Catatan Seputar Batak zaman dahulu



 Ini foto tortor para ibu Batak zaman dahulu. Tortor diiringi musik etnik "gondang & ogung sabangunan," dahulu hanya digelar saat upacara adat yg dianggap sakral dan serius ("marsintuhu").


Upacara "saurmartua" (seseorang yg mati dng status yg dianggap telah sempurna karena tak ada lagi putra atau putrinya melajang atau telah menikah atau "moppo" semua, layaklah dirayakan. Sebaliknya, bila masih ada putra atau putri yg "sisarion" atau belum mandiri dng membentuk keluarga sendiri, atau masih lajang, belum pantas dirayakan, karena itulah disebut "sari matua").

Sebelum dimasuki agama-agama Abrahamik (Kristen, Islam), tortor digelar pula dalam "horja bius" (upacara para pemimpin marga dan huta) untuk menyampaikan persembahan dan permohonan kepada Debata yg dipercaya dan para penguasa alam semesta.

Gondang juga digelar saat pembukaan "onan" (pasar), "huta" (kampung baru), dan setelah panen ("matumona", "horja gotilon"), untuk menyampaikan terimakasih pada penguasa alam semesta dan wilayah.

Alam sangat dihormati, tak boleh sembarang menebang pohon, pantang mengotori mata air, sungai, danau.


Tortor digelar dng gerakan tubuh yg baku, perempuan tidak lazim menggoyangkan pinggul, pandangan mata pun lebih sering menunduk. Tortor dan gondang sabangunan memang bukan sekadar tarian diiringi musik etnik, melainkan ekspresi jiwa.

Para wanita dan pria mengenakan ulos, berbagai motif dan nama, disesuaikan dng status seseorang (marital, anak sudah ada yg menikah, dsb) serta sifat horja (upacara).

Semua ulos hasil tenunan kaum perempuan, bahan ulos atau benang dan warna, seluruhnya dari tetumbuhan yg diolah dan tanpa bahan kimia--apalagi darah manusia sebagaimana dituding penganut sekte Kristen tertentu.

Mengerjakan satu helai ulos, zaman dulu, sungguh lama. Dibutuhkan pula ketekunan dan pemahaman yg kuat mengenai makna simbol dan motif masing-masing ulos.

Warna ulos zaman dulu hanya tiga yg dominan: hitam, putih, merah (juga marun dan kuning telor). Tak ada warna hijau, biru, keemasan macam tenunan songket.

Ada belasan jenis ulos, masing-masing punya nama dan penggunaan. Ulos yg lebih pendek pun ada, gunanya untuk selendang ("sengkasengka") dan penutup kepala ("talitali").

 

         BACA JUGA

 

 Sementara "gondang-ogung sabangunan", dahulu hanya dibolehkan untuk upacara "namarsintuhu," tidak dicampur dng instrumen musik seperti hasapi, garantung, sulim. Sarune-nya pun besar (sarune bolon), sementara jenis yg kecil (sarune etek) hanya untuk "gondang hasapi."


Kedua jenis gondang ini kini sering disebut "uninguningan". Gondang hasapi biasa dimainkan untuk horja terbatas, khusus bagi sekelompok orang, bukan untuk umum. Gaya tortor hampir sama walau dalam gondang hasapi lebih terbuka mengekspresikan gerakan tubuh dan dorongan jiwa, namun pakem tetap sama dng tortor diiringi gondang-ogung sabangunan.


Batak merupakan etnis yg mengenal banyak aturan, norma-norma adat-sosial, filosofi, lambang, dalam semua hal. Kebudayaan Batak amat kaya namun amat memantangkan bicara seks dan ketat sekali aturan saat interaksi antarindividu.

Dalam urusan kepemimpinan wilayah dan ketokohan seorang pemimpin pun, Batak masa lampau tak sembarang. Semua entitas klan/marga diakui power-nya, maka kepemimpinan kolektif menjadi pilihan, bernaung dalam "lembaga bius."

Maka, Batak yg menghuni seluruh wilayah Tano Batak, tak pernah mengenal kesultanan atau tunduk pada satu kerajaan. Dinasti Sisingamangaja I-XII, dihormati sebagai pemimpin spiritual yg sakti mandraguna, namun tidak berupa kesultanan atau kerajaan. Pemimpin Batak zaman dahulu hanya yg dianggap "namarsahala" (penuh wibawa yg berasal dari spiritualitas dan terlahir istimewa atau karena keturunan).

Entitas dan egosentrisme Batak amat kuat, dan bila tak kuat, menyingkir dari huta dan lingkungan klan/marga, mencari kampung baru.

Histori migrasi orang Batak ke berbagai wilayah di Sumatera bagian utara hingga kemudian banyak yg terputus dari dunia asal atau "Bonapasogit," tak lagi terikat dng tradisi dan aturan Batak, pun dilatari persaingan antar kelompok, selain semakin terbatasnya lahan untuk menyokong kehidupan...



2 Comments

Previous Post Next Post