Bung Karno dan pengikut-pengikut palsu by Suhunan Situmorang




 Bung Karno dan Pengikut-pengikut Palsu


Boleh jadi, dialah putra Indonesia paling istimewa. Legenda yang belum tergantikan sampai memasuki milenia kedua. Lelaki yang pula digelari "putra sang fajar," "penyambung lidah rakyat," dsb.

Lahir di Surabaya 6 Juni 1901, orangtuanya memberi nama
Koesno Sosrodihardjo, namun kemudian ia menampilkan dirinya dengan nama Soekarno. Ayahnya seorang guru, lelaki Jawa asal Blitar yang pernah mengabdi di Bali masa kolonialisme, ibunya perempuan Bali.

Sejak belia telah beda dari manusia Indonesia umumnya. Usia belas tahun telah menyadari: negerinya harus dibebaskan dari kuasa penjajah.

***

Kecerdasannya melampaui kecerdasan kalangan Inlander (istilah kolonial pada masyarakat jajahan) umumnya. Seorang otodidak yang cepat menguasai berbagai bahasa di tengah keterbatasan guru dan buku, juga perlakuan diskriminatif pemerintah kolonial Belanda.

Ia pembaca "gila", pemikir yang visioner dan revolusioner. Menyukai ilmu-ilmu eksakta, ekonomi, sejarah, hingga humaniora. Selera seninya tinggi, piawai menulis dan melukis. Kagum sekali dia kebudayaan masyarakat Nusantara yang beraneka.

Obsesi dan cita-citanya dianggap tak lazim masa itu. Anak guru yang tak punya banyak uang namun sejak dini telah membangun mimpi: memerdekakan suku-suku penghuni Nusantara dari hegemoni Pemerintah Hindia Belanda, menjadi negara merdeka, dan kumpulan etnis itu dia sebut "Bangsa Indonesia."

***

Sejarah perjuangan dan kehidupannya tak cukup ditulis di sebuah buku tebal. Terlalu banyak sisi yang menarik disampaikan, termasuk keflamboyanannya sebagai pria yang mudah membuat wanita jatuh cinta.

Kisah cintanya berserak di mana-mana. Perempuan bersuami pun menginginkannya, dan ia memang seorang "womanizer" yang tiada tandingan.

***

Pemikiran dan ideologinya condong ke sosialisme, Tan Malaka (manusia ajaib dari Minangkabau, sila baca buku karangannya Madilog yang terbilang berat "dikunyah", atau buku-buku karya Harry A. Poeze mengenai lelaki misterius yang amat jenius namun mengalami nasib tragis karena dibunuh oleh bangsa yang diperjuangkannya karena dianggap berbahaya dengan ideologi "kiri"'-nya), disebut-sebut salah satu yang memengaruhi pemikiran dan garis politiknya.

Si Bung yang pintar dan tampan, saat kuliah di sekolah tinggi teknik buatan Belanda yang kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung, telah menciptakan sosok ideal untuk menyampaikan perjuangannya: Marhaen. Ini tokoh fiksi, petani Inlander yang mengilhami Soekarno muda membangun ideologi Marhaenisme.

Rakyat yang tertindas, petani yang hidup sahaja, memimpikan bisa berdaulat di negeri sendiri, tak dijajah bangsa asing.

Semangat Marhaenismelah yang diperjuangkan Soekarno sampai kemudian ia dipercaya menjadi pemimpin negara impiannya sejak usia belas tahun, Indonesia.

***

Soekarno terobsesi pula meredam hegemoni negara-negara Barat, maka ia jalin kontak dan kerjasama dengan pemimpin-pemimpin negara-negara Asia dan Afrika, lalu bersua dalam suatu kongres akbar di Bandung. Konferensi Asia Afrika, April 1955.

Itu suatu gebrakan politik internasional untuk mengimbangi kedigdayaan negara-negara Barat (terutama Amerika dan sekutunya). Barat pun dibuat tak nyaman, apalagi persaingan dan ketegangan dengan USSR (berpusat di Rusia) yang berhaluan Leninisme-Komunisme, tengah membara.

Negara-negara Barat sangat khawatir Komunisme menjalar ke negara-negara Asia dan Afrika, sementara Soekarno membenci imperialisme dan kapitalisme yang diasosiasikan dengan Barat.

