-->

Di ManaKah Beda KITA ???

MESTINYA, tulis seorang kawan lewat email, orang Batak memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki etnis lain, terutama menyangkut etika dan moral, yan


 MESTINYA, tulis seorang kawan lewat email, orang Batak memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki etnis lain, terutama menyangkut etika dan moral, yang membentuk pribadi-pribadi berkarakter kuat, menjaga harga diri, terpercaya, teguh pada prinsip. Dari paparan Lae melalui beberapa tulisan mengenai makna adat, norma-norma sosial dan nilai-nilai tradisional masyarakat Batak, seharusnya di mana pun dan apapun pekerjaan orang Batak, akan mencerminkan moralitas yang tinggi karena mengutamakan perilaku anakni raja-boruni raja, hingga mengundang simpati dari masyarakat lain.
  Ditambah nilai-nilai agama (apapun agamanya), lanjutnya, bekal orang Batak seharusnya lebih kokoh menghadapi keadaan dan tantangan, terutama yang bersinggungan dengan moral. Namun yang kita lihat tak demikian, perilaku umumnya orang Batak sama saja dengan etnis lain, sama-sama suka korupsi, melakukan pungli, menyuap, disuap, bahkan karena perangai sebagian orang telah membuat suku Batak dicap suku yang kasar, tukang korupsi, walau menurut saya sering subjektif dan dilandasi kebencian yang tak beralasan.   Pertanyaan saya, imbuhnya, selain marga, tarombo, aturan adat dan hubungan perkerabatan, masih adakah yang patut kita banggakan dari kebatakan kita? Bukankah karakter dan sifat yang menonjol dari kebanyakan orang Batak sekarang hanya keterus-terangan, suara keras, dan kegetolan melakukan acara adat? Apakah masih bisa kita klaim bahwa orang Batak teguh menganut norma-norma adat yang berpengaruh pada sikap dan perilaku sehari-hari?   Lalu, menurut Lae, apa penyebab hingga ajaran adat tak cukup berhasil membangun pribadi-pribadi yang beradab dan menawan? Bukankah orang Batak sekarang sama saja dengan umumnya orang Indonesia yang tak malu disebut bangsa korup? Bukankah orang Batak sekarang sama saja dengan yang lain, tak lagi memiliki akar kultural yang khas dan orisinal, yang berperan besar membentuk pribadi-pribadi dengan jati diri yang kuat hingga misalnya, berani bersikap tegas menolak perbuatan yang bertentangan dengan hukum dan norma-norma  sosial yang berlaku umum? Saya ragu, jangan-jangan sebenarnya ajaran atau nilai-nilai yang berasal dari adat dan kearifan lokal tak ada pengaruhnya bagi pembentukan sikap dan perilaku orang Batak, sebab yang terus berkembang adalah egoisme, kegilaan pada materi, pamer harta, pemujaan jabatan dan kekuasaan serta sifat-sifat negatif yang disebut hosom, teal, late (dendam, sok, dengki).   Kutipan surat di atas bukan hal baru saya terima, dan biasanya jadi bahan ‘percakapan’ dengan bantuan teknologi internet maupun tatap muka langsung dengan yang bertanya. Selalu muncul pertanyaan menanggapi catatan-catatan pendek saya di media ini—yang saya muat ulang di facebook dan kemudian disebarkan kawan-kawan di milis (miling-list) mereka. Jujur saja, tak mudah saya jawab. Tetapi, karena sudah ditanya, saya usahakan menjawab, walau tak memuaskan karena masih bersifat dugaan, asumtif, yang butuh pengujian melalui studi serius. Demikian pun, inilah pendapat atau jawaban saya, yang sangat terbuka dikoreksi.   