Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Di Malioboro, Tangisnya Meluluhkan Aku by Suhunan Situmorang

 By Suhunan Situmorang


TAK kumaksudkan meneteskan airmatanya ketika sepanjang jalan menuju Malioboro menjelang malam dua pekan lalu, kuputar lagu 'Mengkel Nama Au' milik Tongam Sirait. Kebetulan, lagu balada garapan Viky Sianipar itu termasuk lagu Batak yang tidak saja kusukai, tapi juga kagumi. Melodinya kuat, liriknya sederhana namun amat menyentuh. Kegagalan, ketakberuntungan, tak dilampiaskan lewat ratap— sebagaimana ciri lagu Batak umumnya—namun melalui tawa, kendati getir.

Selama perjalanan, lagu tersebut diminta kawan lawasku itu diulang-ulang. Kulihat ia begitu menikmati hingga tak jadi kuganggu dengan satu dua cakap. Padahal, itulah pertemuan kami setelah kurang lebih 27 tahun berpisah. Aku rada kaget saat pertama melihatnya. Rambutnya telah menguban, tulang pipi dan rahangnya menonjol, tubuhnya kurus, walau ketampanannya masih tersisa. Saat itu semakin kusadari bahwa kami sudah beranjak tua. Tak terasa. Ia temanku satu SMA di Jakarta, jurusannya IPA, aku IPS — karena nggak mudeng fisika dan kimia — dan sama-sama “Batak tembak langsung”, juga ngenger di rumah famili. Bedanya, aku ikut kakak-kakak kandung, ia menumpang di rumah kakak sulung ibunya (tulang). Laiknya ‘bonek’ pendukung Persebaya, Agustus 1979, kami nekat berangkat ke Yogjakarta dengan modal ala kadarnya. Tujuan kami: mengikuti tes masuk ke UGM. Tak ada kerabat atau teman dekat kami di sana. Andalan satu-satunya, kawanku itu mengenal dan menyimpan alamat seorang mahasiwa UGM, Batak perantau, yang dikenalnya di kapal Tampomas dalam pelayaran Belawan-Jakarta, 1978. Pagi masih gelap ketika kami tiba di stasiun Tugu. Menunggu terang, kami duduk-duduk di bangku stasiun. Pukul 6 pagi kami tiba di sebuah rumah kos di wilayah Sagan, lalu mengetuk pintu kenalan kawanku itu. Syukurlah, mahasiswa teknik mesin itu cukup ramah menyambut kami, juga membolehkan menumpang tiga mingguan di kamarnya. Kami mendaftar ke UGM, kuambil fakultas filsafat, walau belum paham “barang” macam apakah itu gerangan. Kawanku itu membidik fakultas ekonomi karena cita-citanya memang ingin jadi akuntan. Hasilnya? Sama-sama tak lulus. Aku kecewa, tapi ia lebih kecewa. Otaknya memang tergolong encer. Tak seperti aku yang selama SMA lebih suka naik gunung, kelayapan ke Blok M (masa itu masih menarik sebagai lokasi nongkrong), mendengar dan membahas lagu-lagu Rolling Stones, Deep Purple, Led Zeppelin, Black Sabbath, Uriah Heep, Grand Funk, Kansas, Queen, laiknya penyiar radio. Juga suka menulis cerpen dan puisi-puisi picisan yang sarat ‘ah’, ‘duh’, ‘oh’, demi menggaet perhatian gadis-gadis satu sekolah yang cukup banyak kutaksir namun tak satupun dapat. (“Cilakanya”, yang tak ditaksir malah terus merapat). Sambil menunggu pengumuman dari UGM, tiap hari kami keluyuran, menelusuri Yogja, berjalan kaki bak turis irit, hingga kaki lecet digesek sepatu. Tak sampai sebulan menggelandang di Yogja, berat badanku yang dasarnya kurus, turun sekiloan. Celana jinsku melorot, mungkin karena kelelahan jalan, makan seadanya, tak jelas jam tidur. Hampir tiap malam kami temui Malioboro. Hanya duduk-duduk di trotoar, ngopi-ngopi, menyaksikan andong dan becak lalu-lalang, mirip orang dusun turun ke kota. Tapi, tembang-tembang karawitan dan irama gamelan Mataram yang melenakan, warung-warung lesehan yang unik, juga nyanyian para pengamen dan sikap orang-orang Yogja yang hampir seratus persen ramah itu, telah menancapkan kesan yang begitu dalam bagi diriku. Setelah pengumuman UGM yang mengecewakan itu, malamnya kami bingung di trotoar Malioboro. Tak tahu selanjutnya mau apa dan ke mana. Akhirnya