Agar Nyani Pilu Tak Terdengar Sumbang by Suhunan Situmorang

DARI beberapa keunikan masyarakat Batak, bisa dibilang yang amat menonjol ialah, suka nyanyi. Hampir semua kesempatan dimanfaatkan orang Batak bernyanyi, tak soal apakah suara mereka merdu. Kedoyanan bernyanyi itu kian marak sesudah munculnya organ atau keyboard, instrumen musik pintar buatan orang Jepang yang murah-meriah karena cukup dimainkan satu pemain. Saya tak tahu persis faktor apa yang membuat umumnya orang Batak senang dan mampu nyanyi. Sangat mungkin bakat tersebut berasal dari tradisi mangandung (meratap) yang sudah melekat dalam diri manusia Batak masa lampau, terbukti dari banyaknya andung dan repertoar uning-uningan bernada ratap.


    Dengan beraninya saya pernah membuat pendapat—antara lain dalam novel SORDAM—bahwa sifat umumnya orang Batak itu kontradiktif atau paradoksal. Satu sisi terlihat keras dan lugas, di sisi lain melankolis atau sentimentil. Tak usah heran sebab leluhur orang Batak pun sudah terbiasa mengatakan: Indada tartangishon tumagonanma nitortorhon (kalau tak mampu lagi menangisinya, sebaiknya ditarikan saja). Tangis atau andung, nampaknya memang sudah merupakan hal yang melekat dalam diri orang Batak; dan ada semacam legitimasi atau pengakuan bahwa itu tak salah, bahkan dianjurkan. Dalam menghadapi kematian, misalnya, pihak yang berduka akan dituntut untuk mangandung—yang bila tak mau akan dianggap tak sungguh-sungguh berduka. Tapi, saya memang masih sering mereka-reka alasan atau faktor apa sesungguhnya yang membuat nenek-moyang orang Batak begitu intim dengan ratap atau andung.


    Mungkin karena getirnya kehidupan akibat tanah yang tak cukup subur dan terbatas meski dikitari alam yang keelokannya tiada tepermanai. Barangkali pula karena orang-orang dulu kerap merasa sunyi akibat menutup diri secara ketat dari dunia luar dan sengaja mengisolasi diri demi pemenuhan rasa aman. Kemiskinan, kesunyian, dan bayangan diserang orang lain (trauma ini kian kental akibat serangan pasukan Paderi yang diduga menewaskan ratusan ribu orang Batak), masih dugaan saya, yang membuat orang Batak begitu menghargai setiap jiwa (anak, sanak-saudara, kerabat, tetangga) walau jadi kelewat protektif. Akibatnya, dibanding etnis lain, orang Batak termasuk lambat membuka diri dan baru abad 20 mulai banyak yang keluar dari tanah asal.


    Di daerah perantauan pun orang Batak tetap mempertahankan ciri komunalismenya. Itu sebabnya di daerah-daerah perantauan macam Asahan, Deli Serdang, Labuhan Batu, atau Sorkam-Barus, terdapat kampung-kampung Batak dan meneruskan tradisi di Bonapasogit—kendati banyak pula yang menanggalkan dan kemudian secara total berakulturasi dengan budaya serta tradisi masyarakat setempat (Melayu, orang pesisir). Perantauan seseorang atau beberapa orang, bagi orang Batak, tidak dimaknai sekadar perpindahan ke daerah lain untuk mencari sumber kehidupan yang lebih baik. Juga perpisahan yang amat menyedihkan karena belum tentu akan bertemu lagi. Dan itu menjadi objek andung yang menyayat batin. Alasan kemiskinan, getirnya kehidupan, keinginan dan harapan untuk meraih ‘kemenangan’, pada akhirnya menjadi tema-tema andung yang dalam perkembangan lagu Batak kontemporer laku keras hingga terus dieksploitasi. 


    Orang-orang Batak di perantauan pun umumnya tetap romantik dan terikat pada masa lalu dan kehidupan semasa di kampung atau tano hatubuan. Bila pun tak diungkapkan, di bawah alam sadar mereka senantiasa membersit episode-episode kehidupan yang pedih meski menyisipkan keindahan tersendiri. Kenangan tersebut harus dilagukan untuk mencairkan bongkah-bongkah romantika, rindu dendam, dan pedihnya meninggalkan sanak-saudara serta kampung halaman.

    

    Keinginan atau kebiasaan semacam itu—mendendangkan kisah sedih perantauan—sesungguhnya manusiawi dan penting, setidaknya bisa menjadi perekat hubungan dengan leluhur-orangtua, sanak-saudara, dan huta. Juga bisa dijadikan semacam ‘pengingat’ agar tak lupa kacang pada kulitnya, hingga tak jadi lupa diri atau jumawa setelah berhasil menggapai predikat sukses. Dengan kata lain, alasan dan semangat perantau yang amat positif itu, kendati didendangkan dengan nuansa ratap, diharapkan menimbulkan perasaan bertanggungjawab untuk mengingat huta. Mengingat huta, idealnya tak sekadar nostalgia, namun juga melakukan perbuatan yang berdaya-guna bagi masyarakat yang mendiaminya. Bagaimanakah faktanya? Tak usah saya jawab, namun sesekali sempatkanlah mengunjungi Bonapasogit. Banyak kampung yang sudah hilang karena ditinggal warga, ratusan ruma bolon peninggalan leluhur dan ompung, melapuk dan rubuh. Sawah ladang tarulang (dipenuhi rumput dan semak) karena minimnya irigasi dan mahalnya harga pupuk, dan masih banyak warga yang ekonominya terpuruk. 

    Boleh saja kita berdalih: mereka bukan lagi keluarga dekat, atau ompung dan orangtua kita sudah lama meninggalkan Bonapasogit. Tapi, ketimbang uang kita dihambur-hambur atas nama hibur diri dan demi harga diri, kenapa tak kita sisihkan sedikit untuk saudara dan alam yang telah berjasa membesarkan leluhur, orangtua, atau diri kita? Apa salahnya bila paguyuban-paguyuban marga, selain rutin berpesta bona taon di perantauan untuk merekatkan perkerabatan, juga menyisihkan sebagian untuk membangun sesuatu yang berfaedah bagi kerabat di kampung asal marga? Come on, berbuatlah agar nyanyi pilu kita tak terdengar sumbang.


Oleh Suhunan Situmorang

Post a Comment

Previous Post Next Post