Nasehat untuk para orang kaya

 Menjadi Kaya itu Sah, Tetapi...

Ternyata memang manusia modern cenderung memuja kekayaan atau kemakmuran, di belahan bumi mana pun dan suku bangsa apa pun.
Karena itulah buku-buku berisi cara atau tips menjadi kaya amat laku, best seller, walau hasilnya tak sebagaimana dipaparkan penulis-penulis buku atau si pembuat tips--dan malah merekalah yang bertambah kaya dari hasil penjualan buku.
Cobalah tengok rak-rak toko buku, pernahkah tertemukan buku 'Cara hidup sederhana tanpa merasa kekurangan,' atau 'Tips menikmati hidup dengan bersahaja,' misalnya?
Para penerbit buku, kuat dugaan, akan menolak naskah-naskah sejenis karena diprediksi tak laku. Rugi yang menanti, maka jangan harap ada yang mau menerbitkan dan menjual buku yang potensil tak laku walau isinya berfaedah.

Manusia modern memang mengarah ke "homo economicus" seiring bertambahnya kebutuhan ("needs") dan tak terbendungnya tawaran-tawaran kesenangan maupun kemewahan yang membentuk budaya dan gaya hidup baru.
Tak ada yang salah, tentu. Bukankah dengan memiliki banyak uang atau kaya secara materi, bisa membuat kehidupan seseorang dimudahkan dalam pelbagai hal; disenangkan orang lain; dimanjakan fasilitas dan pelayanan istimewa; pun bisa menyalurkan naluri atau bakat eksibisionis yang terpendam dengan memamerkan yang dipunyai pada orang banyak (rumah, mobil, fashion, life style, dll); bisa pula bersenang-senang hingga kadang dituding orang lain glamour atau hedonis, walau karena iri, umpamanya.

Pendeknya, orang kaya atau menjadi kaya sungguh menarik. Seolah tak ada lagi kesusahan dalam hal apapun.
Daya pesona advokat kondang Hotman Paris Hutapea pun lebih karena kekayaan hartanya yang kerap diperlihatkan ke publik, bukan karena kasus-kasus advokasinya yang jadi benchmark penegakan hukum di negara ini.
Pertanyaan yang membuntuti dan bisa menyebalkan bagi pendamba kekayaan: bagaimana bila semua tips dan upaya telah dilakukan namun impian atau keinginan memiliki banyak uang dan harta seperti si Anu, misal, belum terwujud jua. Apakah sampai ajal tiba, idaman atau impian menjadi kaya atau melimpah harta hanya sebatas idaman?
Saya termasuk yang tak percaya bahwa setiap orang bisa jadi orang kaya walau semua upaya rasional telah dilakukan. Mencapai taraf hidup yang mencukupi atau tak berkekurangan, sangat mungkin bisa dilakukan semua orang. Tetapi menjadi kaya (apalagi pakai "raya"), saya kira bukan perkara mudah digapai.
Barangkali, karena itu pula banyak orang terseret ke perbuatan kriminal seperti menipu atau berlaku curang (masuk kategori fraud) atau melakukan korupsi demi memenuhi keinginan menjadi kaya atau setidaknya memiliki banyak uang.
Atau, melakukan upaya irasional berunsur klenik yang disebut pesugihan dengan minta bantuan dukun, walau harus melakukan pelbagai macam syarat dan konon menuntut imbalan yang mengerikan. (Apakah cara ini hanya rumor atau benar terjadi, tak bisa pula diverifikasi kebenarannya)
Keinginan menjadi kaya memang dambaan bermilyar manusia. Hidup berkekurangan atau dikurung kemiskinan, amat tak enak karena intim dengan kisah derita--bahkan tak sedikit yang menganggap hina.

Dari perspektif teologi Kristen, keinginan menjadi kaya dan banyak uang, tidak salah. Tetapi, bila seluruh ajaran dan ucapan Jesus Kristus dipahami, tak ada sesungguhnya narasi yang memberikan janji kekayaan materi bila setia mengikutiNya. Kristus malah meyakinkan orang miskin agar tak berkecil hati karena kemiskinan.
Tetapi, walau mengaku pengikut atau yang mengimani Jesus Kristus sebagai Mesias, orang-orang Kristen umumnya menyukai harta dan kalau bisa kaya raya, makmur sentosa.
Sebagaimana manusia lain yang bukan kristiani, umumnya umat Kristen ingin kaya atau mengidamkan kekayaan--kendati tak diungkapkan terang-terangan.
Sementara, keinginan jadi orang kaya, bukan sesuatu yang pasti bisa diwujudkan tiap orang yang mengidamkan.
Lalu, bagaimanakah caranya, padahal tips dari penulis buku atau saran motivator, advis para pakar keuangan-investasi telah diikuti, dan doa-doa serta sebagian penghasilan terus diberikan ke gereja (sebab ada banyak yang percaya), kenyataan tak juga sebagaimana dambaan.
Apakah mereka yang mengidamkan kekayaan namun belum juga terbuka kesempatan perlu berhenti berharap? Apakah sebelum ajal tiba idaman tersebut harus dipertahankan?

Agaknya, orang-orang yang ambisius mengejar kekayaan perlu meminta motivator dan penulis buku agar memberi atau menulis tips 'Menjalani hidup bahagia berdasarkan keapa-ada-an,' atau 'Tips menikmati hidup di tengah keterbatasan finansial,' atau ini: 'Berhentilah mengejar uang dan kekayaan bila itu membuatmu jadi kriminal atau gila.'
Penerbit buku perlu pula diyakinkan agar tak perlu ragu: buku-buku macam itu bisa laku. Bila pun akhirnya merugi, setidaknya telah turut mengingatkan orang-orang agar tak jadi depresi atau jadi seorang kriminal karena uang atau ambisius kaya. Itu sesuatu yang mulia.
Dan, bila para agamawan atau juru khotbah Kristen paham betul kemauan Jesus Kristus, patutlah berhenti mengumbar teologia kemakmuran dan memuji-muji umat yang royal menyumbangkan uang ke gereja atau kepada pendeta karena Kristus tak pernah menjanjikan berkat yang melimpah dengan pemberian "kepada Dia" yang acap dijadikan semacam landasan teologis oleh para agamawan.
Janganlah memanipulasi umat. Mengasihi sesama manusia yang bahkan sekalipun itu dianggap musuh, itu kok yang paling dikehendaki Kristus.
Marilah sama-sama bertobat, termasuk saya yang masih kerap mengidamkan kekayaan ketimbang berupaya mengikuti yang dikehendaki Kristus.

Tulisan ini disalin dari facebook Suhunan Situmorang

Post a Comment

Previous Post Next Post