kuputuskan kembali ke Jakarta, kuliah di LPKJ (sekarang IKJ), ambil jurusan sinematografi. Kawanku itu memilih bertahan di Yogja, dan akhirnya kuliah di sebuah universitas swasta ternama. Aku sendiri tak jadi kuliah di IKJ, walau sudah ikut tes. Sebabnya? Hampir semua saudara tak setuju, khususnya si sulung yang tentara, karena katanya, “IKJ itu sarangnya seniman gila tukang ganja yang tak punya masa depan.” Aku pasrah karena tak punya daya. Ayahku hanya pensiunan PNS golongan rendah beranak banyak. Ketika mau pulang ke Jakarta, duit kami sudah kritis. Di dekat stasiun Tugu, dulu, ada jejeran pedagang baju dan barang loak. Dua celana jins, empat kaos kebanggaan (dua bertuliskan “Amsterdam” dan “Madrid”), kulego untuk membeli satu tiket sepur. Tak cukup. Di lengan kiriku, melingkar arloji ‘gaul’ pemberian abangku nomor dua, oleh-oleh perjalanan “ngamen” bersama trio vokalnya ke Eropa, karena aku mau menjaga anak-anaknya enam bulanan. Kulego juga. Tiket terbeli, duit kami masih sisa beberapa ribu rupiah. Setelah membayar makan siang yang sudah telat, kusisakan lima ribu untuknya — menunggu kiriman orangtuanya tiba. Hari sudah gelap ketika gerbong-gerbong kereta yang kutumpangi perlahan meninggalkan Yogja. Kulambaikan tangan dari balik jendela, ia membalas lesu dari tepi rel. Perasaanku galau bak penggubah lagu Sepasang Mata Bola. Sampai pertengahan 1984, sesekali kami masih berkirim-kirim surat. Selanjutnya, suratku tak berbalas, bahkan dipulangkan pak pos. Ke manakah dia? Apa yang terjadi pada dirinya? Kuberharap, tak ada sesuatu hal buruk yang menimpa dirinya. September tahun lalu, sepulang dari Medan menghadiri pembacaan novel Sordam undangan Grace Siregar penggagas Galeri Tondi, di email personalku muncul sebuah nama baru. Kubuka, kubaca, ternyata pengirimnya kawan lamaku itu. Aku terkejut, senang, terharu. Alamat email-ku, katanya, diketahui dari cover dalam novelku, yang dipinjamkan kawannya, orang Yogja asli. Sejak itu, sesekali, kami berhubungan via sms. Sudah lama aku rindukan Yogjakarta, terutama Malioboro. Sewaktu masih wartawan di sebuah majalah hukum, dua tiga kali memang pernah ditugaskan ke sana, tapi sangat tergesa; setelah menemui narasumber di FH UGM, langsung balik ke Jakarta. Libur sekolah anak-anak tahun ini, sengaja kupilih Yogja sebagai tujuan wisata dengan cara mengendara. Selain untuk mengenalkan dunia Jawa pada mereka, juga ingin bernostalgia di Malioboro sekalian melirik UGM yang pernah menolakku secara tegas. Temanku itupun kuberitahu lewat sms. Rute perjalanan, kupilih dari selatan, masuk Yogja lewat Purworejo. Hari kedua di Yogja, kawan lamaku itu menemuiku di sebuah penginapan di wilayah Seturan dan kemudian meluncur ke Malioboro. Yogja sudah jauh berubah. Padat, penuh bangunan dan mal baru, juga sepeda motor. Kami parkir di halaman belakang sebuah hotel. Dimintanya lagi lagu Tongam itu kuputar. “Kita ngobrol di mobil saja ya, lae,” pintanya. “Tapi, kalau lae mau lihat-lihat suasana Malioboro, silakan. Kutunggu di sini.” “Lho, aku justru mau bernostalgia denganmu. Sebetulnya kemarin malam kami sudah ke sini bersama istri dan anak-anak.” Ia menggeleng. “Kita nongkrong di warung lesehan saja,” pintaku, “mengenang kebingungan kita dua puluh tujuh tahun lalu. Lae masih ingat, kan? Kita sampai menjual pakaian dan arloji untuk…” “Masih, masih ingat,” ucapnya tersenyum. Kelihatannya dia lebih senang duduk di mobil sambil mendengar nyanyian Tongam, dan hanya lagu Mengkel Nama Au itu. Kubiarkan. Aku pergi beli rokok dan es dawet di trotoar Malioboro. Sekembalinya ke mobil, aku heran. Kepalanya bersandar ke jok, pandangannya nanar, dan … airmatanya bercucuran. Aku tak enak hati. Sembari memegang dua gelas es