MENDULANG INSPIRASI

 Hal-hal yang menginspirasi itu terkadang datang bukan dari yang kita harapkan. Sering sekali ia datang dari bagian terkecil kehidupan yang tidak kita amati. Hal-hal yang menginspirasi itu juga sering sekali datang bukan dari orang-orang besar, pejabat bahkan orang yang kita segani. Tak jarang hal itu kita dapatkan dari orang-orang sederhana yang tidak kita duga, tidak kita kenal bahkan orang yang “kedudukannya” dibawah kita.

Saya sendiri sering sekali diinspirasi oleh orang-orang yang “terpinggirkan”. Pernah suatu kali, Keengganan saya ke sekolah muncul karena dinginnya cuaca di subuh hari. Namun, saat melihat orang-orang yang tidur di pelataran rumah, di trotoar, tidur dengan beralaskan aspal dan beratapkan langit saya diinspiarasi untuk tidak mau dikalahkan oleh cuaca. Begitu juga hari ini, inspirasi itu datang dari seorang yang tidak kuduga. Seorang siswa SMA membawanya kepadaku. Ya, siswa SMA. Seorang yang masih sangat muda yang  tak jarang dianggap bahwa inspirasi tidak mungkin datang darinya. Namanya Ami. Dia dikenal dengan sebutan Ratu Sampah. Kepala sekolah sengaja mengundangnya untuk berbagi kepada guru-guru. Ami pun bercerita mengapa dia disebut Ratu Sampah. Itu dimulai dari kerinduannya untuk berbuat sesuatu bagi bangsa ini. Mulanya saat ia jengah dengan berita-berita yang menyedihkan di televisi. Dia mengeluhkan semua yang terjadi itu kepada ibunya. Ibunya berkata, “Kau terlalu banyak mengeluh! Kau mengeluh banyak tetapi berbuat sedikit.” Hal itu mengispirasinya untuk berbuat sesuatu. Memang dari penuturan  Ami, ibunya selalu mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang dia bisa. Meskipun saat itu ia masih duduk di kelas satu SMP! Dorongan ibunya itu semakin terasa takkala ia melihat tumpukan sampah di lapangan tempat mereka berolah raga. Kemudian ia mengajak teman-temannya untuk melakukan sesuatu. Ada beberapa orang yang mau. Mereka memilah-milah sampah organik dan anorganik yang ada di tong sampah sekolah dan di tumpukan sampah yang ada di lapangan tersebut. Sampah organik mereka jadikan pupuk dan sampah anorganik mereka buat menjadi sebuah kerajinan tangan. Dan itu semua mereka lakukan sepulang sekolah. Saat ini Ami dan kawan-kawan telah membuat tempat pengelolaan sampah di lingkungan dekat rumahnya. Mereka merekrut ibu-ibu yang tidak punya pekerjaan untuk membuat kerajinan tangan dari sampah-sampah tersebut. Dengan demikian mereka tidak hanya mampu mengelola sampah dan peduli pada lingkungan tetapi juga telah membuka lapangan pekerjaan baru. “Ami selalu ingat kata mama, kita ini lahir dari tanah air yang sama maka jangan pernah mengangap hanya diri kita yang ada, ada sesama kita,” katanya mengakhiri cerita. Kami semua terperangah mendengar cerita Ratu Sampah ini. Kekaguman tersirat dari raut wajah guru-guru yang hadir di sana. Namun, di balik kekaguman itu kami juga dibuat malu. Malu pada diri sendiri. Seorang anak SMP mampu melakukan hal itu sementara kami yang sudah bisa dikatakan “dewasa” belum melakukan apa-apa buat bangsa ini. Seumur ini kami hanya “mengeksploitasi” bangsa ini, lingkungan bahkan sesama yang ada di sekitar kami. Ami telah menginspirasi kami. Meskipun ia seorang siswa dan kami guru, tetapi inspirasi itu tidak memandang status dan kedudukan. Ia bisa datang dari siapa saja. Guru memang harus menjadi sumber inspirasi bagi murid (siswa)-nya, tetapi siswa juga bisa (bahkan pasti) menjadi inspirasi bagi gurunya. Hari inilah buktinya, guru-guru sekolah kami telah mendulang inspirasi dari seorang murid (siswa). Inspirasi itu bisa datang dari mana saja, mungkin juga dari dedaunan yang berguguran. Kita selain menjadi “pendulang” inspirasi juga merupakan sumber inspirasi. Menjadi sumber inspirasi ketika kita melakukan sesuatu, sekecil apapun, bagi bangsa dan sesama. Selamat mendulang inspirasi! Dan bersiaplah menjadi sumber inspirasi!


by: SEORANG GURU

0 Response to "MENDULANG INSPIRASI"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel