-->

Apa itu hangalan - Mitos atau Fakta

DI zaman ini, di kalangan orang Batak, boleh jadi "hangalan" hanya dikenal atau dipercayai sedikit orang. Itupun terbatas pada orang-orang "sisa ma
ilustrasi perempuan depresi, pixabay.com

Parpining.xyz - Di zaman ini, di kalangan orang Batak, boleh jadi "hangalan" hanya dikenal atau dipercayai sedikit orang. Itupun terbatas pada orang-orang "sisa masa silam", terutama yang bermukim di kampung halaman (bonapasogit). Perubahan zaman yang kian membuktikan keunggulan rasio lewat produk sains, kemajuan teknologi di berbagai aspek, dan yang tak kalah penting pengaruh doktrin agama-agama samawi, telah mengikis perlahan kepercayaan-kepercayaan kuno seperti hangalan.

  Ia tinggal mitos yang tak lagi menggelitik perhatian dan dilupakan--kecuali pada sebagian orang yang diam-diam masih meyakini. Namun, menguapnya kepercayaan orang Batak pada hangalan, lebih karena pengaruh agama; takut dituduh sinkretis, penyembah berhala, masih berpikiran "si pele begu" (penyembah roh orang mati atau hantu). Secara harafiah, hangalan adalah rintangan, kendala, penghambat, yang berasal dari kekuatan supranatural, di luar jangkauan dan kemampuan kodrati.   Tetapi hangalan bisa pula akibat kesalahan, kelalaian, ketidaktercapaian atas suatu keinginan ("tarhirim") yang sudah lampau, atau penderitaan batin seseorang (termasuk akibat perlakuan kekerasan dan penghinaan dan juga pelecehan pada pribadi lain, roh orangtua, leluhur, dan sebagainya). Dalam kepercayaan lama, seorang ibu yang mulai mengandung bayi, misalnya, dianggap rentan dari gangguan, godaan roh jahat, amat sensitif hingga jangan sampai tersinggung, terluka jiwa dan raga, yang membuat "tondi"-nya sedih, bahkan pergi. Tondi atau roh manusia yang terluka bisa berakibat buruk, memendam masalah yang bersifat laten, atau pergi meninggalkan si empunya tondi--dan akibatnya bisa buruk: sakit-sakitan, meninggal dunia.   Tondi itu sangat peka hingga harus dijaga agar jangan sampai tersinggung, sedih, kecewa. Karena itu dulu sering dikatakan orang-orang (terutama orangtua) jangan sampai suatu perbuatan, omongan, "sahat tu tondi" (harafiah: tiba pada roh, namun maksudnya: jangan sampai roh seseorang itu ikut merasakan kekecewaan, kesakitan, kesedihan, atau kemarahan akibat perlakuan orang lain, dan itu bisa berupa perbuatan suami, istri, anak, orangtua, saudara, kerabat, orang lain; cukup indra atau fisik saja yang mengalami, jangan sampai ikut tondi-nya).   Bila tondi orangtua (ayah-ibu, kakek-nenek) atau seseorang atau beberapa orang yang menurut aturan adat harus dijunjung tinggi ("hula-hula", "tulang", "tulang rorobot", "bona tulang") terluka, akibatnya bisa buruk. Pelakunya atau keturunannya akan mendapat hangalan. Seorang ibu yang terluka batin akibat ulah pihak di luar dirinya (termasuk suaminya) dan penderitaan itu dialami saat mengandung, bisa membuat bayinya "mewarisi" atau dibebani halangan. Bahkan, ibu yang mengandung mengidamkan sesuatu (bisa hal sepele) namun tak tercapai hingga melahirkan, bisa pula mewariskan hangalan pada anaknya saat dewasa. Dan, anak yang pernah menyakiti hati orangtuanya pun bisa menjadi hangalan, walau orangtuanya tak menghendaki dan bahkan cemas bila efek perbuatan tersebut akan berpengaruh buruk ("manginona") pada diri anaknya, dan karenanya orangtua yang bijak (dulu) sering berkata pada dirinya agar omongan atau perbuatan yang tak menyenangkan dari si anak tidak sampai "didengar" tondi-nya.   Hangalan, acap kali (pada masa depan, "in the future") termanifestasikan lewat sulitnya si anak mendapat pekerjaan atau sumber rejeki, mengalami kesulitan ekonomi padahal terus kerja keras, mengalami kegagalan di berbagai bidang, sulit menemukan jodoh, bahkan sakit-sakitan). Seseorang yang dikerangkeng hangalan sering juga disebut korban "sapata" (semacam kutuk), yang dilakukan orang di luar dirinya dan sama sekali tindakan tersebut tidak diketahuinya, melainkan karena ulah orangtua, kakek-nenek, bahkan moyangnya.   *** FOLKLOR atau sastra lisan Batak ("turi-turian", "situriak"), juga lirik-lirik lagu tradisional dan kontemporer, terbilang banyak mengusung tema hangalan dan sapata. Sejumlah kisah yang menguras airmata atau menggelontorkan rasa sedih, banyak tersimpan dalam khazanah sastra lisan Batak yang sudah mendekati kepunahan karena tak lagi diteruskan, apalagi didokumentasikan, padahal bisa bermakna penting bila dijadikan bagian dari kearifan lokal yang mengontrol perilaku atau jadi bahan pertimbangan sebelum melakukan suatu tindakan atau mengeluarkan ucapan yang potensil melukai pihak lain.   Sebuah lagu gubahan komposer cum penyanyi bernama Dakka Hutagalung (eks personel Trio Golden Heart) yang diciptakannya pada penghujung 70-an, hingga kini tetap populer, kerap dinyanyikan: "Didia Rongkaphi" (Di mana jodohku atau pasangan hidupku). Dalam bagian lirik lagu tersebut ada semacam gugatan (dari yang menyanyikan): Kalaupun yang kualami ini karena kutukan (Molo tung sapata pe nasorop), hingga jodohku jadi terhambat/tertawan (mambahen rongkaphi gabe tarborot), dari siapa atau karena perbuatan siapakah kutuk itu, O, Yang Maha Kuasa (sapatani ise on Ompu Mulajadi Nabolon).   Pada bagian selanjutnya sungguh menggetarkan sekaligus mengharukan. Dengan perpindahan oktaf ke nada yang lebih tinggi namun tetap disertai melodi yang sublim, "sang penutur" kian lantang namun pedih dan setengah putus asa menuntut: Paboama tu au, paboama tu au, didia rongkaphi (beritahulah pada saya, beritahu saya, di mana jodohku). Ini bagian yang paling saya puji dari keseluruhan komposisi apik bergenre "slow rock" itu (dan sangat sering saya bayangkan yang menyanyikannya Whitney Houston atau Nicky Astria, dan "syukurlah" Dewi Marpaung mampu memenuhi keinginan itu setelah berkolaborasi dengan Viky Sianipar-Hermann Delago dalam album 'Tobatak').   **** HANGALAN, sapata, ternyata memang suatu "kesertamertaan" dalam pandangan mitologi Batak. Ada semacam hukum sebab akibat yang tak terelakkan melingkupi mikrokosmos yang dikendalikan makrokosmos. Sebab, untuk memulihkan hangalan dan akibatnya, perlu sebuah inisiasi yang bersifat remedial, rekonsiliasi. Tondi yang terluka harus dibujuk, dimohon maaf, dan itu perlu dibantu Sang Khalik.   Lalu, bagaimanakah seseorang atau beberapa orang menyadari ada hangalan hingga berakibat tak baik pada seseorang (terutama anak)? Dahulu, orangtua yang peka, terutama ibu, akan mencermati perjalanan hidup tiap keturunannya, mulai dari kesehatan, sumber nafkah, jodoh, hingga tantangan di zaman modern, yakni pendidikan. Kegagalan atau belum terpenuhinya idaman atau cita hidup seseorang (yang berlaku umum), akan menggerakkan orangtuanya mencari tahu apa sesungguhnya yang menyebabkan.  