dawet, berdiri di samping pintu mobil, kupandangi Malioboro yang ramai. Rasanya tak tega mengganggu tangisnya itu. Beberapa jenak kemudian, kusodorkan es dawet itu, juga sebungkus kretek, lalu duduk di sampingnya. Sengaja tak kutanya alasannya menangis, es dawetku saja kucicip dikit-dikit. Lagu Tongam itu kembali diulangnya dengan menekan tanda < cd-player. Di dalam benak lantas muncul sesal: kenapa tadi lagu itu kuperdengarkan. Ah, gara-gara si Tongam, “proyek” nostalgia dengan teman lamaku ini jadi terganggu. Mulut kami membisu. Kalau ada yang memperhatikan, pastilah disangka kami pasangan sejenis yang sedang merajuk karena persoalan cemburu. Tak kusadari perasaanku ikut mengayun. Sedih. Sentimentalis kali memang kami manusia Batak ini, kataku “mengecam” diri kami. Setelah menyeka airmata dan menyulut rokoknya, ia mulai bicara. Cara bertuturnya tak ubahnya wong Yogja asli, medok, walau menggunakan bahasa campur-campur: Batak, Indonesia, Jawa. Ia memuji-mujiku dengan mengatakan, “Wis sugih iso menulis novel lagi.” Spontan aku tertawa. “Sugih opo, Lae?” Banyak pujian ia sampaikan, kucoba meluruskan. “Penilaianmu tentang diriku tak seindah bayanganmu,” kataku diplomatis. “Memang, teman-teman, saudara-saudara, kerabat, selalu saja salah sangka.” “Percayalah Lae,” lanjutku tanpa maksud merendah, “yang kupunya tak seberapa dan memang tak berambisi macam-macam. Anak-anak bisa sekolah lebih baik dari bapak mereka, sehat-sehat semua, dan selama hidup kiranya bisa berkarya dan bermakna, lebih dari cukuplah...” Agaknya ia tak percaya, mungkin sudah terpengaruh publisitas dunia glamor kaum pengacara. Tak tahu bahwa profesi yang satu ini punya berbagai jenis dan “kasta”. Aku maklum. Tanpa kutanya, ia tuturkan alasannya menangis—setelah mendengar lagu Tongam itu. Kisahnya, begini. Tahun ketiga kuliah, pacarnya, mahasiswi asal Kediri yang juga kos di sekitar indekosannya, hamil tiga bulan. Sebelumnya, lewat surat, sudah pernah ia kuingatkan agar hati-hati bila pacaran, sebab ia pernah mengaku libido seksualnya kelewat tinggi dan selama di Yogja beberapa kali mengajak ke pantai Samas. Ia panik, walau akhirnya dinikahkan orangtua pacarnya di sebuah KUA tanpa sepengetahuan orangtuanya yang bermukim di pedesaan Dairi. Bulan demi bulan berlalu, uang kiriman orangtuanya tak mampu lagi menopang biaya rumahtangga sekaligus kuliahnya. Karena tak mampu membayar, akhirnya ia di-DO kampusnya saat putri pertamanya berusia empat bulan. Menjadi suami dan ayah dadakan, tanpa pekerjaan tetap, membuat dirinya pontang-panting cari uang. Ia kerja serabutan. “Cilakanya”, istrinya hamil lagi. Apa saja, asal bisa menghasilkan uang, dikerjakannya. Mengetik skripsi mahasiswa, calo tiket di stasiun Tugu, dan…, astaga! Jadi gigolo bagi perempuan-perempuan pemburu orgasme! Pengakuannya, pelanggannya tak pandang usia dan tampang. Bahkan, pemilik rumah sederhana yang disewanya, janda mendekati lansia, pun ikut diservisnya. Imbalannya: sewa rumahnya cukup dibayar setengah saja. Tak terhitungnya lagi sudah berapa banyak pelanggannya yang pernah di-tune-up onderdil vitalnya, demi uang. Aku berusaha tak tekejut-kejut ketika mendengar pengakuannya. Seorang mahasiswa UGM kenalannya, ternyata teman sepupunya di Jakarta, memberitahu bahwa ia sudah lama DO dan telah menikah dengan boru Jawa. Kabar tersebut, via surat, langsung disampaikan sang tulang pada orangtuanya. Ibunya syok, amat kecewa, mengurung diri, lalu sakit-sakitan, dan… tiga bulan kemudian meninggal dunia karena digerogoti kanker rahim ganas. Ia tak pulang menghadiri pemakaman bundanya, alasannya malu, merasa berdosa, tak siap dicibir orang-orang, selain tak ada ongkos pesawat Yogja-Jakarta-Medan yang kala itu terbilang mahal. Ia cukup menangisi kematian ibunya di jalan-jalan Yogjakarta yang sunyi. Airmatanya kembali menetes, aku hampir. Pekerjaannya tetap serabutan, termasuk memberi jasa-pelayanan syahwat pada perempuan manapun yang mem-book. Istrinya tak tahu, walau sudah curiga, karena ia sering dijemput pelanggan yang kebelet ke rumahnya. Di kalangan wanita gatal kota gudeg itu, namanya cukup kondang, dikenal dengan sebutan si “Buathak ber*** kuda”! Lagi-lagi istrinya melahirkan. Ketika usia anak ketiganya itu sekitar sembilan bulan, terjadilah peristiwa yang merontokkan biduk rumahtangganya. Seorang pelanggannya, bidan mendekati usia 50 yang suaminya kerap mengalami problema gagal landing, menyatroninya pada sebuah siang. Sang bidan rupanya tahu, istrinya tengah mudik ke Kediri menghadiri sunatan keponakan. Acara pertempuran dua kelamin di siang bolong itu pun digelar di ranjang yang semestinya hanya ia gunakan bersama istrinya. Ternyata ia tak cukup “profesional”. Sebab, lupa putri sulungnya (saat itu berumur lima tahunan), tengah bermain dengan anak tetangga dan pulang sejenak ke rumah karena haus. Ketika menuang air dari kendi, terdengar kupingnya suara-suara aneh dari kamar ibunya, lalu karena penasaran, mengintip lewat bolongan dinding papan kamar orangtuanya. Nona kecil itu terperanjat: ayahnya bergumul bugil dengan seorang bu’de! Sorenya, istrinya pulang dari Kediri. Putri sulungnya itu rupanya langsung menceritakan adegan “aneh” yang dilakoni bapaknya bersama bu bidan itu. Istrinya ngamuk, rumahnya gegeran. Kecurigaan istrinya sekian tahun, terbukti sudah. Malam itu pula diputuskannya hengkang, kembali ke Kediri bersama putri bungsunya. Dua tahun kemudian mereka cerai. Sejak itu ia tak pernah lagi bertemu mantan istrinya— kabarnya, jadi TKW (babysitter) di Hongkong dan sudah menikah. Ia tetap tinggal di Yogja bersama putri dan putranya yang kini sudah beranjak dewasa, tetap menduda. Anak gadisnya yang paling besar, sebentar lagi akan menikah, kini menjaga toko di sebuah mal baru di jalan Adisucipto. Putranya kerja di sebuah travel biro, sedang putri bungsunya ikut si mbah di Kediri. Ia mengaku amat rindu melongok kampung halaman, ayah dan saudara-saudaranya, yang sejak 1978 tak pernah dijumpainya. “Apakah pekerjaanmu sebagai lelaki pemuas masih terus?” tanyaku usai mendengar pengakuannya. “Soalnya, aku curiga melihat tubuhmu ini. Sepertinya terkuras…” Ia menggeleng. “Lae tahu kenapa aku tidak mau nongkrong di warung lesehan sana?” tanyanya sambil mengarahkan kepalanya ke arah Malioboro. “Bekas-bekas pelangganku sering datang ke situ, aku sudah tobat sejak lima tahun lalu.” Kini kegiatannya menyuplai kaos, batik, cinderamata, ke Bali. Sekali sebulan ia berangkat ke sana. “Masih tahap kecil-kecilan,” ujarnya datar, “barangnya kuambil dari pengrajin.” Mendekati tengah malam, kami tinggalkan Malioboro. Kutawarkan mengantar sampai ke rumahnya, kendati tak tahu di manakah persisnya. Ia menolak, alasannya, khawatir aku kesasar saat pulang. Kami lewati jalan-jalan yang sepi menuju Seturan. Nyanyian Tongam tak lagi kuputar, CD-nya saja kuserahkan. Biarlah ia menangis sendiri saat mendengar. Ia turun di depan Yogja International Hospital. Kami bersalaman, sesaat berpelukan. Tubuhnya yang dilapis kemeja gombrong, ternyata amat kurus. “Jangan sungkan-sungkan menghubungiku bila butuh,” ucapku sebelum meluncur. “Sampai kapan pun, Lae tetap salah satu kawan baikku.” Kami tak jumpa lagi karena aku sudah terlanjur berjanji pada anak-anak dan istri membawa mereka ke Solo dan Salatiga, juga untuk mengungkit kepingan-kepingan masa silam yang indah, meski sebagian getir.

1 comment for "Di Malioboro, Tangisnya Meluluhkan Aku by Suhunan Situmorang"