-->

Kiriman Dari Rantau Oleh Suhunan Situmorang

Makna kata ‘kiriman’ sudah bergeser, mengandung sindiran, bahkan sinisme; olok-olok bagi setiap jenazah perantau yang dibawa ke wilayah Samosir; sesu

Sadura dari laman Facebook Suhunan Situmorang

SUATU malam yang sudah larut, seraya menahan udara dingin yang menusuk kulit, saya asyik ngobrol bersama kawan lama dan kerabat di sebuah kedai kopi Pangururan. Di tengah pembicaraan, dari kejauhan terdengar suara sirene ambulans, mengusik keheningan kota kecil di tepi Danau Toba itu. Spontan mereka berkata, “Datang lagi kiriman.” Suara sirene itu kian dekat, mata kami pun seperti kompak menatap kendaraan pembawa jenazah itu hingga menghilang di kejauhan. Dua hari kemudian, ketika bersantai di tepi pantai menikmati pesona alam Samosir bersama kawan lain, di kejauhan muncul lagi mobil putih pengusung jasad. Lagi-lagi para kawan spontan berkata, “Bah, sudah datang kiriman.” Ternyata, kata ‘kiriman’ sudah jadi istilah umum di Samosir (setidaknya sekitar Pangururan), dilekatkan pada jenazah yang akan dikubur di sana. Makna kata ‘kiriman’ sudah bergeser, mengandung sindiran, bahkan sinisme; olok-olok bagi setiap jenazah perantau yang dibawa ke wilayah Samosir; sesuatu yang tak berguna lagi karena tinggal bangkai, yang semasih bernyawa tak pernah datang, dan kalau pun pernah, hanya karena adanya upacara adat atau ziarah. Sebagai perantau, tentu saya miris dan prihatin mendengar sindirian tersebut. Tapi di satu sisi, bisa saya maklumi. Selama puluhan tahun mereka saksikan datangnya kiriman berupa mayat, yang semasih berjiwa belum tentu pernah memberi perhatian ke Bonapasogit, meneteskan rezeki untuk membantu kerabat, atau sekadar merawat ruma adat peninggalan orangtua dan leluhur mereka. Alam Samosir yang permai namun tak subur itu setiap tahun cuma dijejali makam dan tugu. Para perantau yang sudah makmur seakan tak mau tahu keterbelakangan dan kebutuhan saudara, kerabat, atau warga di huta, padahal akan direpotkan mengurus upacara adat penguburan. Para perantau seolah menganggap kerabat mereka dan penghuni kampung bagai pengurus jenazah, yang dengan diberi makan berlaukkan 'jagal' (daging), dicekoki minuman keras, plus sajian ‘hiburan’ berupa gondang berseling organ tunggal, cukuplah. Sesudahnya mereka pergi dan belum tentu datang lagi hingga ajal menjemput; membiarkan huta merana, rumah peninggalan orangtua atau ompung rubuh karena tak terurus; menelantarkan tanah warisan jadi lahan tidur namun bila coba digarap oleh kerabat atau warga setempat akan langsung mengamuk disertai ancaman. Para perantau kerap pula menyombongkan diri karena begitu bangga berkata, “naeng mangalean mangan par huta” (mau memberi makan orang yang tinggal di kampung) bila berencana bikin hajatan atas nama ‘syukuran’ di tanah kelahiran, padahal terselip agenda untuk memamerkan kesuksesan. Seolah-olah kerabat dan tetangga di kampung kumpulan orang-orang lapar, yang hanya mampu sekali setahun makan 'jagal'—betapapun masih banyak yang dijerat kemiskinan. Karena hubungan yang dijalin lebih menekankan aspek kepentingan (supaya dibantu saat upacara penguburan, bangun tugu, pamer keberhasilan), maka para kerabat dan tetangga di kampung pun kemudian mengendus ketidaktulusan tersebut dan lalu membuat hubungan bersifat transaksional, kendati terhadap saudara-kerabat dekat. Lama-lama mereka ajukan pula ‘tuntutan’, semisal biaya untuk keperluan hajatan yang dinilai perantau terlalu besar dan mengada-ada dan kian banyak yang menganut prinsip 'no money no work' (molo dang adong hepeng dang niulahon). Para perantau kaget dan tak siap atas perubahan tersebut, lalu melampiaskan keluhan dan kecaman. Tak mereka sangka sudah sedemikian ‘mata duitan’ kerabat mereka dan orang-orang yang tinggal di kampung. Ada beberapa faktor penyebab yang membuat perubahan sikap dan perilaku orang-orang yang bermukim di Bonapasogit, yang tak mudah mengubahnya dalam waktu pendek. (Dalam ‘Sorot’ Sabtu depan akan saya coba ulas). Tapi tak arif dan kurang adil bila hanya menyalahkan saudara, kerabat, dan orang-orang yang tinggal di kampung. Para perantaulah yang selama ini abai ‘membayar utang’ pada kampung halaman, tanah kelahiran orangtua dan leluhur. Sekadar dilongok pun jarang. Begitu lepas atau tak lagi lahir di huta, lantas melupakan dan tak berbuat apa-apa—bahkan sekadar merawat rumah peninggalan orangtua atau ompung. Ironisnya lagi, banyak orang Batak dan keturunan mereka yang tak tahu di mana kampung atau dari wilayah (huta) mana mereka berasal, walau masih tetap melekatkan marga dan menjalani ritus adat. Supaya saat jasad orangtua atau saudara kita—dan mungkin diri kita sendiri yang masih ingin dikubur di Bonapasogit—kelak tak disebut ‘kiriman’, mari kita lakukan sesuatu yang berarti bagi warga dan tanah leluhur. Caranya tak susah, biaya pun tak harus besar. Misalkan tiap kumpulan marga, pomparan ompung, huta, rutin menyisihkan dana arisan untuk membeli bibit tanaman dan ternak, membangun tali air, jalan, puskesmas, perpustakaan, memberi beasiswa, atau melakukan penanaman pohon di kampung. Yakin saya saudara-saudara kita yang tinggal di kampung akan merasa tak dilupakan. Tak usah ragu atau skeptis pula bila kerabat atau warga di kampung akan menyia-nyiakan perhatian atau bantuan kita. Sekali gagal, kita lakukan lagi. Berbuat dan berbuat, lama-lama hasilnya akan terlihat. Setidaknya mereka mulai merasa tak dilupakan dan Bonapasogit bukan cuma dijadikan lokasi kuburan.

HORAS JALA GABE

You may like these posts

  1. To insert a code use <i rel="pre">code_here</i>
  2. To insert a quote use <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. To insert a picture use <i rel="image">url_image_here</i>
Berkomentarlah dengan bijak !!!