Amerika dan Inggris (juga Belanda), tak happy melihat Soekarno. Ia dianggap seorang yang berbahaya, ancaman bagi hegemoni Barat yang bertabiat imperialis dan kapitalis.

Si Bung, dituduh pula antimodal asing, terutama ketika 1957-1959, dia perintahkan "nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing," khususnya eks perusahaan yang dimiliki orang Belanda. Belanda marah, Amerika dan Inggris jadi pengaduan andalan--karena dua negara ini pun ada niat bisnis besar di Indonesia, terutama minyak bumi dan tambang sumber daya alam yang melimpah.

Soekarno seolah tak sedikit pun merasa gentar menghadapi ancaman Barat. Ia terus menyampaikan doktrin-doktrin politik yang tidak saja jadi menimbulkan konflik dengan elite politik, militer, juga menggentarkan Barat.

***

Ia antimodal asing, tak butuh yang disebut investor. Slogan dan doktrin "Berdikari", "Tri Sakti," "Revolusi Belum Selesai," antara lain bagian dari retorikanya yang menggetarkan rakyat banyak.

Pula, pemimpin yang dipuja meski perekonomian negara masih merangkak dan banyak insan sengsara. Rakyat yang dia lambangkan Marhaenisme, menjadi andalannya.

Banyak yang tak suka (elite negara, militer, agamawan), apalagi ketika Si Bung memberi ruang bagi semua ideologi yang mengarah sosialis, termasuk Komunisme.

Kebijakan politiknya dengan akronim Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunisme) menuai pro kontra, dianggap memberi ruang besar bagi PKI yang saat itu salah satu parpol yang tak saja absah menurut hukum negara, juga kuat. (PKI ditengarai memiliki massa dan simpatisan 40 jutaan).

***

Bung Karno suka sosialisme dan perekonomian yang pro rakyat, walau tak mudah diimplementasikan. Imperialisme dan kapitalisme tegas-tegas dia tolak. Modal asing, dia haramkan. Berdiri di kaki sendiri (Berdikari), itulah yang dia inginkan.

"Negara dan bangsa harus berdaulat penuh di negeri sendiri!" Pidatonya di berbagai tempat. Pidato yang memukau massa dan seperti terbius.

***

Ia kemudian disingkirkan melalui tragedi politik terkelam dalam sejarah Indonesia modern yang sampai kini masih menyimpan sejumlah tanya (khususnya bagi yang berpikir kritis, yang tak begitu saja menelan bulat-bulat doktrin dan materi sejarah buatan Rezim Orde Baru). Peristiwa yang dikenal Pemberontakan G 30 S/PKI oleh Orde Baru, atau Gestok (Gerakan Satu Oktober) oleh Bung Karno.

Si Bung yang flamboyan, memukau puluhan juta pendukungnya, seorang yang revolusioner dan antiinvestor asing, diasingkan para penguasa "ad hoc" di suatu wisma yang diperlakukan bak penjara--hingga wafat karena sakit,
21 Juni 1970, saat umurnya 69 tahun.

***

Kini para penerus cita dan impiannya (pro rakyat dengan simbol Marhaen), setidaknya yang mengaku meneruskan ide dan cita sang proklamator, malah seperti menjauh dari ideologi Bung Karno. Malah mereka seperti barisan yang ikut memuja investor asing.

Tak ada bedanya dengan Rezim Orde Baru (yang sejak 1967 membuka pintu bagi modal asing) dan dilanjutkan rezim-rezim pemerintahan selanjutnya, dan Indonesia pun kian mengarah ke liberalisme perekonomian, pasar bebas, sementara inefisiensi dan praksis korupsi serta hegemoni kaum oligarki tak jua mengendur.

Kenapa tak jujur saja mengatakan pro liberalisme dan kapitalisme agar Bung Karno tak terlalu kecewa di "alam sana"?

Si Bung memang banyak diikuti pengikut-pengikut palsu. Untunglah saya tak ikut di antara mereka. Saya pengagumnya yang setia, walau dari pikiran kritis dan objektif, mengakui kelemahan atau ketidaksempurnaannya.

Dia adalah manusia paling penting di abad 20 yang pernah dilahirkan bumi Nusantara.

Salam merdeka! (Suhunan Situmorang, non partisan, warga biasa yang cinta Indonesia) ***

Post a Comment

Previous Post Next Post