Menurut saya, ada ketidaksinambungan dalam transformasi ajaran-ajaran adat berupa norma-norma dan nilai-nilai khas Batak, terutama dari orangtua pada anak. Ketidaksinambungan tersebut, agaknya dimulai ketika orang Batak mulai melakukan perantauan akibat desakan kemiskinan atau untuk memperbaiki taraf hidup dengan cara mencari pekerjaan, membuka lahan atau berniaga di wilayah perantauan, juga dengan melanjutkan pendidikan agar tak lagi jadi petani dengan penghasilan minim. Yang lebih ditekankan adalah aspek perjuangan dan upaya untuk mewujudkan harapan, tak dibarengi penanaman nilai-nilai habatahon.   Perhatian utama orang Batak pun: bagaimana agar bisa bertahan (survive), bisa meloncat ke lapisan sosial-ekonomi yang lebih tinggi yang diukur dari pencapaian yang bersifat materi dan fisik. Konsentrasi untuk mencapai semua itu perlahan-lahan mengabaikan aspek moral yang mengedepankan jati diri berdasarkan nilai-nilai anutan di tanah asal (bonapasogit). Sebaliknya, yang tetap bertahan di tanah asal  kemudian menyaksikan, mendengar, anutan dan budaya baru yang dibawa para perantau yang sesekali kembali, juga lewat kunjungan ke wilayah perantauan, dunia luar Batak. Kedua hal ini turut memengaruhi cara pandang dan sikap orang Batak yang sudah kagum pada hal-hal yang sebelumnya tak pernah dilihat atau dirasakan.   Gaya, pola hidup, cara bicara, dan bahkan sikap para perantau (terutama dari kota) memberi daya tarik yang ingin ditiru—dan itu sebetulnya jamak melanda penduduk pedesaan di wilayah manapun yang kemudian mengundang arus urbanisasi. Namun, orang Batak agak beda, entah karena apa. Banyak yang menganggap kampung asal identik dengan keterbelakangan, asosiatif dengan keudikan, hingga berusaha dilupakan.      Keterbukaan transportasi dan informasi, juga pembauran dengan masayarakat lain yang tergabung dalam sebuah nasion bernama Indonesia, pun berperan penting membentuk sikap dan pandangan baru yang tanpa disadari telah mengubah sikap dan pandangan lama terhadap hampir semua aspek kehidupan. Pola-pola kekuasaan, sistem perekonomian, dan budaya yang terbentuk dan dianggap berlaku umum, perlahan-lahan mengubah cara pikir, sikap, dan orientasi masyarakat Batak, khususnya mereka yang berdomisili di wilayah yang majemuk, baik suku, budaya, maupun agama. Akulturasi dengan masyarakat lain sedikit banyak memengaruhi cara pandang, sikap, dan nilai-nilai anutan asal.   Doktrin dan ajaran agama (samawi), sejak semula sudah pula dibuat para agamawan berseberangan dengan nilai-nilai adat dan kearifan lokal, yang secara sistematis diciptakan dikotomi untuk mengikis pandangan dan keyakinan tradisional demi mempercepat peralihan keyakinan sebagaimana ditawarkan agama. Akibatnya, niilai-nilai adat dan kearifan khas masyarakat adat Batak perlahan-lahan memudar, membuat orang Batak generasi selanjutnya tak lagi paham akar kebatakan mereka; tak berfondasikan poda, uhum, ugari, dalam bersikap-tindak, yang esensinya menuntut individu-individu agar berperilaku dan bicara naraja, menjunjung harga diri serta nama baik.   Saya kira, inilah beberapa faktor yang menyebabkan nilai-nilai habatahon tak lagi melekat kuat dalam diri orang Batak, hingga tak beda lagi dengan yang lain. Orang sana korupsi, orang kita pun korupsi. Orang sana memanipulasi, kita pun mengikuti. Di sana berpoco-poco disukai, kita pun turut menggilai. Kita telah kehilangan jati diri, sebagaimana umumnya penduduk negeri ini....


Oleh Suhunan Situmorang

You may like these posts