Tapi, k arena keterbatasan kemampuan menerawang dunia tondi untuk menyelidiki, lazim dilakukan "mangulpuk"; bertanya pada paranormal, datu (dukun), namun ada juga ibu yang mampu merekonstruksi sendiri memorinya hingga menemukan penyebab anaknya terhalang menggapai beberapa hal yang dianggap pokok, seperti jodoh, sekolah, pekerjaan, keturunan, dan kesehatan. Si ibu akan memenuhi yang diidamkannya semasa mengandung anaknya, atau melakukan tindakan pemulihan pada pihak lain, misalnya, seseorang yang pernah dibuatnya sakit hati, kecewa, marah--terutama orangtua dan hula-hulanya.   Yang sulit adalah bila pemulihan tersebut justru harus dilakukan pada si ibu, sementara dirinya yang menjadi "korban" dan justru yang harus dilakukan tindakan remedial agar anaknya tidak dikeranngkeng hangalan. Ada beberapa cara pemulihan yang lazim dilakukan orang-orang yang percaya pada bahaya hangalan, namun peliknya, inisiatif tersebut harus datang dari yang melakukan kesalahan. Tak akan berguna, katanya, bila sebaliknya, yakni bila yang disakiti atau jadi korban yang meminta--hingga menimbulkan hangalan bagi person lain-- agar dilakukan semacam inisiasi pemulihan atau rekonsiliasi.   Soal lain yang acap menghalangi upaya remedial adalah, yang disakiti atau dikecewakan kerap tak sadar bahwa akibat suatu perbuatan yang dialaminya pada suatu masa, telah menimbulkan hangalan bagi individu lain (anaknya), dan ini lazim pada ibu yang sedang mengandung saat kejadian tersebut dialami. Ibu atau orangtua yang sudah mangulpuk, biasanya akan membuat permohonan--lewat upacara kecil--pada dirinya atau kepada pihak yang disakiti atau kecewakan. Bila ia pernah mengidamkan (tarhirim) sesuatu semasa mengandung, akan dipenuhi keinginan tersebut dengan cara memberi yang diidamkan, dengan cara menyuapkan pada anaknya (bila yang membuat tarhirim berupa makanan), memberi suatu barang (bila itu dulu yang dia dambakan), disertai pemberian ulos dan menaburkan beras "sipirni tondi" di kepala anak, juga doa dan permohonan pada Yang Maha Kuasa. Namun, bila dirinya sendiri yang harus dipulihkan atau direkonsiliasi oleh pihak yang menyakiti (bisa suami, orangtuanya, mertua, dan yang lain), maka dirinyalah yang harus diupacarai (disertai anaknya).   Yang sering jadi kendala untuk membebaskan kendala atau hangalan, sebagaimana disinggung di atas, karena adanya syarat penting: harus dilakukan secara voluntari, suka rela, ikhlas, tak boleh dipaksa, baik si penerima maupun si pemohon. Karenanya, bila ada orang menuntut agar dilakukan tindakan pemulihan pada dirinya--untuk membebaskan hangalan yang menimpa orang lain--akan dianggap tak valid, tak pantas, palsu, dan sia-sia. Pendeknya, inisiatif remedial harus datang dari pihak yang merasa bersalah, yang kemudian disambut tulus, ikhlas, tak boleh dijadikan jadi "modal" untuk menghukum pihak yang memohon. Sebaliknya, yang memohon pun tak boleh melakukan dengan terpaksa, harus dibarengi kerendahan hati memohon ("mangelek").   Akhirnya, jangan tanya saya apakah masih percaya hangalan, sapata, dan akibatnya. Tapi, dari kearifan lokal Batak tersebut bisa saya petik pesan penting agar tak lantam bicara pada orang lain, tak gampang menyakiti yang lain, membuang arogansi, terutama pada orang-orang dekat dan yang secara adat dan norma sosial seharusnya saya hormati. Dan itu, dalam proses memaknai hikmat, saya rasakan paralel dengan kepercayaan yang saya anut.

Begitulah sedikit penjabaran tentang hangalan dalam kehidupan orang-orang batak ini.

You may like these posts