya, Nan Tinka lantas meraung di halaman huta. Ia amat kecewa pada pernyataan ayahnya. Sanak saudara dan kerabat berebut membujuk. Nan Tinka terus menangis, memilukan sukma.   Tangisnya hanya bisa dihentikan tulang-nya yang sengaja dipanggil dari Huta Parik. Tapi, saudara ibunya yang disayanginya itu pun akhirnya turut membujuk agar Nan Tinka sudi diperistri Sisingamangaraja. Nan Tinka putus asa, namun tak habis akal. Tiba-tiba ia berlari menuju kandang ternak, melumuri sekujur tubuhnya dengan kotoran hewan—dengan harapan, Sisingamangaraja tak lagi tertarik. Dengan tubuh penuh kotoran ia hampiri Sisingamangaraja; anehnya sang raja tetap bergeming dengan keinginannya.   Rapat adat yang tak pernah direncanakan itu akhirnya menyetujui permintaan raja dari Bakkara. Segala perlengkapan Nan Tinka pun disiapkan ibu dan sanak-saudara meski diiringi linangan airmata. Tak satu kata pun terujar dari mulut mereka. Nan Tinka putus asa, menangis pilu seraya memanggili kekasihnya yang tak pernah tiba.   *** SENJA telah merayap di Tanjung Bunga, permukaan danau tak lagi digelontori cahaya. Matahari siap membalik di atas Pusuk Buhit. Segenap pasukan dari Bakkara bersiap kembali bersama raja mereka, membawa seorang putri yang telah lama mengisi mimpi Sisingamangaraja. Seluruh penghuni Tanjung Bunga berkerumun di kejauhan, menyaksikan kepergian Nan Tinka bersama tangis yang bisu.   Ia dituntun ke tepi pantai, menuju solu bolon yang sudah menanti. Langkahnya tersendat. Lima langkah kaki, ia sudah berhenti, lalu dibujuk agar berdiri dan menuju pantai. Sekujur tubuhnya seperti kehilangan tenaga. Melangkah beberapa kali, berhenti lagi. Rombongan yang mengantar—dan juga Sisingamangaraja—turut pula berhenti.   Mulut Nan Tinka terkatup rapat, pandangannya nanar ke danau yang mulai kelam. Airmata masih terus membahasi pipinya. Dari halaman huta ke tepi danau ditempuh Nan Tinka begitu susah. Airmatanya membanjir, tatapannya hampa. Orang-orang nyaris putus asa seraya terus membujukinya. Bila Nan Tinka berdiri, orang-orang pun ikut berdiri. Bila ia berhenti, orang-orang pun ikut berhenti. Demikian seterusnya.   Gelap malam telah membalut bumi Samosir. Nan Tinka tertatih-tatih menuruni huta yang curam menuju danau. Melangkah lima langkah, ia berhenti dan beberapa jenak bengong. Ia seperti menunggu kekasihnya, tiba-tiba turun dari solu lalu memboyong dirinya ke mana pun hendak dibawa. Barangkali pula ia hendak menunjukkan kemarahan pada ayah-ibunya, sanak-saudara, segenap kerabat, juga pada Sisingamangaraja.   Hampir lima jam dihabiskan Nan Tinka menempuk jarak yang cuma 300 meteran. Tak lama lagi akan tengah malam. Orang-orang kian gelisah. Udara dingin semakin menggigilkan tubuh, embusan angin danau melambaikan rambut Nan Tinka. Ia tak peduli. Sorot matanya hampa, mulutnya mengatup. Lama ia berdiri di tepi pantai, nafasnya mendesah panjang. Airmatanya berjatuhan ke danau yang berkecipak dibenturkan ombak-ombak mungil. Orang-orang semakin diliputi ketegangan: apa selanjutnya yang akan dilakukan Nan Tinka. Ayahnya menyisih ke belakang kerumunan dengan hati nelangsa.   Nan Tinka menoleh ke belakang, lalu berkata lirih: “Unang be adong ulini boru Nadeak songon au. Tung so jadi adong be boru Nadeak nadipamuli tu nasotinodo ni rohana.*”  


Nan Tinka naik ke atas solu bolon. Tak lama kemudian perahu tanpa layar itu membawa dirinya mengarungi Danau Toba, membelah ombak, menembus gulita malam. Kekasihnya tak tahu ia telah dibawa pergi oleh seorang lelaki beristri yang amat disegani penghuni seantero negeri bernama Tano Batak.

You may like these posts

  1. To insert a code use <i rel="pre">code_here</i>
  2. To insert a quote use <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. To insert a picture use <i rel="image">url_image_here</i>
Berkomentarlah dengan bijak !!!