Kisah Si Boru Naitang, Karena Cintamu Disebut Menyimpang




 Kisah Si Boru Naitang


di tepi malam ratapmu parau

mengoyak senyap sudut-sudut huta meringkuk rebah di kolong ruma bolon raja huta meraungkan galau menembus sukma umurmu sudah diputus para tetua marga mengganjar ulahmu yang dianggap nista danau itu sudah dititah jadi kuburmu untuk membalas durjana durjanamu: berkelamin dengan saudara sendiri menyembelih lelaki yang belum lama kau persuami di ujung malam harapmu rapuh menggugat asmara pada lelaki sedarahmu harummu layu dihisap lelaki kembarmu perkawinanmu bukan jawaban bagi resahmu kau hunus pisau di huta Pintu Batu ketika lelaki dari Gorat itu lelap di pangkuanmu langkahmu gegas menuju Pangururan diburu rindu pada saudara kandungmu di rerimbunan perdu itu tubuhmu rubuh leluasa pula meluapkan cumbu tak kau duga kerabat suamimu sudah memburu setelah diberitahu anjing penjaga lelaki malang itu mereka curiga karena dirimu tak menjaga jasad suamimu lalu bergerombol mencari-carimu terhujam sembilu di jantung ayah-bundamu setelah tahu perbuatanmu tetua marga pun bungkam karena malu lalu menyidangkan dirimu di halaman huta disaksikan kerabat dan sanak-saudara beratus kata kau ujar membela dirimu tetapi para tetua adat tetap kukuh menghukummu: harus mati untuk membayar malu! mereka murka karena dirimu tak hanya bersetubuh dengan satu hula-hula yang serahim dengan dirimu juga tega menggorok leher lelaki yang mestinya ulu balangmu hanya karena tak ada cinta di hatimu gagal sudah dirimu menjadi boruni raja sebagaimana petuah leluhur dan orangtua di ambang fajar tangismu layu darahmu beku dadamu kaku saat remang digusur terang suruhan tetua itu membangunkanmu betapa berat tubuhmu tegak degup dadamu pun berdebar hebat langkahmu gontai saat digiring menuju danau itu nafasmu sesak wajahmu pucat di pasir danau itu sudah dihidang sesaji untuk leluhur dan keramat penghuni danau di pojok ruma bolon sang bunda terus meratap sembari memukuli perutnya yang senyap ia sesalkan rahimnya karena melahirkan sepasang anak yang diam-diam menjalin cinta di pondok huma ayahmu terkulai kaku diterjang gundah digulung serapah tangismu pedih menikam sunyi mengiba-iba agar tak dihukum mati: ampunilah aku pintamu tiada henti hukuman apapun akan kuterima asal tak ditenggelamkan di danau ini tetapi mereka tak sudi peduli digiring tubuhmu ke bibir danau itu tangismu hanyut menikam sunyi mengiba lagi supaya tak dihukum mati: buanglah aku ke hutan belantara atau terjang ke jurang terdalam biarlah si Boruadi mati sendiri bukan karena dihukum orang-orang terkasih permohonanmu tak didengar para tetua itu mereka ikat tubuhmu di sebuah batu lalu dinaikkan ke dalam solu diarungkan ke tengah danau dijatuhkan bersama raung tangismu yang lantas lenyap disumbat danau mereka pulang menuju huta melangkah bisu usai memancang sumpah: jangan lagi ada kisah semacam Naitang di tengah marga dan keturunan selanjutnya! tetapi mereka amat kaget melihat dirimu sudah duduk di tangga rumahmu tercenung bisu tak basah tubuh bahkan sehelai rambutmu mulanya dikira kau hantu tapi hantu seseorang takkan datang secepat itu maka huta pun gempar dan orang-orang berkerumun menjamahmu kau memang belum jadi hantu, Naitang mereka seret lagi dirimu menuju danau itu ditenggelamkan dengan menambahi batu-batu dalam perjalanan pulang pikiran mereka dipenuhi ragu kembali lagi mereka heran sebab dirimu lebih dulu tiba di rumahmu lagi-lagi langkahmu mendahului mereka bahkan sudah pula bersiap memenun ulos parompa di depan ruma bolon beratap rumbia seperti kebiasaanmu sebelumnya ditenggelamkan lagi dirimu seluruhnya empat kali! tetapi dirimu tetap bisa kembali bahkan selalu mendahului mereka tiba di huta siapa sesungguhnya dirimu hingga selalu lolos dari dasar danau? mereka lelah didera putusasa lalu pergi menemui datu untuk melumpuhkan jimatmu dirancang kembali acara kematianmu sambil menunggu pagi kau disekap lagi di larut malam kau berhasil lari menuju huta kaum hula-hula Siagian ternyata mereka sudi melindungimu namun ditentang kelompok hula-hula-mu yang lain mereka pun bertengkar di malam berhujan lebat itu membuat dirimu takut dan memutuskan lari menuju huta hula-hula bernama Huta Parik sebab kau tahu persis mereka tak setuju cara penghukumanmu lalu buru-buru mereka masukkan tubuhmu ke dalam sondi peti besar penyimpan padi itu tetapi mereka yang kukuh menghukum segera datang untuk menangkapmu bersama amarah dan sumpah-serapah dirimu diseret dari dalam sondi itu digelandang lagi menuju danau beriring rintih andung-andung-mu: Amang parsinuan nang sude Damang nahuhaholongi sibaran lapa-lapa do naro tu Boruadi mambahen au gabe sisurang songonon iya marpanganjuma hamu Amang paloas hamuma au mangolu paima ro situmalini marobur tu lombang naso haulahani sahat saonari dang boi dope huantusi boasa Boruadi ingkon manghaholongi iboto narap ro sian siubeoni Dainang pangintubu nasinuanni Damangi dang huantusi namasa tu au on anju hamuma Boruadi paloas hamuma au mangolu dohot iboto nahuhaholongi Amang hansitnai sitaononi Boruadi asima rohamuna ala nunga denggan pamatangni Boruadi paloas hamuma au mangolu tetapi permohonanmu tak mereka penuhi dibawa lagi dirimu ke danau itu asamu pun akhirnya getas hingga kau aju pinta terakhir terakhirmu: perangkat tenunmu harus ikut serta juga tikar dan cawan kesayanganmu di tepi danau itu hendaklah pula ditanam beringin jenis jabi-jabi sebagai monumen pada siapa pun yang semarga dengan dirimu: bahwa di tengah danau itu akibat cinta yang berkalang nista Naitang dihukum mati oleh kaumnya sendiri! hanya karena cinta yang dianggap menyimpang, Naitang yang entah kenapa dibiarkan Mula Jadi Nabolon berbiak di hatimu hingga membuat birahimu selalu bergelinjang manakala melihat Ingarnaiborngin lelaki kembarmu hanya karena cinta yang dikatakan menyimpang, Naitang

1 Comments

Previous Post Next Post