-->

Lambaian Tangan Terakhir karya Suhunan Situmorang

 SETAMAT kuliah di satu kampus swasta, Medan, Dompak memutuskan mencari kerja ke Jakarta.

Minar, kekasihnya, mulanya tak sedia melepas Dompak. Berat baginya berpisah setelah mereka jalin asmara dua tahunan. Ia lebih senang bila Dompak mencari pekerjaan di sekitar Sumatera Utara.
Dompak akhirnya mampu meyakinkan Minar bahwa kepergiannya tak lain untuk masa depan mereka; yang gemilang, tak lagi hidup pas-pasan, sejak lahir di kampung masing-masing dan kemudian merantau ke Medan untuk meneruskan pendidikan.
***
Sejak pagi mereka telah di pelabuhan Belawan. KM Tampomas akan mengantar Dompak meraih impian ke Jakarta; sasaran utama para pemburu kemakmuran dari berbagai wilayah.
Sebelum naik ke dek kapal, ia dan Minar saling berpegangan tangan; tak risih disaksikan ibunda dan sanak-saudara Dompak yang turut mengantar ke pelabuhan. Kadang ia mengelus rambut Minar yang masih berat melepas kepergiannya.
Seperti halnya seribuan lebih penumpang lain, Dompak kemudian mengantri di tangga kapal sambil memundak kopernya. Penumpang tampak berdesakan, tak mudah baginya tiba di dek kapal.
Setelah lelah mencari tempat untuk sekadar merebahkan tubuh di ruang dek yang padat dan becek itu, ia kemudian menuju palka untuk melihat Minar, juga ibu dan sanak-saudaranya, sekalian hendak melambaikan tangan demi menguatkan hati kekasihnya.
Palka kapal tua itu telah sesak dipenuhi penumpang, beragam usia, tua-muda, pria-wanita.
Ketika KM Tampomas mulai bergerak meninggalkan dermaga, dua sejoli itu saling mengucapkan kata namun harus kuat diucapkan, seperti berteriak, sebab selain jarak kapal ke terminal lumayan jauh, suara mereka pun dikalahkan hiruk-pikuk penumpang dan pengantar.
Angin laut pun turut menghambat suara, ditambah musik dan nyanyian penyanyi kapal yang biasa ditampilkan dari palka saat keberangkatan dan kedatangan kapal.
Melantun nyanyian biduanita kapal ciptaan A. Riyanto, “Selamat jalan sayang, rindukanlah diriku...”
Dompak menatap kekasihnya sambil melambaikan tangan. Minar membalas dari lantai atas terminal pelabuhan sambil mengelap airmata.
Pelabuhan dipenuhi orang, berdesakan. "Aku mencintaimu, Minaaarrrr. Percayalah, tak ada yang bisa menggantikanmu," kata Dompak sekuatnya agar didengar Minar.
Tetapi Minar tak bisa mendengar yang dikatakan pacarnya karena riuhnya suara. Namun, ia pun tak mau ketinggalan lalu berkata sekuatnya pada Dompak, "Jangan lupa. Di rantang ada rendang dan ikan teri sambal kesukaanmu."
Dompak mengangguk walau tak tahu apa sebetulnya yang dikatakan Minar. Kemudian dia pun berkata kuat: "Cintaku tulus dan murni padamu. Percayalah. Aku akan setia."
Minar tak tahu yang dikatakan pacarnya walau kemudian ia balas: "Kalau abang nggak suka makanan yang kumasak itu, jangan dibuang, ya. Kasih saja ke kawanmu sesama penumpang."
"Suratku akan kau terima secepatnya. Jangan kelamaan kau sedih," balas Dompak seperti berteriak dengan suara mulai serak.
"Eh, aku mau ke toilet dulu," kata Minar membalas kuat. "Akan kembali lagi aku ke sini. Nanti, lihat aku di tempat ini, ya. Nggak lama, kok."
"Perpisahan ini sangat menyedihkan bagiku, Minar. Tapi demi masa depan kita, aku harus pergi."
"Aku mau ke toilet dulu. Nggak tahan lagi aku," kata Minar seraya beranjak menuju paturasan pelabuhan di lantai bawah.
Dompak tak tahu yang diucapkan kekasihnya. "Jangan pergi! Tunggu dulu Minarrrr," ucapnya amat kuat setelah dilihatnya Minar membalikkan badan. "Minar! Kapal belum berangkat. Jangan dulu pergi. Aku harus melihat lambaian tanganmu."
Sirene kapal kembali menggelegar, KM Tampomas semakin menjauh, sementara Minar masih antri di depan toilet yang jorok dan basah. Orang-orang begitu banyak membutuhkan kakus umum itu.
Minar gelisah, apalagi sirene kapal ketiga telah berbunyi, pertanda kapal telah beringsut meninggalkan dermaga.
Dompak melongo dengan tatapan hampa. Ia amat kecewa karena tak lagi melihat kekasihnya. Perasaannya diaduk gundah bersisip kecewa. "Ternyata kau tak setia," ucapnya lirih sambil memandangi dermaga yang kian jauh.
***
Selama pelayaran ke Tanjung Priok, tiga hari dua malam, Dompak lebih banyak bengong. Rendang dan ikan teri goreng bersambal yang disiapkan Minar sama sekali tak disentuhnya. Ia amat kecewa karena kekasihnya begitu saja pergi sementara kapal belum pergi, sementara ia ingin memandang seraya melambaikan tangan hingga Belawan tak lagi kelihatan.
Ia amat kecewa. Nelangsa menggerayangi hatinya sepanjang laut yang diarunginya.
Curiga kemudian mengusik hati dan pikirannya: Jangan-jangan ada lelaki lain yang turut ke Belawan tanpa sepengetahuanku, diam-diam disiapkan Minar untuk menggantikan aku...
“Tak kusangka hanya sandiwara yang kita lakukan,” desisnya seraya meremas tanggannya.
Cakrawala seperti hamparan kehampaan, lautan menjadi samudera maha luas yang hanya meniupkan angin kesunyian.
***
Minar amat kecewa karena Dompak tak juga mengiriminya surat. Telah dua bulan lebih kekasihnya pergi, selembar surat pun belum ia terima.
“Ternyata dia hanya memberiku janji palsu,” ucapnya seperti berdesis di kamar kosnya. “Sengaja kumasak rendang dan ikan teri kesukaannya agar dia tak merana selama di kapal. Ternyata begitu saja.”
Pikirannya pun mulai dikerubuti syak-wasangka: Jangan-jangan, rendang dan ikan teri itu dikasihnya pula ke satu wanita yang dikenalnya di kapal itu. Bisa jadi mereka makan sama-sama sambil berpandangan mesra, lalu mereka habiskan waktu dengan bercengkerama selama di kapal.
Emosinya sontak-mendadak mendidih.
Minar dikepung kecewa pada hari-hari selanjutnya. Ia merasa telah didustai Dompak. “Kau kejam ternyata. Kau sia-siakan cintaku yang tulus pada dirimu,” desisnya di atas kasur kamar kosnya di bilangan Padang Bulan. "Untunglah tak kuberi lambaian tangan terakhir untuk melepas kepergianmu. Pembohong. Penipu kau, Dompak. Puih!"
Sejak perpisahan di Belawan itu tak ada lagi komunikasi dua insan yang pernah berkali mengucap janji setia, hingga tahun demi tahun berlalu...

You may like these posts